Terinspirasi Cak Muslim Mustajab, IKA PMII Pasuruan Siap Lanjutkan Perjuangan Pemberdayaan Kader

Momen tahlil daring bagi almarhum Muslim Mustajab oleh IKA PMII Pasuruan. (foto: Hakim J)

PASURUAN, CAKRAWARTA.com – Semangat kaderisasi, pemberdayaan ekonomi, dan pengabdian kepada masyarakat yang diwariskan Muslim Mustajab menjadi inspirasi bagi Ikatan Alumni Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (IKA PMII) Kabupaten Pasuruan untuk melanjutkan perjuangan para senior pergerakan.

Komitmen tersebut mengemuka dalam tahlil dan doa bersama untuk mengenang almarhum H. Fatkhan Subchi, Ketua Umum PB IKA PMII, dan H. Muslim Mustajab, tokoh Nahdlatul Ulama (NU), Ansor, Banser, sekaligus perintis PMII di Cabang Pasuruan. Kegiatan yang digelar secara daring pada Selasa (27/10/2026) malam itu diikuti sejumlah mantan aktivis PMII.

Hadir dalam kegiatan tersebut Dr. H. Ahmad Hakim Jayli, M.Si., Wakil Ketua Pengurus Wilayah Nahdlatul Ulama (PWNU) Jawa Timur; KH. Ridlwan Cholil, Ketua YPNU Lekok sekaligus Sekretaris Badan Pelaksana Penyelenggara (BPP) UNU Pasuruan; serta Jauharul Lutfi, Ketua PC IKA PMII Pasuruan yang beberapa hari sebelumnya terpilih secara aklamasi.

Tahlil ketujuh almarhum Muslim Mustajab dijadwalkan berlangsung pada Kamis (29/10/2026) malam di rumah duka, Dusun Palang, Desa Lemahbang, Kecamatan Sukorejo, Kabupaten Pasuruan.

Dalam mengenang sosok Muslim Mustajab, yang akrab disapa Cak Lim, Gus Hakim menempatkannya sebagai contoh konkret keberhasilan seorang kader PMII. Menurut dia, ukuran keberhasilan kader pergerakan tidak semata-mata ditentukan oleh tingginya jabatan struktural atau posisi politik yang berhasil diraih.

“Suksesnya kader tidak diukur dari jabatannya saja. Alat ukur kader yang sukses adalah ketika ia mampu memberikan pencerahan kepada masyarakat dan lingkungan sekitarnya,” ujar doktor ilmu lingkungan tersebut dalam keterangannya pada media ini, Kamis (29/10/2026).

Selain memberikan manfaat sosial, keberhasilan seorang kader juga terlihat dari kesediaannya membuka jalan bagi generasi berikutnya. Bagi Gus Hakim, kader senior tidak cukup hanya mencapai keberhasilan untuk dirinya sendiri, tetapi juga harus mampu menjadi penghubung bagi proses kaderisasi selanjutnya.

“Kader sukses adalah mereka yang bisa menjadi ‘anak tangga’ bagi proses kaderisasi kader-kader PMII berikutnya, baik untuk berjam’iyyah di Nahdlatul Ulama maupun dalam pengabdian di tengah masyarakat,” tambahnya.

Pengalaman Gus Hakim sebagai Sekretaris Pengurus Cabang Nahdlatul Ulama (PCNU) Kabupaten Pasuruan selama dua periode, 2001-2011, turut membentuk pandangannya tentang pentingnya peran senior dalam menyiapkan kepemimpinan generasi muda.

Mundur Selangkah untuk Membuka Jalan bagi Generasi Muda

Gus Hakim kemudian menceritakan pengalamannya dalam Konferensi Cabang (Konfercab) NU Kabupaten Pasuruan pada 2021. Dalam forum tersebut, Cak Lim disebut sebagai salah satu kandidat terkuat untuk menduduki posisi sekretaris PCNU. Namun, Cak Lim memilih tidak bersedia dan justru mendorong figur lain untuk mengemban amanah tersebut.

Pilihan itu membuka jalan bagi Gus Hakim, yang ketika itu masih berusia 29 tahun, untuk menerima tanggung jawab sebagai sekretaris PCNU.

“Awalnya saya merasa berat, namun dari berbagai kesulitan saat menjadi Sekretaris PCNU, saya justru bisa belajar banyak hal. Proses ini menjadi salah satu bagian yang paling bermakna dalam hidup saya,” ungkapnya, mengenang dorongan para seniornya.

Bagi Gus Hakim, pengalaman tersebut menjadi gambaran bahwa proses kaderisasi membutuhkan kerelaan dari generasi senior untuk memberikan kepercayaan dan kesempatan kepada kader yang lebih muda.

