
“Seseorang tidak dapat terus-menerus begitu asyik merenungkan kekosongan tanpa semakin tertarik padanya… Ketika seseorang merasakan kenikmatan seperti itu dalam ketiadaan, kecenderungannya hanya dapat sepenuhnya dipuaskan dengan sepenuhnya berhenti eksis.” — Émile Durkheim (1858-1917), Le Suicide: Étude de sociologie (1897).
Yukio Mishima adalah sebuah nama yang tak pernah lekang dari ingatan dunia sastra.
Lahir pada 14 Januari 1925, ia menutup hidupnya dengan seppuku pada 25 November 1970, sebuah kematian yang dirancang sebagai panggung terakhir dari drama hidupnya.
Henry Scott Stokes, sahabat sekaligus jurnalis Inggris, menuliskan potret tragis itu dalam The Life and Death of Yukio Mishima (1975).
Di sana Mishima tampil sebagai sosok gemilang sekaligus gelisah.
Pun, seorang novelis, dramawan, aktor, dan komentator politik yang menjadikan tubuh, kehormatan, dan kematian sebagai obsesi.
Karya-karyanya, seperti Confessions of a Mask dan tetralogi The Sea of Fertility, menyingkap kegelisahan eksistensial dan kerinduan pada tradisi yang kian tergerus modernisasi Jepang.
Satu karyanya, terjemahan Asrul Sani, Kuil Kencana (Kinkakuji) pada 1978 (Pustaka Jaya), meski tokohnya memilih bunuh diri dengan membakar kuil pemujaan ritualnya, diapresiasi oleh Romo Yusuf Briyalta Mangunwijaya sebagai mahakarya yang mengandung tarekat spiritualitas tinggi dalam antologi esai sastra terbaik, Sastra dan Religiositas (Sinar Harapan 1982).
Namun di balik pencapaian sastra, Mishima memelihara bayangan samurai, sebuah kode kehormatan yang ia anggap lebih luhur daripada kehidupan yang sekadar berlanjut.
Stokes menggambarkan hari terakhirnya sebagai sebuah teater yang memadukan seni dan politik.
Mishima bersama pasukan kecil Tatenokai menduduki markas militer di Ichigaya, menyerukan kembalinya kekuasaan Kaisar.
Pidatonya ditertawakan, dan di tengah ejekan publik kontemporer Jepang itu, ia memilih tradisi seppuku di depan markas militer Ichikagai, sebilah samurai pendek ditancapkan ke perutnya dan merobek secara horisontal kedalaman usus perutnya, sebuah kematian yang mengejutkan dunia.
Tragedi Mishima bukan sekadar bunuh diri, melainkan pertunjukan terakhir yang menyatukan estetika, politik, dan mitologi pribadi.
Yasunari Kawabata, peraih Nobel Sastra 1968, sahabat sekaligus sesama sastrawan, pernah berkata bahwa penulis sekelas Mishima hanya lahir sekali dalam dua atau tiga abad.
Kisah Mishima adalah tragedi yang memperlihatkan benturan antara modernitas dan tradisi, antara tubuh dan ideologi, antara fiksi dan kenyataan.
Ia menjadikan hidupnya sebagai karya seni, dan kematiannya sebagai klimaks dari seni itu sendiri.
Namun Mishima bukanlah satu-satunya.
Di panggung sejarah sastra dunia, ada jejak yang tidak hanya ditinggalkan oleh kata-kata, tetapi juga oleh luka yang tak tersembuhkan, bunuh diri!
Osamu Dazai, dengan No Longer Human, menulis “I am a failure as a human being,” sebelum akhirnya menutup hidup menenggelamkan diri di Sungai Tamagawa.
Demikian pula, Ryunosuke Akutagawa, maestro cerita pendek Jepang, menulis dalam surat terakhirnya, “My life is a burning anxiety,” sebelum overdosis barbiturat menjadi jalan keluar.
Dari kalangan perintis fiksi perempuan dalam A Room of One’s Own, Virginia Woolf, dengan kepekaan yang melampaui zamannya, berjalan ke Sungai Ouse dengan kantong batu di saku, meninggalkan dunia yang tak lagi mampu menampung gelombang pikirannya.
Bahkan Ernest Hemingway, pemenang Nobel 1954, yang gagah di medan perang, akhirnya tak mampu melawan perang yang berkecamuk di dalam dirinya dan senapan di rumahnya menjadi bunyi letupan pilihan akhir hidupnya.
Sylvia Plath, kelahiran Boston Amerika pada 1932 dan pencetus puisi konfesi, dengan kejujuran yang menyayat dalam The Bell Jar, memilih gas di dapur rumah sebagai jawaban terakhir.
Dari Jerman, Stefan Zweig, pengelana Eropa yang kehilangan tanah airnya akibat Nazi, menulis dalam The World of Yesterday, “I was born in a world of security, and I die in a world of complete destruction,” sebelum memilih tidur panjang bersama istrinya di Brasil.
