
JAKARTA, CAKRAWARTA.com – Tim bulu tangkis putra Indonesia dipaksa menelan salah satu kekalahan paling menyakitkan dalam sejarah setelah dipermalukan Prancis dengan skor telak 1-4 pada laga penentuan fase grup Piala Thomas 2026 yang berlangsung di di Forum Horsens, Horsens, Denmark sejak 24 April 2026 lalu hingga 3 Mei 2026 mendatang.
Kekalahan ini memastikan langkah Indonesia terhenti di fase grup. Ini menjadi sebuah catatan kelam yang belum pernah terjadi sebelumnya dalam sejarah keikutsertaan Merah Putih di ajang beregu paling bergengsi tersebut.
Sejak partai pertama, tekanan sudah terasa. Jonatan Christie harus mengakui keunggulan Christo Popov lewat dua gim langsung 19-21, 14-21.
Situasi kian memburuk ketika Alwi Farhan tak mampu membendung Alex Lanier dan kalah 16-21, 19-21, membuat Indonesia tertinggal 0-2.
Harapan sempat muncul di partai ketiga. Anthony Sinisuka Ginting memberikan perlawanan sengit melawan Toma Junior Popov. Namun, setelah pertarungan tiga gim yang dramatis (22-20, 15-21, 20-22), Ginting akhirnya tumbang, sekaligus memastikan kemenangan Prancis menjadi 3-0.
Di sektor ganda, pasangan Sabar Karyaman Gutama/Mohammad Reza Pahlevi Isfahani juga gagal menyumbang poin setelah kalah 19-21, 19-21 dari duet Prancis.
Indonesia hanya mampu merebut satu poin hiburan melalui pasangan Fajar Alfian/Muhammad Shohibul Fikri yang menang rubber game atas pasangan Popov bersaudara dengan skor 21-18, 19-21, 21-11.
Namun satu kemenangan itu tak cukup untuk menyelamatkan wajah Indonesia.
Secara keseluruhan, hasil ini membuat Indonesia mencatatkan rekor terburuk di grup. Sebelumnya, Indonesia memang sempat menang tipis 3-2 atas Thailand, sementara Thailand menghajar Prancis 4-1. Namun kekalahan telak dari Prancis membuat Indonesia kalah selisih poin dan tersingkir.
Ironisnya, Indonesia adalah pemegang rekor juara terbanyak Piala Thomas dengan 14 gelar, melampaui China. Kini, kejayaan itu seolah memudar tanpa jejak.
Peta kekuatan dunia pun telah berubah drastis. China, Korea Selatan, dan Jepang mendominasi level teratas. Sementara negara-negara seperti Thailand, Malaysia, Prancis, dan Denmark tampil lebih konsisten. Indonesia justru tertinggal di belakang.
Rentetan hasil buruk ini mempertegas krisis yang sedang melanda bulu tangkis nasional. Di Asian Games 2026, Indonesia bahkan gagal meraih medali. Di turnamen level elite, gelar juara semakin langka.
Sorotan kini mengarah ke PBSI sebagai penanggung jawab utama pembinaan. Kepemimpinan Ketua Umum Fadhil Imran dinilai belum mampu mengangkat performa tim.
Sementara itu, Wakil Ketua Umum Taufik Hidayat juga dinilai belum menunjukkan efektivitas dalam manajemen organisasi, meski memiliki rekam jejak gemilang sebagai atlet.
Kegagalan ini bukan sekadar hasil pertandingan, melainkan alarm keras bagi masa depan bulu tangkis Indonesia. Tanpa pembenahan menyeluruh dan kepemimpinan yang solid, Indonesia terancam semakin jauh dari panggung elite dunia.(*)
Kontributor: Arif S.
Editor: Abdel Rafi








