Jembatan Garuda Dibangun, Dusun Plosorejo yang Kian Sepi Menaruh Harapan untuk Bangkit Kembali

Danrem 081/DSJ Kolonel Arm Untoro Hariyanto saat meninjau langsung rencana lokasi pembangunan Jembatan Garuda di Dusun Plosorejo, Desa Tawangrejo, Kecamatan Gemarang, Kabupaten Madiun, Jumat (5/6/2026). (foto: Arwang)

MADIUN, CAKRAWARTA.com – Dusun Plosorejo di Desa Tawangrejo, Kecamatan Gemarang, Kabupaten Madiun, perlahan kehilangan banyak penghuninya dalam beberapa tahun terakhir. Keterbatasan akses transportasi membuat sebagian warga memilih meninggalkan kampung halaman mereka. Kini, pembangunan Jembatan Garuda di wilayah tersebut menghadirkan harapan baru agar dusun yang mulai sepi itu kembali hidup dan berkembang.

Harapan itu mengemuka saat Komandan Korem 081/DSJ Kolonel Arm Untoro Hariyanto meninjau lokasi pembangunan jembatan gantung Program Jembatan Garuda Tahap V di Dusun Plosorejo, Jumat (5/6/2026).

Jembatan sepanjang 30 meter dan lebar 1,5 meter itu akan menghubungkan Kecamatan Gemarang dengan Kecamatan Kare. Kehadirannya diharapkan menjadi solusi atas keterisolasian warga sekaligus membuka akses yang selama ini menjadi kendala utama mobilitas masyarakat.

“Jembatan yang kita bangun ini menghubungkan Kecamatan Gemarang dengan Kecamatan Kare,” ujar Untoro di sela peninjauan.

Menurut dia, pembangunan jembatan tersebut diproyeksikan memberi manfaat bagi sedikitnya 268 kepala keluarga atau sekitar 1.800 jiwa. Karena itu, pekerjaan yang dimulai hari ini diharapkan dapat berjalan sesuai jadwal sehingga manfaatnya segera dirasakan masyarakat.

“Kami berharap pembangunan dapat selesai tepat waktu agar segera bisa dimanfaatkan warga dan memberikan dampak terhadap peningkatan kesejahteraan masyarakat,” katanya.

Bagi warga Dusun Plosorejo, jembatan itu bukan sekadar sarana penghubung. Infrastruktur tersebut juga menjadi simbol harapan untuk menghidupkan kembali kawasan yang selama ini menghadapi keterbatasan akses.

Kepala Desa Tawangrejo, Sutriyono, mengatakan, kondisi geografis dan sulitnya akses transportasi membuat Dusun Plosorejo perlahan ditinggalkan sebagian penduduknya.

“Dulu warga yang tinggal di sini cukup banyak dan kawasan ini relatif ramai. Namun seiring waktu, banyak yang memilih pindah karena berbagai keterbatasan akses,” ujarnya.

Karena itu, ia menilai pembangunan Jembatan Garuda dapat menjadi titik balik bagi perkembangan wilayah tersebut. Dengan konektivitas yang lebih baik, peluang ekonomi dan aktivitas sosial masyarakat diyakini akan kembali tumbuh.

“Saya berharap dengan adanya jembatan ini, Dusun Plosorejo bisa kembali berkembang dan ramai seperti dulu,” katanya.

Sutriyono menjelaskan, selama ini warga harus menghadapi berbagai kesulitan untuk menjalankan aktivitas sehari-hari. Anak-anak yang bersekolah di SDN Tawangrejo 05, petani yang menuju lahan pertanian, hingga warga yang berbelanja ke Pasar Desa Cermo, Kecamatan Kare, harus melewati jalur yang tidak selalu mudah dilalui.

Pada musim kemarau, warga terbiasa menyeberangi sungai untuk mempersingkat perjalanan. Namun ketika musim hujan tiba dan debit air meningkat, jalur tersebut tidak lagi dapat digunakan.

“Kalau musim kemarau, warga sudah terbiasa menyeberangi sungai. Tetapi saat musim hujan atau sungai meluap, mereka terpaksa memutar melalui jalur lain yang jaraknya lebih dari empat kilometer,” tutur Sutriyono.

Keberadaan jembatan baru itu diharapkan tidak hanya memangkas waktu tempuh, tetapi juga memperlancar akses pendidikan, memperkuat aktivitas ekonomi warga, serta membuka peluang pengembangan kawasan di wilayah perbatasan Kecamatan Gemarang dan Kare.

Program Jembatan Garuda sendiri merupakan salah satu program strategis nasional yang dilaksanakan TNI Angkatan Darat untuk memperkuat konektivitas antardaerah, terutama di kawasan yang selama ini menghadapi keterbatasan akses infrastruktur. Melalui pembangunan jembatan tersebut, pemerintah berharap mobilitas masyarakat meningkat dan pertumbuhan ekonomi lokal dapat terdorong lebih cepat.

Bagi warga Plosorejo, jembatan itu mungkin hanya sepanjang 30 meter. Namun bagi sebuah dusun yang perlahan ditinggalkan penghuninya, bentangan pendek tersebut menjadi jalan menuju harapan baru.(*)

Kontributor: Arwang

Editor: Abdel Rafi