Tuesday, January 20, 2026
spot_img
HomeGagasanKolomSaya Malu Membaca di Ruang Publik

Saya Malu Membaca di Ruang Publik

Mungkin ini sebuah ironi kecil. Ketika saya mendapati sebuah hasil penelitian tentang investigasi kemampuan membaca mahasiswa pada perguruan tinggi swasta. Bahwa kemampuan mahasiswa dalam menganalisis makna tersirat tergolong rendah. Bahkan kemampuan mahasiswa dalam mengidentifikasi tema utama dan detail pendukung bacaan masih belum optimal. Dan mahasiswa belum memiliki kebiasaan membaca yang baik, aktivitas membacanya kurang dari 60 menit per hari (Journal of Education Research, 2024).

Saya hanya sedikit bertanya. Jadi kalau mahasiswa membaca kurang dari 60 menit per hari, dari mana bahan obrolannya di kafe-kafe atau di tempat tongkrongan? Entahlah, mungkin harus diteliti kembali soal bahan obrolan mahasiswa. Bisa jadi di era serba digital sekarang, membaca bagi mahasiswa hanya kebetulan, bukan lagi kewajiban. Saat ketemu buku yang tanpa disengaja, akhirnya mahasiswa membaca. Membaca, memang masih jadi “pekerjaan rumah” perguruan tinggi dan dunia literasi.

Suatu sore, saya sedang membaca di pinggir jalan di Kota Semarang. Lalu, saya berpikir. Apa sudah sebegitu ekstrem aktivitas membaca ditinggalkan mahasiswa. Sementara orang banyak tahunya mahasiswa rajin membaca dan dianggap kaum intelektual? Tapi bila durasi atau waktu membacanya kurang dari 60 menit sehari, pengetahuan dan wawasan yang ideal seperti bisa kita harapkan? Maaf beribu maaf, mungkin realitas ini patut menjadi renungan. Betapa mahasiswa mulai jauh dari bacaan, mulai mengabaikan akan pentingnya membaca buku?

Sementara bila kita terbang sejenak ke Kota Leiden, Belanda. Membaca sangat berakar kuat, masyarakatnya sangat menghargai buku dan selalu dijadikan pusat intelektual yang hidup. Mahasiswa di Leiden rajin membaca untuk memperdalam sejarah, studi humaniora, dan ilmu sosial. Budaya akademik sangat kental, akses bacaan dibuka lebar. Perpustakaan benar-benar dijadikan pusat aktivitas. Membaca di ruang publik sudah jadi pemandangan biasa. Orang-orang membaca di kafe atau di tepi kanal, sangat menikmati hidup dengan membaca. Tradisi membaca di Leiden memberi kesan perpaduan kecintaan pada buku, sejarah yang mendalam, dan atmosfer akademik yang santai namun intens.

Sementara di kota kita, di mana pun, mungkin membaca buku di ruang publik justru terasa aneh. Membaca di pinggir jalan jadi tidak lazim, bahkan bisa diduga stres. Sebab tradisi membaca tidak lagi hidup di negeri ini. Kita sering lupa, membaca itu cara terbaik untuk memperluas pengetahuan dan wawasan. Maka dalam literasi, modal utama yang harus dibangun adalah kegemaran membaca di mana pun. Tapi hingga hari ini, mungkin kita agak malu untuk berani membaca di ruang publik.

Riset menunjukkan minat baca mahasiswa Indonesia masih rendah dan tingkat literasi pemahaman perlu ditingkatkan. Sebabnya bukan karena pengaruh gawai atau kesibukan. Tapi kita tidak mampu membiasakan membaca, tidak mau menyediakan waktu khusus untuk membaca, bahkan tidak berani membaca di ruang publik. Dan semua itu, akan lebih baik dimulai dari mahasiswa sebagai insan akademik. Kita sering menyalahkan kurikulum, kurangnya inovasi pembelajaran atau kurangnya lingkungan kampus yang ramah literasi. Tapi sejatinya, masalahnya ada pada diri kita sendiri dan motivasi internal yang bermasalah. Kita sudah tidak sadar akan pentingnya membaca.

Suka tidak suka, mahasiswa hari ini dihadapkan pada masalah literasi yang tidak sepele. Tingkat kemampuan membaca pemahaman tergolong rendah, durasi membaca setiap hari sangat singkat (bila tidak mau dibilang tidak pernah), kurangnya kesadaran membaca tapi tetap percaya diri. Jadi, sangat pantas disebut ada masalah dengan persoalan membaca mahasiswa di Indonesia. Motivasi intrinsiknya bermasalah, dan terlebih lagi akibat gandrung gaya hidup nongkrong, gawai, dan aktif di media sosial yang membuat malas membaca hal-hal yang non praktis.

Penting dipahami, membaca bukanlah sekadar melafalkan tulisan. Melainkan sebuah proses kognitif yang bertujuan untuk memahami, memaknai, dan menginterpretasikan informasi dari teks bacaan. Siapapun yang membaca ada proses membangun makna tentang apa pun. Proses penting untuk memahami teks dan realitas kehidupan. Saking kompleksnya, membaca melibatkan berbagai kemampuan, termasuk pengamatan, ingatan, pemahaman, dan imajinasi. Dari membaca, kita memberi ruang untuk berpikir dengan jernih tanpa perlu diceramahi orang lain. Untuk bisa mengerti, bisa paham dan melakukannya dengan baik.

Sangat salah bila mahasiswa beranggapan membaca hanya untuk memperoleh informasi. Sebab membaca berarti memahami dan mau merefleksi diri. Membaca untuk pemahaman sekaligus interpretasi atas makna dan realitas kehidupan. Akan lebih baik bila mahasiswa menjadikan buku sebagai bahan obrolan di kafe-kafe atau di tempat tongkrongan. Agar membaca bisa menjadi lebih produktif, lebih bermakna. Tidak melulu soal mendapat pekerjaan atau meraih cita-cita. Tentu, bila mahasiswa berkenan. Salam literasi!

SYARIFUDDIN YUNUS

Dosen PBSI Unindra dan Pegiat Literasi

RELATED ARTICLES

Warning’ Dua OTT

Barakah di Cupertino

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -spot_img

Berita Terbaru

Most Popular