
SURABAYA, CAKRAWARTA.com – Menjelang Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama yang dijadwalkan berlangsung pada 1-5 Agustus 2026, dinamika bursa calon ketua umum mulai menghangat. Sejumlah nama kandidat bermunculan dengan beragam pendekatan, dari yang bergerak senyap hingga yang aktif menjalin komunikasi dengan para kiai sepuh, pengurus wilayah, dan cabang.
Di tengah dinamika tersebut, muncul tuntutan agar pemimpin NU ke depan tidak hanya memenuhi syarat formal sebagai kader organisasi, tetapi juga memiliki kapasitas menyatukan beragam generasi yang hidup dalam lanskap sosial dan kultural yang kian kompleks.
Tokoh senior NU Jawa Timur, Sudarsono Rahman, menilai kebutuhan akan figur pemimpin lintas generasi menjadi semakin mendesak. Menurut dia, struktur sosial NU saat ini tidak lagi homogen, melainkan terdiri atas lapisan generasi dengan karakter, bahasa, dan kebutuhan yang berbeda.
“NU membutuhkan komunikator yang mampu menjangkau tiga generasi sekaligus. Ini bukan sekadar soal kepemimpinan organisatoris, tetapi juga kemampuan membangun jembatan komunikasi,” ujar Sudarsono, yang juga pernah menjabat Ketua PW Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) Jawa Timur periode 1988-1992.
Pria humoris yang akrab disapa Cak Dar itu menjelaskan lapisan pertama adalah kalangan kiai sepuh dan komunitas pesantren yang menjadi penjaga tradisi keilmuan. Pada kelompok ini, seorang pemimpin dituntut memahami adab, menjaga sanad keilmuan, serta merujuk pada khazanah kitab klasik tanpa mengurangi wibawa ulama.
Lapisan kedua adalah generasi Y dan milenial NU yang tersebar di badan otonom, lingkungan pesantren, perguruan tinggi, hingga sektor profesional. Kelompok ini membutuhkan kepemimpinan yang adaptif terhadap manajemen modern, berbasis data, serta memiliki visi ekonomi umat yang terukur.
Adapun lapisan ketiga adalah generasi Z dan alpha yang tumbuh dalam ekosistem digital, mulai dari media sosial hingga perkembangan artificial intelligence atau akal imitasi (AI). Sudarsono mengingatkan, jika dakwah NU tidak menjangkau generasi ini, maka berpotensi terjadi jarak kultural yang semakin lebar.
“Idealnya, pemimpin NU hari ini mampu mengajar ngaji dan memimpin bahtsul masail, kemudian berdiskusi dengan mahasiswa tentang inovasi dan ekonomi digital, serta di waktu lain mampu menjelaskan fikih AI melalui konten yang mudah dipahami,” katanya.
Menurut pria yang juga merupakan Wakil Ketua Umum DPP Barikade Gus Dur itu, kemampuan menjembatani tiga lapisan tersebut memang tidak ringan. Namun, kompleksitas itu mencerminkan besarnya organisasi NU yang menaungi beragam latar belakang sosial.
“Kalau tiga generasi ini bisa disatukan, NU akan semakin kokoh dari bawah hingga ke atas. Di situlah tantangan sekaligus peluang bagi kepemimpinan NU ke depan,” tegasnya mengakhiri keterangan.(*)
Kontributor: Tommy
Editor: Abdel Rafi








