Sunday, February 15, 2026
spot_img
HomeSosial BudayaSastraEkoteologi Bagi Pemula

Ekoteologi Bagi Pemula

(foto: diambil dari video kampanye Amelia Tungka buang sampah di MTs Negeri 1 Manado di Facebook dan diubah ke dalam sketsa oleh AI)

“Tradisi keagamaan mengingatkan kita bahwa lingkungan bukan sekadar sumber daya, melainkan amanah yang sakral.“ — Susan Power Bratton (77), on ‘Religion and the Environment: An Introduction’ (2021)

Ekoteologi bagi pemula dapat dipahami sebagai kesadaran bahwa alam bukan sekadar sumber daya, melainkan ruang sakral yang harus dijaga.

Kasus merebaknya limbah sampah di Kota Manado menunjukkan betapa rendahnya budaya masyarakat dalam memperlakukan sampah.

Minimnya fasilitas hanyalah satu sisi; yang lebih mendasar adalah sikap abai terhadap lingkungan.

Bencana sampah, meski sering dianggap sepele, sesungguhnya lebih berbahaya dibanding bencana alam lain karena ia menggerogoti metabolisme alam (metabolic disorder) secara perlahan, sebagaimana diingatkan Vandana Shiva (73) bahwa eksploitasi berlebihan ibarat makan berlebih yang menghancurkan lambung.

Gerakan sederhana Amelia Tungka di MTs Negeri 1 Manado (Jumat, 13/2/26), membagikan tong sampah dan mengajarkan cara memilah sampah, adalah langkah awal pendidikan ekoteologi.

Ia menekankan kebiasaan baik sejak dini dengan mengurangi plastik sekali pakai, menggunakan kembali wadah makan dan minum, serta memilah sampah agar bisa didaur ulang.

Seruannya, “Jadilah Solusi Bukan Polusi” adalah etika ekoteologi yang konkret, mengajarkan bahwa menjaga bumi adalah tanggung jawab generasi sekarang demi anak cucu.

Dalam perspektif filsafat agama, ekoteologi adalah upaya menempatkan alam sebagai bagian dari kehidupan religius.

Karen Armstrong (81) menyebutnya sebagai sacred nature, alam yang sakral. Di Indonesia, Prof. Dr. Nasaruddin Umar (66), Imam Besar Masjid Istiqlal sekaligus, kini sebagai Menteri Agama, telah memprakarsai gerakan ekoteologi melalui kampanye ecogreen di masjid.

Kementerian Agama bahkan menerbitkan panduan ekoteologi, sementara Paramadina Center for Religion and Philosophy (PCRP), Univerditas Paramadina Jakarta, mengembangkan literasi ekoteologi Islam lewat webinar mingguan pada Kader Pemikir Islam Indonesia (KPII) yang diampu Dr. Budhy Munawar Rachman (63), Direktur PCRP dan Dosen STF Driyarkara.

Gagasan ini sejalan dengan ulasan dalam buku The Concept of Environment in Judaism, Christianity and Islam (2023), dieditori Christoph Böttigheimer dan Wenzel Maximilian Widenka.

Keduanya masih aktif sebagai akademisi teologi di Jerman, menekankan bahwa tradisi Abrahamik memiliki fondasi kuat untuk memandang alam sebagai ciptaan yang harus dijaga.

Ekoteologi, dalam pandangan mereka, adalah jembatan antara iman dan tanggung jawab ekologis.

Relevansi ekoteologi bagi pemula juga tampak dalam buku Al Mizan: Perjanjian untuk Bumi, terjemahan yang diterbitkan Universitas Nasional Indonesia bersama Muslim Council of Elders.

Buku ini menekankan perjanjian moral umat manusia untuk menjaga bumi sebagai amanah.

Bagi siswa-siswi madrasah, pesan ini sederhana namun mendalam bahwa bumi bukan milik kita semata, melainkan titipan yang harus diwariskan dalam keadaan bersih bahkan sakral.

Dengan demikian, ekoteologi bagi pemula adalah pendidikan etika lingkungan yang menanamkan kesadaran bahwa sampah bukan sekadar masalah teknis, melainkan persoalan moral dan spiritual.

Gerakan Amelia Tungka di Manado menjadi contoh nyata bahwa ekoteologi bisa dimulai dari langkah kecil, namun memiliki dampak besar dalam membentuk generasi yang sadar akan bumi sebagai ruang sakral.

#coverlagu: Lagu “Jiwaku Sekuntum Bunga Kemboja” ciptaan dan dinyanyikan oleh Panji Sakti (49) pertama kali dirilis sekitar tahun 2016 sebagai soundtrack sinetron Kemboja di Hati yang ditayangkan TV Al-Hijrah, Malaysia.

Setelah itu, lagu ini baru masuk ke berbagai platform digital. Versi rilisan digital resmi tercatat pada 3 April 2022 di album Tanpa Aku.

REINER EMYOT OINTOE (ReO)

Fiksiwan

RELATED ARTICLES

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -spot_img

Berita Terbaru

Most Popular