Survei Mahasiswa FKM UNAIR Ungkap Celah Pencegahan DBD di Permukiman Surabaya

Tim mahasiswa FKM UNAIR didampingi Kader Surabaya Hebat saat melakukan survei mengenai upaya pencegahan DBD di beberapa RT dan RW di Surabaya, Jumat (19/6/2026). (foto: Laura Navika Yamani untuk Cakrawarta)

SURABAYA, CAKRAWARTA.com – Survei lapangan yang dilakukan mahasiswa Peminatan Epidemiologi 2026 Fakultas Kesehatan Masyarakat (FKM) Universitas Airlangga (UNAIR) menemukan masih adanya celah dalam upaya pencegahan demam berdarah dengue (DBD) di kawasan permukiman Kota Surabaya. Meski sebagian besar warga telah memiliki pengetahuan yang baik mengenai DBD, praktik pencegahan di tingkat rumah tangga belum sepenuhnya berjalan optimal.

Temuan tersebut diperoleh dari kegiatan pengamatan jentik nyamuk yang dilaksanakan di Kelurahan Kalijudan, Kecamatan Mulyorejo, wilayah kerja Puskesmas Kalijudan. Kegiatan ini merupakan bagian dari mata kuliah Epidemiologi Penyakit Tropis yang dibimbing Laura Navika Yamani.

Dalam keterangannya saat dihubungi media ini, Minggu (28/6/2026), Laura -sapaan akrabnya- mengatakan bahwa dalam kegiatan survei yang dilaksanakan pada Jumat (19/6/2026) lalu itu, sebanyak delapan kelompok mahasiswa diterjunkan ke lapangan untuk memeriksa sedikitnya 10 rumah di masing-masing wilayah pengamatan. Survei dilakukan melalui wawancara menggunakan kuesioner Knowledge, Attitude, Practice (KAP) guna mengukur tingkat pengetahuan, sikap, dan perilaku masyarakat terhadap pencegahan DBD, serta observasi langsung terhadap berbagai tempat penampungan air yang berpotensi menjadi sarang jentik nyamuk.

Pemeriksaan mencakup bak mandi, ember, pot bunga, tempat minum hewan peliharaan, hingga berbagai wadah kecil yang dapat menampung air. Selama kegiatan berlangsung, mahasiswa didampingi Kader Surabaya Hebat (KSH) yang membantu menjangkau rumah-rumah warga sekaligus memfasilitasi proses survei.

“Hasil pengamatan menunjukkan adanya perbedaan kondisi antar wilayah. Dari delapan lokasi yang diperiksa, hanya RT 2 RW 4 dan RT 3 RW 5 yang berhasil mencapai Angka Bebas Jentik (ABJ) sebesar 100%, sehingga seluruh rumah yang diperiksa dinyatakan bebas dari jentik nyamuk,” ujar Laura.

Sebaliknya, lanjut wanita yang juga Sekretaris Lembaga Penyakit Tropis (LPT) UNAIR itu, sejumlah wilayah masih berada di bawah target nasional Angka Bebas Jentik sebesar 95% sebagaimana ditetapkan Kementerian Kesehatan. RT 1 RW 4 dan RT 4 RW 5, misalnya, hanya mencatat ABJ sebesar 80%, yang menunjukkan masih ditemukannya rumah dengan kontainer berisi jentik nyamuk.

“Survei juga mengungkap bahwa tingginya pengetahuan masyarakat belum selalu diikuti perilaku pencegahan yang memadai. Sebagian warga masih menempatkan fogging sebagai solusi utama dalam mengendalikan DBD, padahal pemberantasan sarang nyamuk (PSN) melalui gerakan 3M Plus merupakan langkah paling efektif untuk memutus siklus hidup nyamuk Aedes aegypti,” imbuh Laura.

Selain itu, lanjutnya, penggunaan larvasida atau abate masih belum dilakukan secara rutin. Kontainer berukuran kecil seperti vas bunga, tempat minum hewan peliharaan, talang air, maupun wadah bekas juga masih sering luput dari perhatian saat kegiatan membersihkan rumah. Kondisi tersebut berpotensi menjadi tempat berkembang biaknya nyamuk penyebab DBD.

Bagi mahasiswa, tambah Laura, kegiatan ini tidak sekadar menjadi bagian dari proses pembelajaran di ruang kuliah, tetapi juga pengalaman menerapkan metode epidemiologi secara langsung di tengah masyarakat. Melalui survei lapangan, mahasiswa belajar mengidentifikasi faktor risiko, menganalisis data, serta menyusun rekomendasi berbasis kondisi nyata di lapangan.

Tim mahasiswa FKM UNAIR saat menutup giat survei dengan seminar hasil di Puskesmas Kalijudan, Surabaya, Selasa (23/6/2026). (foto: Laura Navika Yamani untuk Cakrawarta)

Rangkaian kegiatan ditutup dengan seminar hasil di Puskesmas Kalijudan yang dihadiri dosen pembimbing, penanggung jawab program DBD Puskesmas Kalijudan, dan Kader Surabaya Hebat, Selasa (23/6/2026). Masing-masing kelompok memaparkan hasil pengamatan sekaligus mendiskusikan berbagai tantangan pengendalian DBD bersama tenaga kesehatan.

“Hasil survei ini diharapkan menjadi bahan masukan bagi Puskesmas Kalijudan dalam memperkuat program pemberantasan sarang nyamuk serta meningkatkan partisipasi masyarakat dalam menjaga kebersihan lingkungan. Temuan tersebut juga menunjukkan bahwa keberhasilan pengendalian DBD tidak hanya bergantung pada tingkat pengetahuan masyarakat, tetapi terutama pada konsistensi penerapan perilaku pencegahan dalam kehidupan sehari-hari,” pungkasnya.(*)

Kontributor: Tommy

Editor: Abdel Rafi