Dan dari negeri para mullah, Iran, Sadegh Hedayat, dengan mahakarya metaforik, Blind Owl, mengunci rapat apartemennya di Perancis dengan menghidupkan gas untuk dihirup sampai mati.
Sama seperti Mishima, karya Hedayat dibaca Romo Mangun untuk menabalkan genre “sastra religionum.“
Walhasil, tren tragedi bunuh diri mereka memiliki pola yang sama yakni depresi, trauma perang, keterasingan sosial, dan krisis eksistensial.
Namun, yang membuat kisah ini begitu mengguncang adalah bagaimana penderitaan itu meresap ke dalam karya-karya mereka dan sangat menginspirasi imajinasi publik pembaca.
Setidaknya, ada dua karya sastra tragedi yaitu Goethe dengan Die Leiden des Jungen Werther (Penderitaan Pemuda Werther) dan Norwegian Wood (Noruwei no Mori) dari Haruki Murakami yang sempat dikaitkan dengan meningkatnya percakapan tentang bunuh diri karena tokoh-tokohnya bergulat dengan depresi, kehilangan, dan kematian.
Dengan kata lain, banyak dari tulisan mereka bersifat semi autobiografis, seakan setiap halaman adalah pengakuan, setiap kalimat adalah luka yang terbuka.
Meski hidup mereka berakhir tragis, warisan sastra yang ditinggalkan tetap abadi.
Kata-kata mereka menjadi saksi bisu tentang pergulatan batin manusia, tentang keindahan yang lahir dari penderitaan, dan tentang bagaimana sastra bisa menjadi jembatan antara kehidupan dan kematian.
Dalam tragedi itu, kita menemukan bukan hanya kesedihan, tetapi juga keagungan bahwa bahkan di ambang kehancuran, manusia masih mampu menciptakan keindahan yang tak lekang oleh waktu.
Untuk mencerna sedikit lebih akademis, salah satu buku berikut sedikit mengulas analisis tema bunuh diri para sastrawan kontemporer.
The Contemporary Writer and Their Suicide (2023) yang diedit oleh Josefa Ros Velasco, merupakan sebuah kumpulan kajian mutakhir yang menyoroti fenomena bunuh diri di kalangan sastrawan dunia, baik dari tradisi Barat maupun Timur.
Buku ini menghadirkan perspektif lintas disiplin mulai dari sastra, filsafat, psikologi, hingga studi budaya, untuk memahami bagaimana keinginan mengakhiri hidup sering kali tersirat dalam karya-karya para penulis, dan bagaimana hal itu menjadi bagian dari narasi kreatif mereka.
Isi buku ini menyingkap bahwa bunuh diri bukan hanya tragedi personal, melainkan juga sebuah motif literer yang berulang.
Para kontributor menunjukkan bagaimana teks sastra sering kali memuat tanda-tanda keputusasaan, keterasingan, dan krisis eksistensial yang kemudian menemukan puncaknya dalam tindakan bunuh diri sang penulis.
Dalam salah satu esai, kutipan berikut mencerminkan motif hasrat bunuh diri di kalangan sastrawan, “The desire for death is not always a cry for silence, but sometimes the ultimate form of expression.”
Kutipan ini menandai bahwa bagi sebagian penulis, bunuh diri dipandang sebagai perpanjangan dari karya mereka, sebuah klimaks tragis yang menyatukan hidup dan tulisan.
Buku ini pun menyoroti kasus-kasus seperti Virginia Woolf, Sylvia Plath, Ryunosuke Akutagawa, dan Yukio Mishima, dengan membandingkan bagaimana budaya Barat melihat bunuh diri sebagai ekspresi depresi dan krisis identitas.
Sementara itu, budaya Jepang kerap menempatkannya dalam kerangka kehormatan, estetika, atau keterasingan sosial. Karena itu, ada kalimat dalam ungkapan Mishima, 自殺は美しい(Jisatsu wa utsukushi) yang artinya Sucide is Beautiful.
Dengan gaya akademis yang tetap reflektif, The Contemporary Writer and Their Suicide menjadi rujukan penting bagi siapa pun yang ingin memahami keterkaitan antara sastra, penderitaan batin, dan keputusan tragis untuk mengakhiri hidup, sekaligus mengingatkan bahwa di balik keindahan kata-kata, ada luka yang tak selalu bisa disembuhkan.(*)
#coversongs: Lagu “Glitter Pen Sucide Note“ dari penyanyi muda asal Australia, Emilv Ross (20), dirilis secara independen melalui kanal musik digital(Spotify, Genius, TikTok, dsb.) sekitar pertengahan 2020-an. Lagu ini menggunakan metafora “glitter pen” sebagai simbol kontras antara sesuatu yang indah, berkilau, dan penuh warna dengan isi catatan bunuh diri yang tragis.
REINER EMYOT OINTOE
Fiksiwan








