
WikiTubia dan CNI recommendation: Heinrich Böll “Wanderer, kommst du nach Spa. ” Erzählungen Classics Newly Illustrated)
“Jika perang berlanjut dua tahun lagi, itu tidak hanya akan menghancurkan jutaan nyawa, tetapi juga fondasi budaya Eropa itu sendiri.” — Hermann Hesse (1877-1962), Krieg und Frieden. O Freunde, nicht diese Töne! (1914)
Seorang tentara muda yang terluka parah dalam Perang Dunia II.
Ia dibawa dengan tandu melewati sebuah bangunan yang perlahan dikenalnya sebagai sekolah lamanya, tempat ia dahulu menimba ilmu, namun kini telah berubah menjadi rumah sakit darurat militer.
Dalam keadaan setengah sadar, ia merasakan ironi yang pahit dimana ruang-ruang yang dulu penuh dengan kenangan masa muda dan pendidikan kini dipenuhi dengan penderitaan dan tubuh-tubuh yang hancur oleh perang.
Saat tandu digerakkan melewati koridor, ingatan masa lalu bercampur dengan kenyataan getir yang dihadapinya.
Puncak pengalaman itu terjadi ketika ia dibawa ke ruang seni.
Di papan tulis, matanya menangkap tulisan yang pernah ia goreskan sendiri, “Wanderer, kommst du nach Spa…”, sebuah epigram Yunani kuno yang memuliakan prajurit Sparta yang gugur di Thermopylae.
Demikian cuplikan ringkas cerpen Heinrich Böll (1917-1985), peraih Nobel 1972, dalam antologi cerpen berjudul Wanderer, kommst du nach Spa…: Erzählungen (1950).
Selengkapnya sebagai berikut, “Wanderer, kommst du nach Sparta, verkünde dort, du habest uns hier liegen gesehen, wie das Gesetz es befahl.” yang berarti, “Wahai pengembara, ketika kau datang ke Sparta, beritahu mereka bahwa kau melihat kami berbaring di sini, seperti yang diperintahkan hukum.”
Dalam tradisi klasik, kalimat itu melambangkan kehormatan heroik, tetapi di sini, di tengah luka dan kehancuran, epigram tersebut berubah menjadi simbol ironi.
Ia bukanlah pahlawan yang mati demi kejayaan, melainkan korban perang yang kehilangan masa depan di ruang sekolah (Zeichensaal) yang seharusnya menumbuhkan nilai-nilai kemanusiaan.
Cerpen ini mencerminkan sikap kritis Böll terhadap perang, menolak glorifikasi heroisme klasik, dan menegaskan bahwa perang modern lebih banyak melahirkan penderitaan daripada kebesaran.
Selain seorang pasifis, biografi singkat Böll memperlihatkan seorang penulis yang lahir dari reruntuhan perang.
Ia menulis dengan kesadaran moral yang tajam, dan meninggalkan warisan sastra yang terus mengingatkan pembaca akan harga kemanusiaan yang hilang ketika perang dijadikan jalan hidup.
Lain hal, jika kritikus menganalisis genre sastra perang. Tentu saja, ini bukan analisis kritik sastra yang lazim.
Ibarat para analis kekejaman perang seperti dipentaskan Amerika dan Trump maupun Israel dan Netanyahu melawan Iran semata dewasa ini.
Dalam membaca perang melalui lensa kritik sastra, kita diajak untuk memahami bahwa konflik bukan hanya peristiwa geopolitik, melainkan konstruksi naratif yang membentuk cara kita menulis dan menafsirkan dunia.
Anders Engberg-Pedersen (46), Profesor Sastra Perbandingan di University of Southern Denmark, Direktur Nordic Humanities Center.
Dalam War and Literary Studies (2023) menekankan bahwa “perang membentuk bidang kajian sastra serta bagaimana konsep-konsep modern digunakan untuk memahami karya sastra perang.”
Pernyataan ini membuka ruang analisis bahwa perang Amerika di Irak dan Afghanistan, ketegangan Israel dengan Iran bersama sekutunya, serta kini Amerika Israel lawan Iran, tidak sekadar fakta sejarah, melainkan struktur yang menata bahasa, trauma, dan ideologi dalam teks sastra maupun media.
Bahasa perang yang meresap ke dalam budaya populer memperlihatkan bagaimana istilah militer menjadi bagian dari narasi sehari-hari, sementara trauma veteran muncul sebagai tema dominan dalam karya sastra kontemporer.
Representasi gender pun tidak bisa dilepaskan, karena perempuan sering ditampilkan sebagai korban atau simbol moralitas, memperlihatkan bagaimana perang membentuk identitas dan peran sosial.
Dalam konteks Amerila, Israel dan Iran, narasi perang berfungsi sebagai arena ideologis, di mana dominasi militer dan resistensi politik dibingkai melalui teks yang menyoroti kolonialisme, perlawanan, dan legitimasi.
Engberg-Pedersen menegaskan bahwa teori-teori besar abad ke-20, seperti teori kritis dan postkolonial, “dibentuk oleh pengalaman perang.”
Hal ini relevan ketika kita membaca bagaimana perang Amerika sering dikritik sebagai ekspresi kapitalisme global.
Bahkan bagaimana konflik Israel-Iran dipandang sebagai bagian dari revolusi ideologis dan perebutan pengaruh regional.
Dengan menimbang konsep baru seperti revolusi, kapitalisme, dan Anthropocene, kritik sastra mutakhir memperlihatkan bahwa perang tidak hanya menghancurkan tubuh dan wilayah, tetapi juga membentuk teori budaya yang menyeberangi batas disiplin.
Dengan demikian, hal ini menunjukkan bahwa perang harus dipahami sebagai fenomena yang hidup dalam teks, bukan hanya dalam laporan militer.
Kritik lain dari Hermann Hesse, peraih Nobel Sastra 1946 yang berbunyi, “Singkirkan berhala-berhala palsu nasionalisme dan militerisme yang telah membawa negara kita ke jurang kehancuran.” (Kembalinya Zarathustra, 1919).
Atau, “Thou shalt not kill.” dalam edisi berbahasa Inggris berjudul If the War Goes On… Reflections on War and Politics (Inggris, 1971).
Walhasil, membaca perang melalui sastra, kita menangkap bagaimana trauma, bahasa, dan ideologi membentuk narasi yang terus berkelindan dalam imajinasi kolektif.
Dan tentu, menjadikan perang bukan sekadar pertempuran fisik, melainkan cermin dari pergulatan moral, politik, dan budaya yang membentuk dunia modern.(*)
#coversongs: Album “Wanderer“ karya Mogli (32) dirilis pada 5 Mei 2017, dan Mogli, nama asli Selima Taibi, adalah penyanyi-penulis lagu asal Jerman. Album ini menjadi soundtrack dari film dokumenter Expedition Happiness yang menceritakan perjalanan Mogli dengan bus sekolah yang diubah menjadi rumah keliling.
REINER EMYOT OINTOE (ReO)
Fiksiwan



