Wednesday, January 28, 2026
spot_img

Ekologi Sastra

(foto: diambil dari Youtube yang membahas The Old Man & The Sea dan Moby Dick serta dibikin dalam bentuk mozaik)

Dari jantung neraka aku menusukmu; demi kebencian aku meludahkan napas terakhirku padamu. Tenggelamkan semua peti mati dan semua kereta jenazah ke dalam satu kolam! Dan berikan padaku, wahai paus putih!” demikian kutukan Kapten Ahab dalam Moby-Dick (1851) dari Herman Melville (1819–1891).

Kelahiran pemikiran ekologi sastra, di antaranya, dapat ditelusuri melalui gagasan Hubert Zapf (77), dalam Cultural and Literary Ecology (2025).

Zapf, Profesor Emeritus bidang Amerikanistik dan Environmental Humanities di Universitas Augsburg, Jerman, dikenal luas sebagai salah satu tokoh utama dalam kajian ecocriticism dan cultural ecology.

Ia masih aktif menulis, memberi kuliah tamu, dan menjadi pembicara kunci di konferensi internasional tentang ekologi sastra dan humaniora lingkungan.

Dalam bukunya ini, ia menegaskan bahwa literasi ekologi merupakan fondasi ekopistemologi karena sastra berfungsi sebagai ekosistem budaya yang dapat dialihwahanakan.

Mengutip satu deskripsinya, “Sastra berfungsi sebagai bentuk ekologi budaya, menggunakan bahasa, imajinasi, dan kritik untuk menantang dan mengubah narasi budaya tentang hubungan manusia dengan alam.”

Dengan demikian, sastra tidak hanya merepresentasikan alam, tetapi juga mengaktifkan imajinasi kritis untuk menantang narasi dominan yang sering bersifat antroposentris.

Dengan cara ini, ekologi sastra membuka ruang bagi paradigma keberlanjutan, keadilan ekologis, dan kesadaran kolektif tentang keterhubungan manusia dengan jaringan kehidupan.

Ekologi sastra menghadirkan ruang baru bagi pembaca untuk mengalami teks bukan semata sebagai ekspresi estetis, melainkan juga sebagai medium refleksi sosial, politik, dan ekologis.

Inti gagasan Zapf bahwa sastra adalah medium yang mampu mengubah cara kita memahami relasi manusia-alam tampak relevan, karena ekologi sastra sering kali menggabungkan narasi personal dengan dimensi kolektif.

Menelisik ekologi sastra sebagai relasi manusia dengan laut menjadi salah satu tema penting dalam dua karya prosa klasik yang kedua-duanya telah dialihwahanakan dalam film.

Pertama, Moby-Dick, karya Herman Melville, menghadirkan kisah Kapten Ahab dalam perburuan paus sebagai alegori tentang obsesi manusia dan benturan dengan kekuatan alam.

Kedua, The Old Man and the Sea (1952), karya Ernest Hemingway (1899-1961), menampilkan perjuangan seorang nelayan tua, Santiago, melawan marlin raksasa.

Kisah ini bukan hanya tentang ketabahan manusia, melainkan juga tentang keterhubungan dengan ekologi laut.

Dalam novel Hemingway, Santiago sering berbicara dengan laut dan makhluk di dalamnya sebagai sahabat sekaligus lawan.

Salah satu kutipan yang mencerminkan pandangan ekologis Hemingway: “Laut tetap sama seperti dulu. Ikan-ikan adalah saudara kita, dan aku menyayangi mereka. Tapi aku harus membunuh mereka.”

Ungkapan ini menunjukkan ambivalensi, tokohnya, Santiago: ia melihat laut dan ikan sebagai bagian dari jaringan kehidupan yang ia cintai.

Namun, sebagai nelayan ia juga harus bertahan hidup dengan menangkap dan membunuh mereka.

Di sinilah muncul dimensi ekologi sastra, relasi manusia dengan alam yang penuh cinta sekaligus konflik.

Relevansi ambivalensi Santiago sangat kuat bila dibaca melalui lensa ekologi sastra seperti yang digagas Zapf.

Sebagai nelayan tua, Santiago, dengan cintanya pada laut dan ikannya, sekaligus keterpaksaan untuk membunuh demi bertahan hidup, menghadirkan paradoks keterhubungan manusia dengan jaringan kehidupan.

