
SURABAYA, CAKRAWARTA.com – Publikasi ilmiah internasional kini bukan lagi pekerjaan yang dilakukan menjelang akhir masa studi doktoral. Program Studi S3 Ilmu Sosial Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Airlangga (UNAIR) mulai menerapkan strategi berbeda yakni dengan membangun artikel bereputasi internasional sejak awal perjalanan akademik mahasiswa.
Strategi tersebut terlihat dalam “Workshop Penulisan Naskah Ilmiah Berbasis Systematic Literature Review (SLR) untuk Publikasi Internasional” yang digelar di Ruang Adi Sukadana, Gedung A FISIP UNAIR, Jumat (12/6/2026). Kegiatan yang diwajibkan bagi mahasiswa aktif angkatan 2025 itu menghadirkan Dosen Fakultas Vokasi UNAIR, Nove Eka Variant Anna, MIMS., Ph.D., sebagai narasumber.
Berbeda dengan pelatihan penulisan ilmiah pada umumnya, workshop ini tidak langsung mengajarkan teknik menulis artikel. Para mahasiswa justru diminta datang dengan membawa topik penelitian dan research question masing-masing untuk diuji, dipertajam, dan dipraktikkan menjadi fondasi publikasi ilmiah yang berpeluang menembus jurnal bereputasi internasional.
Ketua Program Studi S3 Ilmu Sosial FISIP UNAIR, Prof. Siti Mas’udah, menegaskan bahwa kegiatan tersebut dirancang untuk menghasilkan luaran yang konkret.
“Saya berharap acara ini bisa menghasilkan output berupa publikasi sebagai syarat kelulusan,” ujarnya saat membuka acara workshop.
Harapan itu bukan tanpa alasan. Di banyak perguruan tinggi, publikasi internasional kini menjadi salah satu syarat utama penyelesaian studi doktoral. Namun, tidak sedikit mahasiswa yang baru memikirkan publikasi setelah penelitian hampir selesai.
Program Doktor Ilmu Sosial UNAIR mencoba membalik pola tersebut.
Melalui pendekatan SLR, mahasiswa diajak memahami bahwa publikasi ilmiah yang kuat tidak lahir dari banyaknya data semata, melainkan dari kemampuan menemukan kesenjangan pengetahuan (research gap), memetakan perkembangan kajian, serta menyusun sintesis ilmiah yang menawarkan perspektif baru. Materi workshop menekankan bahwa SLR merupakan proses sistematis untuk menemukan pola, tema, kontradiksi, dan peluang pengembangan teori yang dapat menjadi dasar artikel ilmiah berkualitas.
Suasana workshop berlangsung hidup sejak awal hingga akhir kegiatan. Diskusi berkembang dari berbagai topik riset yang dibawa peserta, mulai dari politik, komunikasi, kebijakan publik, hingga isu-isu sosial kontemporer.
Aminah, mahasiswi S3 Ilmu Sosial UNAIR yang juga dosen Program Studi Ilmu Politik Universitas Syiah Kuala, Banda Aceh, menilai bahwa pelatihan tersebut memberikan bekal penting untuk memperkuat kualitas penelitian doktoral.
“Sebagai mahasiswa S3, pelatihan ini membekali saya dengan keterampilan riset yang sistematis, transparan, dan replicable. Hal ini penting untuk memperkuat landasan teori dan mengidentifikasi research gap secara objektif dalam penyusunan disertasi dan menghasilkan artikel publikasi yang berkualitas,” katanya.
Menurut Aminah, pendekatan yang digunakan dalam workshop membantu mahasiswa memahami bagaimana sebuah artikel ilmiah dibangun secara metodologis, bukan sekadar ditulis berdasarkan intuisi peneliti.
Apresiasi juga datang dari Akhsaniyah, mahasiswi doktoral angkatan 2025 yang juga dosen Universitas Katolik Widya Mandala Surabaya. Ia menilai Program Studi S3 Ilmu Sosial telah memberikan dukungan nyata terhadap kebutuhan mahasiswa doktoral dalam menghadapi tuntutan publikasi.
“Sudah bagus Ilmu Sosial memfasilitasi semacam kuliah tambahan penunjang publikasi. Sangat penting bagi mahasiswa S3 yang wajib publikasi sebelum lulus. SLR juga merupakan metode yang cukup efektif dan menarik untuk bahan penulisan publikasi Q1 dan Q2,” ujarnya.
Sementara itu, dosen Ilmu Komunikasi UPN Veteran Jawa Timur, Syifa Syarifah Alamiyah, menilai bahwa nilai utama workshop justru terletak pada kombinasi antara teori dan praktik.
Menurutnya, peserta tidak hanya belajar mengenai prosedur teknis penyusunan SLR, tetapi juga memahami fondasi ilmiah yang menentukan kualitas sebuah artikel publikasi internasional.
“Workshop tadi tidak hanya sekadar berbicara teknis membuat SLR, tetapi juga memberikan fondasi untuk menghasilkan penelitian yang kuat, transparan, dan replicable. Setelah praktik langsung, saya jadi lebih memahami prosesnya,” katanya.
Meski demikian, ia berharap akan ada sesi lanjutan yang lebih fokus pada proses sintesis literatur hingga pendampingan penulisan artikel.
Harapan serupa disampaikan oleh Puspita Sukardani, dosen Ilmu Komunikasi Universitas Negeri Surabaya (Unesa). Menurutnya, pelatihan disusun secara bertahap dan mudah dipahami bahkan bagi peserta yang belum pernah menggunakan metode SLR.
“Pelatihannya cukup step by step dan langsung praktik. Tadi baru sampai tahap crawling data. Masih ada tahapan berikutnya seperti mengklasifikasi artikel sesuai research question sebelum akhirnya dikembangkan menjadi artikel SLR yang layak dipublikasikan di jurnal internasional,” ujarnya.
Workshop tersebut menjadi bagian dari upaya Program Doktor Ilmu Sosial UNAIR membangun budaya publikasi sejak awal masa studi. Mahasiswa tidak lagi didorong menunggu disertasi selesai untuk mulai menulis artikel, melainkan dilatih sejak dini untuk berpikir seperti peneliti yang siap memasuki percakapan akademik global.
Di tengah meningkatnya persaingan publikasi internasional, langkah ini dapat menjadi strategi baru yang relevan bagi pendidikan doktoral di Indonesia. Sebab, tantangan terbesar bukan sekadar menghasilkan penelitian, melainkan memastikan hasil penelitian tersebut mampu berbicara di panggung ilmiah dunia.(*)
Kontributor: Abdel Rafi
Editor: Umar Faruq








