Ruang Fiksi Perempuan?

(foto: diunggah dari Youtube @moviesbestquotes A quote from book – A Room of One’s Own; @Sophia-uf6li A Room Of One’s Own by Virginia Woolf #feminist; Why should you read Virginia Woolf? Iseult Gillespie TED-Ed)

“Kehinaan (abjektion) berada di atas segala ambiguitas. Karena, meskipun melepaskan cengkeraman, ia tidak secara radikal memutus subjek dari apa yang mengancamnya — sebaliknya, kehinaan mengakui bahwa subjek tersebut berada dalam bahaya abadi.” — Julia Kristeva (84), Powers of Horror: An Essay on Abjection (1982)

Awal abad-20 ketika ruang kreativitas dalam segala aspek sosial, politik, ekonomi dan budaya dikuasai modalitas partriarki, ruang fiksi perempuan pun mengalami pembungkaman.

Atas alasan, kini pun, ruang fiksi perempuan itu masih terdera ulang oleh ruang fiksi digital dengan operator anonim,  patriarkal atau matriarkal?

Ruang fiksi perempuan adalah medan yang sejak awal abad ke-20 digempur oleh modalitas patriarki, sebuah sistem yang menutup pintu universitas, membatasi akses perpustakaan, dan menyingkirkan perempuan dari sejarah sastra.

Atas dasar ini, Virginia Woolf, lahir 1882 dan wafat 1941, muncul dalam kuliah umum “perempuan dan fiksi” di Cambridge tahun 1928 yang kelak diterbitkan sebagai A Room of One’s Own pada 1929.

Dalam esai panjang yang dipidatokan dan dituliskan ulang untuk penerbitan, Woolf menegaskan bahwa perempuan membutuhkan kebebasan material dan ruang pribadi untuk menulis.

Salah satu kutipan yang kini tetap menjadi ikon, “A woman must have money and a room of her own if she is to write fiction” atau, “seorang wanita harus memiliki uang dan ruangan sendiri jika ingin menulis fiksi.”

Kutipan ini, bukan sekadar nasihat praktis, melainkan gugatan terhadap struktur sosial yang mengekang ketika itu.

Fiksi perempuan, bagi Woolf, tidak lahir dari bakat semata, melainkan dari kondisi sosial yang adil, dari ruang yang memungkinkan pikiran bebas berkelana tanpa gangguan domestik.

Semisal, eksperimen imajinatif tentang “Shakespeare’s sister” memperlihatkan bagaimana patriarki menghancurkan potensi kreatif perempuan.

Sementara kalimat tajam Woolf menggema, “I would venture to guess that Anon, who wrote so many poems without signing them, was often a woman” yang artinya, “saya berani menduga bahwa Anon, yang menulis begitu banyak puisi tanpa menandatanganinya, seringkali adalah seorang wanita.”

Penulis fiksi Anon kerap diduga Woolf sebagai perempuan menyingkap sejarah panjang anonimitas yang menutupi suara perempuan dari ruang privat hingga publik.

Dengan kata lain, metafora ruang fiksi privat perempuan (a room of one’s own) menjelma sebagai simbol kebebasan intelektual.

Juga, sebuah ruang yang harus direbut agar perempuan dapat menulis, mencipta, dan hadir dalam kanon sastra yang ketika itu dianggap langka dan tabu.

Lebih jauh, kritik mutakhir, salah satu artikel, A Feminist Stylistic Analysis of Virginia Woolf’s A Room of One’s Own (2023) karya Nazia Suleman, Tabassum Zahra, dan Mahnoor Fatima yang terbit di International Journal of Applied Research, Vol. 9 No. 5, 2023, menyingkap lapisan bahasa Woolf sebagai senjata feminis.

Bahasa yang sederhana namun penuh intensi, struktur kalimat yang bergema, dan metafora yang menyulut imajinasi, semuanya dirangkai untuk menantang dominasi patriarki.

Dengan kerangka “feminist stylistics”, artikel ini mengulas bahwa Woolf menulis bukan hanya untuk menyampaikan ide, melainkan untuk membentuk wacana baru.

Perspektif orang pertama dan alur “stream of consciousness” yang merupakan mahzab kritik sastra yang naik daun akibat teori histeria dari psikoloanalis Freud, menghadirkan suara perempuan yang selama ini dibungkam.

Sementara di lain hal, gaya repetisi menjadi mantra yang mengukuhkan tuntutan akan ruang yang dimaksud, “A Room of One’s Own!

Tulis Woolf:

Lock up your libraries
if you like; but there
is no gate, no lock, no
bolt that you can set
upon the freedom of
my mind (Kini populer untuk bait sebuah lagu di @Abookreaderslife).

(Kunci perpustakaanmu, jika kau mau; tetapi tidak ada gerbang, tidak ada kunci, tidak ada gembok yang dapat kau pasang pada kebebasan pikiranku).

Dengan kata lain, sejak Woolf hingga kritik kontemporer, ruang fiksi perempuan tetap menjadi medan perlawanan.

Bahasa sebagai fiksi adalah tindakan politik. Setiap kata adalah gugatan. Setiap kalimat adalah perlawanan.

Fiksi perempuan lahir bukan dari keajaiban bakat, melainkan dari keberanian menantang norma, dari ruang yang diperjuangkan, dari kebebasan yang direngkuh.

Selain itu, debut fiksi Woolf lainnya, diawali The Voyage Out dan diakhiri dengan Between the Acts. Akan tetapi, novel-novel lainnya seperti Mrs Dalloway (1925), To the Lighthouse (1927), dan Orlando (1928) tetap dikukuhkan sebagai tonggak modernisme sastra Inggris.

Dengan demikian, A Room of One’s Own tetap hidup sebagai manifesto feminis yang menegaskan bahwa menulis adalah cara perempuan menegaskan keberadaan, melawan pembungkaman, dan membuka jalan bagi generasi berikutnya.

Dan di ruang fiksi perempuan Indonesia dekade ini, setelah Ayu Utami (57) menguncang dengan trilogi Saman (1999), peraih anugrah Sastra DKJ 1999, Larung (2001), Bilangan Fu (2008), muncul Okky Madasari (41) bersama Entrok (2010), 86 (2011), Maryam (2012), peraih Khatulistiwa Literary Award (2012).(*)

#coversongs: “A Room of One’s Own” versi musik oleh Bibliophile Melomania dirilis pada 1 Agustus 2024 sebagai bagian dari album/playlist Variations around Virginia Woolf, yang menampilkan komposisi jazz terinspirasi karya-karya Woolf.

 

REINER EMYOT OINTOE

Fiksiwan