
SURABAYA, CAKRAWARTA.com – Ashanty Hastuti menorehkan capaian akademik baru di usia 43 tahun. Penyanyi yang kini menyandang gelar doktor itu diwisuda bersama suaminya, Anang Hermansyah, dan putranya, Azriel Hermansyah, dalam Wisuda Periode 262 Universitas Airlangga (UNAIR), Sabtu (20/6/2026).
Ketiganya mengikuti prosesi wisuda di Airlangga Convention Center (ACC) Kampus MERR-C, Surabaya. Momen tersebut menjadi istimewa karena satu keluarga merayakan kelulusan dari jenjang pendidikan yang berbeda pada hari yang sama.
Ashanty meraih gelar doktor bidang Pengembangan Sumber Daya Manusia (PSDM) dengan indeks prestasi kumulatif (IPK) 3,94. Anang Hermansyah menyelesaikan studi Magister PSDM dengan IPK 3,96, sedangkan Azriel Hermansyah lulus dari Program Magister Ilmu Politik dengan IPK 3,57.
Dalam pidato perwakilan wisudawan, Ashanty mengatakan, wisuda bersama suami dan anaknya menjadi salah satu pengalaman paling berkesan dalam perjalanan hidupnya. “Bangga sekali bisa wisuda bersama. Ini momen bersejarah dan pengalaman pribadi yang tidak bisa terulang lagi,” ujar Ashanty.
Momen itu, menurut Ashanty, semakin bermakna karena Anang menunda jadwal wisudanya selama tiga bulan agar dapat mengikuti prosesi kelulusan bersama istri dan anaknya. “Mas Anang sampai mengundur wisuda selama tiga bulan agar bisa wisuda bersama anak dan istri,” katanya.
Bagi Ashanty, menyelesaikan pendidikan doktoral bukanlah proses yang mudah. Di tengah kesibukan sebagai ibu, istri, dan figur publik, ia harus membagi waktu untuk penelitian, penyusunan disertasi, serta berbagai tahapan akademik lainnya.
Ashanty mengaku beberapa kali berada pada titik ingin menyerah. Namun, perjalanan akademik itu justru membentuk ketahanan diri sekaligus mengajarkannya untuk tetap rendah hati.
“Berdiri di podium rasanya seperti mimpi yang terwujud melalui kerja keras yang panjang. Di usia 43 tahun, banyak rintangan dan perjuangan akademik yang tidak mudah,” ujar perempuan yang kini bergelar Dr. Ashanty Hastuti, S.Sos., M.M. tersebut.
Ia mengatakan, proses riset, sidang, hingga penyelesaian studi doktoral menjadi pengalaman yang memperkaya cara pandangnya terhadap pendidikan. “Berkali-kali ada momen ketika saya ingin menyerah. Namun, proses riset, sidang, dan perjalanan akademik mengajarkan saya tentang ketahanan diri dan kerendahan hati,” katanya.
Ashanty menegaskan bahwa pencapaian tersebut tidak terlepas dari dukungan keluarga. Ia menyebut suami, anak-anak, dan keluarga besar menjadi bagian penting dalam perjalanan menyelesaikan studi. “Saya bisa berdiri di sini karena dukungan suami, anak-anak, dan keluarga,” ujarnya.
Pendidikan sebagai Jalan Bertumbuh
Anang Hermansyah mengatakan bahwa pengalaman menempuh pendidikan di UNAIR memperkuat keyakinannya bahwa belajar tidak berhenti setelah seseorang memperoleh gelar akademik.
Setelah meraih gelar magister, Anang menyatakan keinginannya untuk melanjutkan studi doktoral di UNAIR. Ia menilai lingkungan akademik di kampus tersebut memberikan dukungan yang kuat bagi mahasiswa untuk berkembang.
“Lingkungan UNAIR mendukung saya dalam menuntut ilmu dan mencapai keinginan. Oleh sebab itu, saya bertekad melanjutkan studi S3 di kampus ini,” ujar Anang.
Menurut Anang, pendidikan tidak semata-mata tentang memperoleh ijazah atau gelar. Ilmu, kata dia, harus dapat diterjemahkan menjadi kontribusi nyata bagi masyarakat. “Yang penting bukan gelarnya, tetapi bagaimana kita bisa terus berkontribusi dan memberikan manfaat bagi orang lain. Pendidikan adalah proses untuk terus belajar dan bertumbuh,” katanya.
Keluarga Hermansyah menyebut suasana akademik yang suportif serta pendampingan para dosen menjadi alasan mereka memilih UNAIR sebagai tempat melanjutkan pendidikan.
Dalam rangkaian wisuda tersebut, Ashanty, Anang, dan Azriel juga memberikan penampilan khusus di hadapan para wisudawan dan tamu undangan. Penampilan itu menambah suasana hangat dalam Wisuda Periode 262 UNAIR.
Wisuda bersama itu bukan sekadar perayaan kelulusan bagi keluarga Hermansyah. Lebih dari itu, momen tersebut menjadi penanda bahwa pendidikan dapat ditempuh sebagai perjalanan keluarga, melalui kerja keras, saling menguatkan, dan kemauan untuk terus belajar.(*)
Kontributor: Maia Ch
Editor: Abdel Rafi








