Potensi Laut dan Kelapa Dinilai Bisa Menjadi Pengungkit Ekonomi Flores Timur

Bupati Flores Timur Ir. Anton Doni Dihen (tengah, berjas hitam) didampingi Rahman Sabon Nama, bersama keluarga besar masyarakat Lamaholot Adonara dalam suatu acara di Jakarta.(foto: dokumen RSN)

FLORES TIMUR, CAKRAWARTA.com – Potensi perikanan dan pertanian dinilai dapat menjadi pengungkit baru perekonomian Kabupaten Flores Timur, Nusa Tenggara Timur. Transformasi ekonomi berbasis sumber daya lokal diperlukan untuk memperluas sumber pendapatan daerah sekaligus meningkatkan kesejahteraan masyarakat pesisir dan petani.

Ketua Umum Asosiasi Pedagang dan Tani Tanaman Pangan dan Hortikultura Indonesia (APT2PHI) Rahman Sabon Nama menilai, langkah Pemerintah Kabupaten Flores Timur mengembangkan sektor perikanan dan pertanian melalui badan usaha milik daerah (BUMD) perlu mendapat dukungan pemerintah pusat.

Menurut Rahman, Flores Timur memiliki sumber daya alam yang selama ini belum sepenuhnya diolah menjadi produk bernilai tambah. Potensi tersebut antara lain berasal dari hasil laut serta perkebunan kelapa rakyat yang tersebar di sejumlah wilayah.

“Transformasi ekonomi berbasis sumber daya lokal merupakan langkah yang perlu didukung. Perikanan dan pertanian dapat menjadi sumber pendapatan daerah sekaligus membuka ruang ekonomi bagi masyarakat,” kata Rahman dalam keterangannya pada media ini, Sabtu (11/7/2026).

Ia menyebut gagasan Bupati Flores Timur Anton Doni Dihen untuk mendorong pengembangan sektor perikanan dan pertanian melalui BUMD dapat menjadi salah satu jalan memperkuat perekonomian daerah.

Langkah itu dinilai semakin penting di tengah terbatasnya kemampuan fiskal pemerintah daerah. Karena itu, peningkatan pendapatan asli daerah perlu diarahkan pada sektor-sektor produktif yang memiliki basis sumber daya dan melibatkan masyarakat setempat.

Sagu dan Ironi Potensi Perikanan

Dalam kunjungannya ke Sagu, Kecamatan Adonara Barat, Flores Timur, pada Kamis (25/6/2026), Rahman menyoroti kondisi kawasan pesisir yang pernah memiliki posisi penting dalam sejarah Pulau Adonara.

Menurut dia, Sagu pernah menjadi salah satu pusat kehidupan ekonomi masyarakat Adonara. Namun, aktivitas ekonomi di wilayah itu kini dinilai belum berkembang sebanding dengan potensi perikanan yang tersedia.

Perairan di sekitar wilayah tersebut, kata Rahman, memiliki beragam hasil laut. Salah satu komoditas yang dinilai potensial dikembangkan adalah ikan teri.

Namun, kehidupan masyarakat pesisir masih menghadapi persoalan biaya operasional. Rahman mengungkapkan, nelayan mengeluhkan mahalnya harga bahan bakar minyak yang diperoleh secara eceran.

Kondisi tersebut, menurut dia, berdampak langsung terhadap biaya melaut dan pendapatan nelayan.

“Daerah ini memiliki potensi ikan yang besar. Ironis apabila nelayan justru sulit berkembang karena biaya operasional tinggi dan fasilitas pendukung belum memadai,” ujarnya.

Rahman mendorong pemerintah pusat dan daerah memperkuat infrastruktur ekonomi masyarakat pesisir. Dukungan tersebut antara lain dapat dilakukan melalui penyediaan sarana perikanan, kapal dan alat tangkap, serta penataan kawasan permukiman nelayan.

Ia secara khusus mengusulkan pengembangan kampung nelayan di Desa Sagu, Kecamatan Adonara Barat; Dusun Meko, Kecamatan Witihama, Pulau Adonara; serta Lamakera di Pulau Solor.

Rahman juga berharap pemerintah meninjau persoalan distribusi dan harga BBM di Nusa Tenggara Timur. Menurut dia, akses energi dengan harga terjangkau menjadi faktor penting dalam mengembangkan ekonomi masyarakat kepulauan dan pesisir.

