Resepsi Membaca Rusdhie Menilai Khamenei

(foto: cover buku diunggah dari Youtube @WaywordsStudio 3 Word Review: Midnight’s Children by Salman Rusdhie dan @LightoflmamAli Cell no. 14 – Ayatollah Ali Khamenei)

“Teks bukanlah objek yang ada secara independen dari kesadaran pembaca. Realitasnya hanya terbentuk dalam proses membaca.” — Wolfgang Iser (1926-2007), Der Akt des Lesens: Theorie ästhetischer Wirkung (1976)

Membaca Midnight’s Children (1981; Terjemahan 2009) karya Salman Rushdie (78) dan Cell No. 14 (2021) otobiografi Ayatollah Ali Khamenei (1939-2026) membuka ruang refleksi tentang bagaimana fiksi historis dan otobiografi faktual saling berkelindan dalam membentuk watak personal seorang tokoh.

Rushdie, melalui protagonis Saleem Sinai menampilkan figur yang lahir bersamaan dengan lahirnya bangsa India, seorang anak yang menolak sekadar menjadi individu biasa, melainkan alegori atas fragmentasi dan luka kolektif bangsanya.

Dikutip Saleem berkata, “Saya lahir dalam keadaan yang sama dengan bangsa saya, dan seperti bangsa saya, saya terpecah, penuh luka, dan kehilangan arah.”

Kutipan ini menegaskan bahwa identitas personal tidak pernah bebas dari sejarah, melainkan selalu dibentuk oleh trauma dan konflik sosial.

Ketika narasi Rushdie dibaca berdampingan dengan otobiografi Khamenei, tampak bagaimana penderitaan individu dalam penjara dan pengasingan juga menjadi simbol perjuangan kolektif bangsa Iran.

Sejak Revolusi Islam Iran, Ali Khamenei digambarkan sebagai sosok ulama muda yang berjuang melawan rezim monarki dengan semangat tak kenal menyerah meski berkali-kali dipenjara dan diasingkan.

Otobiografinya, Cell No.14, menampilkan kisah perjuangan Khamenei dalam menghadapi represi politik di bawah Shah Iran.

Ia menggunakan mimbar, ceramah, dan tulisan sebagai senjata untuk menentang ketidakadilan, sekaligus membangun jaringan perlawanan yang kelak menjadi bagian penting dari Revolusi Islam.

Khamenei menulis, “Setiap sel penjara adalah ruang pembelajaran, dan setiap pengasingan adalah kesempatan untuk memperkuat tekad.”

Secuplik kutipan ini menunjukkan bahwa pengalaman personal yang penuh luka justru menjadi energi untuk membangun revolusi.

Jika Saleem Sinai adalah tokoh fiksi yang menolak tumbuh karena dunia dewasa penuh kebohongan, maka Khamenei adalah tokoh faktual yang memilih tumbuh dalam penderitaan demi menegakkan tatanan baru yaitu Revolusi Islam.

Relasi antara membaca Rushdie dan menilai Khamenei memperlihatkan bahwa fiksi dan otobiografi sama-sama mengandung dimensi historis yang membentuk karakter.

Jika fiksi memberi ruang bagi alegori dan simbol, sementara otobiografi memberi ruang bagi kesaksian langsung, historical fact.

Namun keduanya bertemu dalam satu titik yaitu pengalaman manusia yang tidak bisa dilepaskan dari sejarah bangsanya.

Dinilai dari kritik sastra resepsi dalam Der Akt des Lesens: Theorie ästhetischer Wirkung atau The Act of Reading: A Theory of Aesthetic Response( 1978), Wolfgang Iser, profesor sastra di Universitas Konstanz, menegaskan bahwa membaca adalah tindakan aktif, bukan pasif.

Teks sastra menurut Iser bukanlah objek yang berdiri sendiri, melainkan struktur terbuka yang baru memperoleh realitas ketika dibaca.

