
SURABAYA, CAKRAWARTA.com – Sampah yang selama ini kerap dianggap persoalan sepele ternyata menyimpan ancaman yang jauh lebih besar dari yang dibayangkan. Di balik tumpukan sampah yang terus bertambah setiap hari, partikel-partikel mikroplastik kini telah mencemari udara, air, hingga berbagai komponen lingkungan yang menjadi bagian dari kehidupan manusia.
Momentum Hari Lingkungan Hidup Sedunia 2026 yang mengusung tema Climate Action atau aksi iklim menjadi pengingat bahwa persoalan lingkungan tidak lagi dapat dipisahkan dari kehidupan sehari-hari. Ancaman tersebut bahkan hadir dalam bentuk yang tidak kasat mata.
Pakar lingkungan Universitas Airlangga, Nur Indradewi Oktavitri, menilai bahwa persoalan sampah harus menjadi perhatian serius seluruh elemen masyarakat karena dampaknya kini semakin luas dan kompleks.
Menurut dosen Fakultas Sains dan Teknologi (FST) UNAIR yang akrab disapa Nio itu, salah satu ancaman terbesar saat ini adalah pencemaran mikroplastik yang terus meningkat akibat buruknya pengelolaan sampah.
“Saat ini mikroplastik sudah banyak mencemari udara, air, dan berbagai komponen lingkungan lainnya. Jika kondisi ini terus dibiarkan, dampaknya tidak hanya merusak estetika lingkungan, tetapi juga mengancam keberlanjutan kehidupan manusia pada masa mendatang,” ujar Nio, Jumat (5/6/2026).
Ia menjelaskan, persoalan tersebut berakar pada masih rendahnya kesadaran masyarakat dalam mengelola sampah sejak dari sumbernya. Sampah yang tidak dipilah dan tidak diolah dengan baik pada akhirnya akan terurai menjadi partikel-partikel kecil yang sulit dikendalikan dan berpotensi mencemari lingkungan dalam jangka panjang.
“Kita sering melihat sampah hanya sebagai masalah kebersihan. Padahal dampaknya jauh lebih besar karena dapat bertransformasi menjadi pencemar yang menyebar ke mana-mana dan sulit ditangani,” katanya.
Selain persoalan sampah, Nio juga menyoroti tantangan lingkungan lain yang tidak kalah penting, yakni meningkatnya kebutuhan energi di tengah pertumbuhan jumlah penduduk yang terus bertambah.
Menurut dia, kondisi tersebut menuntut pengembangan sumber energi alternatif yang lebih ramah lingkungan, seperti pemanfaatan energi surya maupun pengolahan sampah menjadi bio-oil yang dapat dikonversi menjadi energi.
“Pertumbuhan penduduk selalu diikuti peningkatan kebutuhan energi. Karena itu, pengembangan energi alternatif harus terus didorong agar kebutuhan masa depan dapat terpenuhi tanpa memperbesar tekanan terhadap lingkungan,” ujarnya.
Di sisi lain, perubahan iklim yang semakin nyata juga menuntut langkah mitigasi dan adaptasi yang lebih serius. Cuaca yang semakin sulit diprediksi menjadi salah satu dampak yang kini dirasakan masyarakat.
“Perubahan iklim mungkin tidak bisa sepenuhnya dihindari. Namun dampaknya dapat ditekan melalui pengelolaan lingkungan yang lebih baik dan kemampuan beradaptasi terhadap perubahan yang terjadi,” kata Nio.
Lebih jauh, ia mengingatkan adanya ancaman lain yang masih jarang diperbincangkan di Indonesia, yakni mikropolutan. Zat pencemar berukuran sangat kecil tersebut berpotensi terakumulasi di lingkungan dan menimbulkan dampak jangka panjang apabila tidak mendapat perhatian sejak dini.
“Mikropolutan masih belum banyak dibahas di Indonesia. Padahal isu ini berpotensi menjadi tantangan lingkungan besar pada masa depan jika tidak diantisipasi dari sekarang,” ujarnya.
Meski demikian, Nio menekankan bahwa upaya menjaga lingkungan tidak selalu harus dimulai dari langkah besar. Perubahan dapat diawali dari tindakan sederhana seperti memilah sampah, mengurangi penggunaan plastik sekali pakai, menerapkan gaya hidup ramah lingkungan, hingga memanfaatkan media sosial untuk menyebarkan edukasi tentang pentingnya menjaga lingkungan.
Ia juga mendorong pemerintah untuk memberikan apresiasi kepada komunitas atau wilayah yang berhasil menciptakan lingkungan hijau dan berkelanjutan sebagai bentuk motivasi bagi masyarakat.
Menurut Nio, masa depan lingkungan sangat ditentukan oleh kebiasaan yang dibangun hari ini.
“Sering kali kita menganggap langkah kecil tidak berarti apa-apa. Padahal perubahan besar selalu dimulai dari tindakan sederhana yang dilakukan secara konsisten. Apa yang kita lakukan hari ini bisa menjadi warisan berharga bagi generasi mendatang,” tuturnya.
Peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia tahun ini menjadi pengingat bahwa ancaman lingkungan tidak selalu hadir dalam bentuk yang terlihat. Ketika mikroplastik telah masuk ke udara yang dihirup, air yang dikonsumsi, dan lingkungan tempat manusia hidup, maka tidak ada lagi alasan untuk menganggap remeh persoalan sampah. Sebab, sampah yang diabaikan hari ini bisa menjadi krisis yang diwariskan kepada generasi esok.(*)
Kontributor: Maia Ch
Editor: Abdel Rafi