Hilirisasi Kelapa

Selain sektor perikanan, perkebunan kelapa dinilai dapat menjadi basis industri baru di Flores Timur.

Pulau Adonara selama ini dikenal sebagai salah satu wilayah perkebunan kelapa rakyat. Komoditas tersebut menjadi sumber penghidupan bagi banyak keluarga.

Kota Sagu sebagai pusat Kerajaan Adonara/Sunda Kecil terlihat dari udara, Kamis (25/6/2026). (foto: dokumen RSN)

Rahman mengatakan, nilai ekonomi kelapa dapat meningkat apabila pengelolaannya tidak berhenti pada penjualan bahan mentah.

Daging kelapa, misalnya, dapat diolah menjadi minyak kelapa, santan, tepung kelapa, dan keripik kelapa. Air kelapa dapat dikembangkan menjadi minuman olahan ataupun nata de coco.

Sementara itu, tempurung dan sabut kelapa dapat dimanfaatkan untuk berbagai produk industri dan kerajinan. Batang, daun, serta lidi kelapa juga memiliki nilai ekonomi apabila masuk dalam rantai pengolahan yang terintegrasi.

“Kelapa memiliki rantai produk yang sangat panjang. Persoalannya adalah bagaimana membangun industri pengolahan sehingga nilai tambahnya tetap berada di daerah dan dinikmati masyarakat,” kata Rahman.

Menurut dia, hilirisasi kelapa terpadu dapat membuka lapangan kerja sekaligus memperkuat posisi petani dalam rantai ekonomi komoditas.

APT2PHI bersama Perkumpulan Dunia Kerajaan Nusantara (PDKN), lanjut Rahman, menyatakan dukungan terhadap upaya Pemerintah Kabupaten Flores Timur mengembangkan industri berbasis perikanan dan pertanian.

Ia berharap pemerintah pusat memberikan dukungan lintas kementerian terhadap program tersebut. Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral dinilai memiliki peran dalam memastikan ketersediaan energi, sedangkan Kementerian Pertanian dan Kementerian Kelautan dan Perikanan dapat memperkuat sektor produksi serta hilirisasi.

Dorong Pelestarian Kedaton Adonara

Selain persoalan ekonomi, Rahman menyoroti kondisi bekas Kedaton Kerajaan Adonara di kawasan Sagu. Bangunan bersejarah itu disebut kini menyisakan puing-puing.

Rahman meminta Kementerian Kebudayaan memberi perhatian terhadap pelestarian kawasan tersebut dan mengkaji kemungkinan pengembangannya sebagai bagian dari kawasan budaya.

Kondidi makam Raja Arkian Kamba Raja Kerajaan Adonara yang tidak terawat di samping puing-puing bekas Kedaton, Kamis (25/6/2026). (foto: dokumen RSN)

Menurut dia, jejak sejarah Adonara penting dirawat bukan semata-mata untuk membangkitkan romantisme masa lalu.

“Sejarah bukan sekadar kebanggaan masa silam. Jejak sejarah dapat menjadi cermin bagi generasi sekarang untuk melihat perjalanan masyarakat dan menentukan langkah ke depan,” ujarnya.

Rahman juga menggagas pendirian lembaga pendidikan teknologi perikanan dan maritim di Sagu. Lembaga tersebut diharapkan dapat menjadi pusat pengembangan sumber daya manusia di bidang kelautan untuk kawasan Indonesia timur.

Menurut dia, kebangkitan ekonomi Flores Timur membutuhkan keterhubungan antara sumber daya alam, industri pengolahan, pendidikan, dan pelestarian sejarah lokal.

Potensi laut dan perkebunan, kata Rahman, tidak cukup hanya dicatat sebagai kekayaan daerah. Potensi itu harus diolah menjadi kegiatan ekonomi yang memberikan nilai tambah dan memperbaiki kehidupan masyarakat.

“Flores Timur memiliki laut dan pertanian yang kuat. Tantangannya sekarang adalah mengubah potensi itu menjadi kekuatan ekonomi yang benar-benar dirasakan masyarakat,” kata Rahman.(*)

Kontributor: Tommy

Editor: Abdel Rafi