Ia memperkenalkan gagasan tentang “ruang kosong”;Leerstellen) dalam teks, yaitu bagian yang sengaja dibiarkan tidak lengkap agar pembaca mengisinya dengan imajinasi dan pengalaman mereka.

Dengan demikian, makna sastra lahir dari interaksi antara teks dan pembaca. Bahkan karya sastra tidak memiliki makna tunggal yang statis, melainkan bergantung pada tindak baca.

Iser juga memperkenalkan konsep “wandering viewpoint“ (Erwartunghorizont), yakni posisi pembaca yang terus bergeser mengikuti alur teks, sehingga pengalaman membaca menjadi proses dialektis antara harapan dan kejutan.

Dengan demikian, membaca fiksi historis seperti Midnight’s Children yang merupakan peraih tiga anugrah yaitu Booker Prize (1981), Booker of Bookers (1993) dan Best of the Booker (200) dan menilai otobiografi seperti Cell No. 14 bukan hanya soal membandingkan tokoh fiksi dengan tokoh faktual, melainkan juga memahami bagaimana sejarah membentuk watak personal sekaligus kolektif.

Selain itu, seperti pernah diulas ahli sastra asal Belanda, A. Teeuw (1921-2012) tentang membaca-menilai sastra, menunjukkan bahwa tindak baca selalu berada pada tiga tataran yakni inheren, kohesif, dan koherensif.

Ketiga istilah ini, “inheren, kohesif, dan koherensif“, diurai dalam kajian kritik bahasa dan sastra oleh Teeuw dalam Membaca dan Menilai Sastra (1982).

Dalam buku tersebut, Teeuw menekankan bahwa kegiatan membaca dan menilai karya sastra tidak berhenti pada pemahaman permukaan, melainkan harus dilakukan pada tiga tataran nilai.

Pertama, inheren, yaitu nilai yang melekat pada teks itu sendiri, mencakup struktur, gaya bahasa, dan simbol yang membentuk karya.

Kedua, kohesif, yaitu keterkaitan antar unsur dalam teks yang membuat karya sastra memiliki kesatuan makna.

Ketiga, koherensif, yaitu hubungan antara teks dengan konteks yang lebih luas, termasuk sejarah, budaya, dan pengalaman pembaca.

Konsep ini menjadi penting karena Teeuw melihat kritik sastra sebagai proses resepsi, di mana pembaca tidak hanya mengonsumsi teks, tetapi juga menilai dan menghubungkannya dengan realitas.

Dengan demikian, kritik sastra bukan sekadar analisis teknis, melainkan juga tindakan interpretatif yang melibatkan dimensi faktual dan fiksional.

Lebih jauh, nilai inheren karena tokoh fiksi dan faktual sama-sama lahir dari sejarah.

Berikut nilai kohesif karena keduanya saling mengikat dalam narasi penderitaan dan harapan.

Terakhir, nilai koherensif karena keduanya menegaskan bahwa sejarah bukan sekadar fakta, melainkan pengalaman manusia yang penuh luka, paradoks, dan transformasi.

Membaca Rushdie berarti menilai Khamenei, dan menilai Khamenei berarti memahami bahwa setiap tokoh, baik fiksi maupun faktual, adalah cermin dari bangsa yang melahirkannya.(*)

#coversongs: Lagu “Midnight’s Children” dari Flyzhe(20) dirilis pada tahun 2025. Lagu ini muncul di platform streaming seperti Spotify pada 2025, bersamaan dengan karya lain Flyzhe yang berjudul When We Are Children. Judul “Midnight’s Children” jelas menggemakan resonansi sastra dari novel Salman Rushdie, tetapi dalam konteks musik Flyzhe, maknanya lebih diarahkan pada pengalaman generasi muda yang tumbuh di era digital dengan rasa keterasingan dan pencarian identitas.

REINER EMYOT OINTOE

Fiksiwan