Farid Makruf Soroti “Upeti” Perizinan Kerapan Sapi, Dorong Tradisi Madura Jadi Mesin Ekonomi Dunia

Dewan Pembina ASPRIM, Mayjen TNI Dr. Farid Makruf, MA (kanan) bersama Ketum Pakar Sakera, H. Moh. Tohir saat menonton kerapan sapi dalam rangka Perayaan 45 Tahun Gagak Rimang Tim di Arena Kerapan Sapi  Pamekasan, Sabtu (2/5/2026) siang. (foto: dokumen pribadi)

PAMEKASAN, CAKRAWARTA.com – Perayaan 45 tahun Gagak Rimang Tim di Arena Kerapan Sapi Pamekasan, Sabtu (2/5/2026), tidak hanya menjadi panggung adu cepat puluhan pasang sapi. Di balik gemuruh sorak penonton, muncul kritik tajam sekaligus gagasan strategis dari Dewan Pembina Asosiasi Pariwisata Madura (ASPRIM), Mayjen TNI Dr. Farid Makruf, M.A., yang menyoroti tata kelola tradisi tersebut agar berdampak nyata bagi ekonomi daerah.

Di hadapan ratusan peserta dan penonton, Farid menegaskan bahwa kerapan sapi tidak boleh berhenti sebagai tontonan budaya semata. Ia harus didorong menjadi kekuatan ekonomi baru yang terkelola secara modern dan bebas dari praktik-praktik lama yang menghambat.

“Dinas kebudayaan daerah ke depan bisa fokus menyusun naskah kebijakan yang kuat, agar pelestarian kerapan sapi berdampak pada ekonomi. Ini bisa menjadi pintu masuk pengembangan sumber daya manusia dan sumber daya alam, sekaligus menghidupkan UMKM di Madura,” ujar Farid.

Namun, ia juga menyinggung persoalan mendasar yang masih terjadi di lapangan. Farid mengaku “geregetan” dengan praktik perizinan yang dinilainya belum transparan.

“Jujur saja, saya geregetan melihat masih ada praktik ‘upeti’ dalam perizinan. Ini harus jadi evaluasi bersama. Kalau ingin besar, kita harus berbenah dari hulu ke hilir,” kata dia.

Menurut Farid, potensi kerapan sapi sebagai magnet wisata budaya sangat besar, tetapi belum dikelola secara optimal. Ia mendorong kolaborasi lintas sektor, mulai dari pemerintah daerah, pelaku budaya, hingga komunitas ekonomi kreatif, agar tradisi tersebut mampu menembus pasar internasional.

“Kalau semua bergerak bersama, saya yakin kerapan sapi tidak hanya dikenal di Madura atau Indonesia, tetapi juga di dunia internasional,” ucapnya.

Perayaan ulang tahun ke-45 Gagak Rimang Tim sendiri berlangsung meriah dengan diikuti 64 pasang sapi. Tim legendaris asal Socah, Bangkalan itu memilih Pamekasan sebagai lokasi perayaan dengan semangat merangkul seluruh wilayah Madura.

Penonton nampak berdiri di pinggir arena menyaksikan aksi salah satu peserta Kerapan Sapi dalam rangka Perayaan 45 Tahun Gagak Rimang Tim di Arena Kerapan Sapi  Pamekasan, Sabtu (2/5/2026) siang. (foto: Farid M/Cakrawarta)

Ketua Umum Paguyuban Kerapan Sapi Se-Madura (Pakar Sakera), H. Moh. Tohir, menyebut kepercayaan aparat keamanan menjadi alasan utama pemilihan lokasi tersebut.

“Kami memilih Pamekasan karena di sini tokoh-tokoh kerapan diberi kepercayaan untuk ikut menjaga keamanan. Ini penting agar tradisi tetap berjalan tertib dan bermartabat,” ujar Tohir.

Ia menegaskan, kerapan sapi bukan sekadar perlombaan, melainkan identitas budaya yang harus terus dijaga. Selama 45 tahun, Gagak Rimang Tim disebut tidak pernah absen dalam setiap musim kerapan, sekaligus mencatat prestasi, termasuk empat kali menjuarai Piala Presiden.

Perayaan ini juga memperebutkan hadiah dua unit mobil untuk juara utama, serta sejumlah sepeda motor di berbagai kelas. Namun bagi para peserta, kehormatan dan kebanggaan tetap menjadi tujuan utama.

Di tengah upaya menjaga tradisi, gagasan Farid Makruf memberi arah baru yaitu menjadikan kerapan sapi bukan hanya simbol budaya, tetapi juga motor penggerak ekonomi Madura yang mampu bersaing di tingkat global. Semoga.(*)

Kontributor: Ifa L

Editor: Abdel Rafi