Keteladanan semacam itu dinilai relevan bagi keberlanjutan organisasi pergerakan, termasuk IKA PMII Pasuruan. Alumni tidak hanya dituntut menjaga ikatan antargenerasi, tetapi juga memastikan bahwa pengalaman, pengetahuan, dan nilai perjuangan para pendahulu dapat diteruskan kepada kader berikutnya.

Selain kaderisasi, jejak pengabdian Cak Lim di PCNU Kabupaten Pasuruan juga menonjol dalam bidang pemberdayaan ekonomi. Selama dua periode menjabat sebagai Wakil Ketua PCNU Bidang Ekonomi, ia memelopori sejumlah program strategis, mulai dari penguatan agribisnis hingga penggalangan Dana Abadi Umat bersama almarhum Unggul Abinowo, pendiri dan pemilik Bakpao Telo.

Bagi Cak Lim, kemandirian ekonomi bukan sekadar persoalan meningkatkan pendapatan warga. Kemandirian tersebut merupakan fondasi penting agar masyarakat Nahdliyin memiliki kesempatan lebih luas untuk mengakses pendidikan berkualitas dan memperkuat kedaulatan politiknya.

Gagasan tersebut dinilai tetap relevan dengan agenda PCNU Kabupaten Pasuruan menjelang Konfercab 2026, yang menempatkan program kemandirian ekonomi sebagai salah satu prioritas utama.

Warisan pemikiran Cak Lim dengan demikian tidak berhenti pada rekam jejak personal. Gagasan tentang ekonomi umat, kaderisasi, dan pengabdian sosial dapat menjadi pijakan bagi organisasi untuk merumuskan program yang menjawab kebutuhan masyarakat.

Menutup pemaparannya, Gus Hakim menyampaikan dua usulan konkret bagi PC IKA PMII Pasuruan agar semangat perjuangan para senior tidak berhenti pada kegiatan mengenang almarhum.

Pertama, menyusun dan menerbitkan buku yang menghimpun tulisan, kesaksian, gagasan, serta rekam jejak perjuangan Muslim Mustajab. Buku tersebut diharapkan menjadi dokumentasi pemikiran sekaligus sumber pembelajaran bagi kader dan alumni PMII lintas generasi.

Kedua, membuka ruang diskusi rutin untuk membedah berbagai isu strategis daerah. Forum tersebut diharapkan menjadi wadah bagi alumni PMII untuk menyumbangkan pemikiran sekaligus menjalankan fungsi pengawalan terhadap pembangunan di Kabupaten Pasuruan.

Menanggapi usulan tersebut, Jauharul Lutfi selaku Ketua PC IKA PMII Pasuruan menyatakan kesiapan untuk melaksanakannya.

Dua usulan itu menegaskan bahwa mengenang seorang tokoh tidak cukup dilakukan melalui doa dan seremoni. Warisan pemikiran perlu dirawat, didokumentasikan, dan diterjemahkan menjadi kerja nyata yang memberikan manfaat bagi masyarakat.

Jejak Panjang Pengabdian Cak Muslim Mustajab

Muslim Mustajab wafat pada Jumat Pon sore, 23 Oktober 2026. Semasa hidupnya, ia dikenal sebagai tokoh NU, Ansor, dan Banser yang aktif dalam berbagai posisi organisasi serta pengabdian publik.

Di lingkungan NU, ia pernah menjabat sebagai Ketua PCNU Kabupaten Pasuruan Bidang Ekonomi. Di organisasi kepemudaan dan badan otonom NU, ia pernah menjadi Ketua PC GP Ansor Kabupaten Pasuruan, Komandan Satuan Koordinasi Wilayah (Dansatkorwil) Banser Jawa Timur, serta Wakil Komandan Satuan Koordinasi Nasional (Wakil Dansatkornas) Banser.

Sebelum kiprahnya di organisasi NU semakin luas, Cak Lim pernah memimpin PC PMII Kota Surabaya, menggantikan periode kepemimpinan Khofifah Indar Parawansa. Ia juga pernah menjabat sebagai Ketua Senat Mahasiswa Fakultas Ushuluddin IAIN Sunan Ampel Surabaya.

Pengabdiannya di ranah publik berlanjut ketika ia dipercaya menjadi anggota Komisi Pemilihan Umum Daerah (KPUD) Kabupaten Pasuruan pada periode 2004-2009.

Beragam pengalaman tersebut menjadi bagian dari perjalanan panjang seorang aktivis yang mengabdikan diri melalui organisasi, pemberdayaan ekonomi, dan pelayanan publik.

Bagi IKA PMII Pasuruan, tantangan berikutnya adalah memastikan bahwa nilai-nilai perjuangan yang diwariskan Cak Lim tidak berhenti sebagai kenangan. Kaderisasi yang berkelanjutan, penguatan ekonomi umat, dan keterlibatan kritis alumni dalam pembangunan daerah menjadi jalan untuk meneruskan pengabdian tersebut.(*)

Kontributor: Hakim J

Editor: Abdel Rafi