
“Buku tidak dibuat untuk dipercaya begitu saja, tetapi untuk diteliti lebih lanjut. Ketika kita mempertimbangkan sebuah buku, kita tidak boleh bertanya pada diri sendiri apa yang tertulis di dalamnya, tetapi apa maknanya.” — Umberto Eco (1932-2016), The Name of the Rose (1983)
Buku yang tak pernah dibaca sering kali menjadi tanda batas karakter dan pengetahuan kita.
Tradisi ini bukan sekadar kebiasaan, melainkan cara manusia meraih kematangan intelektual melalui kehadiran buku sebagai simbol pengetahuan.
Di Jerman, konsep ini berhubungan dengan Weltanschauung dan Weltbild, pandangan dunia yang membentuk kompleksitas hidup.
Karena itu, masa Aufklärung pada abad-18, ada ungkapan “Ohne das Volk, ohne das Buch” yang sering dikaitkan pada para pencerah (Aufklärichers) seperti Lessing, Herder dan Kant.
Kelak, pada 1926, ketika Hitler mulai berjaya, Hans Grimm menulis “Volk ohne Raum” (Bangsa Tanpa Ruang) sebagai slogan politik di Jerman abad ke-20.
Akan tetapi, tradisi tsundoku — tsunde-oku (積んでおく) → “menumpuk sesuatu untuk nanti” dan dokusho (読書) → “membaca buku” — memang berasal dari Jepang pada masa Restorasi Meiji (1868–1912).
Istilah ini muncul sebagai slang atau ungkapan populer dan merupakan fenomena yang dicatat dalam kamus dan literatur budaya Jepang sebagai bagian dari kebiasaan membaca dan mengoleksi buku
Kata ini berasal dari gabungan tsumu (menumpuk) dan doku (membaca), yang kemudian bermakna mengoleksi banyak buku tanpa harus membacanya.
Tsundoku bukan sekadar gaya hidup, melainkan refleksi atas hubungan manusia dengan pengetahuan dimana buku yang menumpuk menjadi potensi ide, meski belum tersentuh.
Umberto Eco, semiotikus Italia, menjadi figur yang sering dikaitkan dengan tsundoku.
Perpustakaannya yang berisi lebih dari 30.000 buku memicu pertanyaan klasik: apakah semua sudah dibaca?
Jawaban Eco menegaskan bahwa koleksi buku bukan hanya untuk dibaca, tetapi juga untuk menunjukkan kemungkinan pengetahuan yang belum digali.
Novel The Name of the Rose, atau dalam bahasa Italia adalah Il nome della rosa (1980), menggambarkan perpustakaan sebagai ruang rahasia, di mana buku bahkan bisa menjadi alat kematian melalui racun di ujung halamannya.
Eco menekankan bahwa buku menyimpan kekuatan ide, bukan sekadar teks.
Dalam karya-karyanya seperti Misreading (Diario minimo,1963; Inggris 1993), A Theory of Semiotics (1976;1979) dan Interpretation and Overinterpretation (1992), Eco mengajukan kritik teks yang menyoroti bagaimana pembacaan selalu melahirkan tafsir baru.
Buku ini merupakan kumpulan esai dan diskusi antara Eco dengan tokoh-tokoh seperti Richard Rorty, Jonathan Culler, dan Christine Brooke-Rose, membahas batas-batas tafsir teks dan risiko “overinterpretation.“
Buku yang belum dibaca bukanlah kekosongan, melainkan reservoir makna yang menunggu untuk diinterpretasi.
Tradisi tsundoku, dalam perspektif Eco, adalah pengakuan atas keterbatasan manusia sekaligus penghormatan pada keluasan pengetahuan.
Di era digital, tsundoku mengalami transformasi. Koleksi buku fisik beralih ke e-book, arsip daring, dan pustaka digital.
Namun, esensinya tetap sama: manusia menumpuk pengetahuan yang tak mungkin seluruhnya diserap.
Folder penuh PDF, daftar bacaan daring, atau rak virtual di aplikasi membaca adalah bentuk tsundoku modern.
Ia menegaskan keterbatasan manusia dalam menyerap informasi, sekaligus menunjukkan bahwa pengetahuan selalu lebih luas daripada kapasitas individu.
Dengan demikian, tsundoku bukanlah kelemahan, melainkan cara manusia menegaskan bahwa dunia ide tak pernah selesai.
Baik dalam rak kayu Eco maupun dalam server digital masa kini, buku yang menumpuk adalah tanda bahwa kepribadian kita dibentuk oleh kesadaran akan batas itu, dan bahwa pengetahuan selalu menunggu untuk ditafsirkan ulang.
#coversongs: Musik “Tsundoku” karya Bouki(Bouki Mc Lane) dirilis pada 6 Januari 2026 sebagai bagian dari album System Override.
Dalam konteks musik, Bouki tampaknya menggunakan istilah ini sebagai metafora tentang akumulasi ide, pengalaman, atau bahkan beban yang tidak terselesaikan.
Menariknya, penggunaan istilah tsundoku dalam karya musik modern menunjukkan bagaimana konsep literasi klasik Jepang kini bergeser menjadi simbol kreatif lintas medium.(*)
REINER EMYOT OINTOE (ReO)
Fiksiwan