Di satu sisi, ia mengakui ikan sebagai saudara dan laut sebagai ruang penuh kasih.

Di sisi lain, ia menegaskan dominasi manusia melalui tindakan menangkap dan membunuh.

Ambivalensi ini mencerminkan ketegangan antara keberlanjutan ekologis dan kebutuhan ekonomi, sebuah tema yang tetap relevan hingga kini.

Kedua karya ini menegaskan bahwa laut bukan hanya ruang geografis, tetapi juga ruang simbolik yang menyimpan memori, konflik, dan harapan.

Ekologi sastra hadir sebagai jembatan antara pengalaman lokal dan wacana global, memperlihatkan bahwa sastra mampu menjadi medium untuk membangun kesadaran ekologis sekaligus memperkaya evolusi budaya.

Perbandingan antara Santiago dalam The Old Man and the Sea dan Kapten Ahab dalam Moby-Dick membuka dua wajah berbeda dari ekologi sastra.

Santiago digambarkan sebagai figur yang penuh ambivalensi dimana ia mencintai laut dan ikan sebagai saudara, namun tetap harus membunuh demi bertahan hidup.

Relasi ini menunjukkan keterhubungan manusia dengan jaringan kehidupan yang kompleks, di mana cinta dan konflik berjalan beriringan.

Nelayan tua, Santiago, tidak menempatkan dirinya sebagai penguasa mutlak atas alam, melainkan sebagai bagian dari ekosistem yang harus dihormati sekaligus ditaklukkan.

Sebaliknya, Kapten Ahab adalah figur yang sepenuhnya terperangkap dalam obsesi melawan alam.

Dalam The Timeless Leader: Lessons on Leadership (1997), John K. Clemens dan Steve Albrecht menggambarkan Kapten Ahab sebagai sosok pemimpin yang obsesif, keras kepala, dan terjebak dalam ambisi pribadinya.

Lebih jauh, Clemens dan Albrecht menggunakan tokoh Kapten Ahab dari novel Moby Dick Melville sebagai contoh pemimpin yang gagal menghadapi tantangan ekologi.

Karena itu, Ahab adalah contoh pemimpin yang “mengarahkan seluruh energi dan pengikutnya pada satu tujuan pribadi yang obsesif, tanpa mempertimbangkan risiko maupun kesejahteraan orang lain.”

Paus putih Moby Dick, jenis mamalia laut (Balaenoptera musculus) bagi Ahab bukan sekadar hewan, melainkan simbol kosmik yang harus dihancurkan.

Ahab menolak keterhubungan ekologis dan memilih jalan konfrontasi total, sehingga ia menjadi representasi kepemimpinan destruktif yang mengorbankan awak kapal dan dirinya sendiri.

Dalam kerangka ekologi sastra, Ahab mencerminkan wajah manusia yang menolak keberlanjutan dan justru menegaskan dominasi antroposentris, di mana alam dilihat sebagai musuh yang harus ditaklukkan.

Selanjutnya, nelayan tua, Santiago dan Kapten Ahab, si pemburu paus, menghadirkan dua wajah berbeda.

Santiago sebagai figur yang masih menyimpan cinta dan penghormatan pada alam meski harus berkonflik dengan marlin.

Bagi para pemancing, ikan ini Istiophoridae yang dikenal sebagai salah satu perenang tercepat di laut dan sering dijadikan target olahraga memancing.

Sementara, Kapten Ahab sebagai figur yang menolak keterhubungan ekologis dan memilih jalan kehancuran.

Analisis ini memperlihatkan bahwa ekologi sastra tidak hanya berbicara tentang representasi alam, tetapi juga tentang bagaimana manusia membangun relasi simbolik, emosional, dan politis dengan lingkungan.

Mengutip lagi yang ditegaskan Zapf, sastra adalah ekologi budaya yang membuka ruang bagi imajinasi kritis-ekologis sebagai salah satu bentuk mutakhir dari proses evolusi puitikologi laut.

#coversongs: Versi musik Moby Dick yang dibawakan Royal Symphony Orchestra dirilis pada 2019 sebagai bagian dari album kompilasi 100 Movie Soundtrack Themes – Best of Instrumental Playlist.

 

REINER EMYOT OINTOE (ReO)

Fiksiwan

RELATED ARTICLES

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -spot_img

Berita Terbaru

Most Popular