
“Bukalah matamu/Pandang dunia, bintang dan angkasa/Lihatlah sang mentari terbit di Timur dengan gembira/Seisi alam semesta ini adalah milikmu, kuasailah mereka.” — Muhammad Iqbal (1877-1934), Asrar-e-Khudi (1915; Terjemahan 2001)
Pentingnya mendalami diri dalam berpuasa sama berarti menempatkan praktik Ramadan sebagai jalan menuju penyingkapan rahasia diri.
Sepuluh hari terakhir Ramadan, khususnya malam-malam ganjil yang diyakini sebagai lailatul qadar, menjadi babak final yang penuh intensitas spiritual.
Pada saat itu, setiap diri seakan hanya berurusan dengan Allah, menyingkap tabir gaib yang tersembunyi dalam diri (mikro kosmos) sekaligus dalam jagat raya (makro kosmos).
Puasa bukan sekadar menahan lapar dan dahaga, melainkan momentum untuk menemukan jawaban atas teka-teki mikro kosmos manusia dan makro kosmos alam semesta.
Muhammad Iqbal, yang lahir pada 9 November 1877 di Sialkot dan wafat 21 April 1938 di Lahore, menegaskan dalam Asrar-e-Khudi (1915) bahwa inti kekuatan manusia terletak pada khudi, yakni kesadaran diri yang diarahkan kepada Tuhan.
Khudi bukan egoisme, melainkan pusat kepribadian yang harus diperkuat agar manusia mampu berkontribusi bagi masyarakat dan peradaban Islam.
Iqbal mengislamisasikan gagasan Nietzsche tentang manusia unggul dengan konsep insan al-kamil, menekankan bahwa kesempurnaan sejati hanya mungkin bila hubungan dengan Allah menjadi porosnya.
Ia juga mengkritik tasawuf pasif dan mendorong tasawuf yang aktif membangun masyarakat.
Dalam konteks puasa, gagasan khudi menjadi relevan karena ibadah ini melatih pengendalian diri, kesabaran, dan kesadaran spiritual.
Dikutip salah satu bait Asrar-e-Khudi, “Khudi adalah cahaya yang menuntun manusia, ia tumbuh dengan pengendalian diri dan ketaatan, dan redup bila tenggelam dalam nafsu.”
Puasa membuka ruang bagi manusia untuk menyingkap rahasia dirinya, menemukan kekuatan batin, dan mengarahkan energi itu pada pengabdian sosial.
Dengan demikian, Asrar-e-Khudi dapat dibaca sebagai manifesto filosofis yang menolak fatalisme, mengajak umat Islam bangkit menghadapi modernitas, dan menekankan bahwa kesempurnaan manusia bukan hanya spiritual tetapi juga sosial-politik.
Puasa, terutama di sepuluh hari terakhir Ramadan, menjadi laboratorium spiritual untuk menguji dan menguatkan khudi, sehingga manusia mampu membangun masyarakat yang adil dan kuat.
#coverlagu: Lagu Sang Guru karya Panji Sakti (49) pertama kali dirilis pada tahun 2020 dengan genre pop religi/motivasi. Maknanya adalah penghormatan mendalam kepada sosok guru, yang digambarkan sebagai pembimbing penuh ketulusan, sekaligus sebagai simbol spiritual dalam tradisi sufistik.
REINER EMYOT OINTOE (ReO)
Fiksiwan



