
JAKARTA, CAKRAWARTA.com – Hari Sumpah Pemuda, Rabu (28/10/2026), menjadi momentum yang relevan untuk menengok perjalanan generasi muda Indonesia dalam mengembangkan potensi, memperluas jejaring, dan menghadirkan karya di tengah perubahan zaman. Salah satu kisah tersebut datang dari Adi Har, alumni Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIP) Universitas Airlangga (UNAIR) angkatan 2006.
Dikenal melalui akun media sosial @mrkeminggris, Adi mengembangkan kiprahnya sebagai content creator dan influencer hingga menjangkau berbagai kolaborasi profesional, termasuk dengan Kedutaan Besar Inggris untuk Indonesia dan Netflix Indonesia. Ia juga merambah dunia perfilman melalui keterlibatannya dalam film layar lebar Bapak Paling Jujur, yang tengah tayang.
Dalam wawancara pada Rabu (28/10/2026), bertepatan dengan peringatan Hari Sumpah Pemuda, Adi menceritakan bagaimana ilmu yang diperolehnya di bangku kuliah menjadi bekal untuk membangun personal branding dan mengembangkan karier di industri kreatif.
Bagi Adi, ilmu komunikasi bukan sekadar teori yang berhenti di ruang kelas. Pengetahuan tentang strategi pesan, pemasaran, dan hubungan dengan publik justru menemukan relevansinya ketika diterapkan untuk membangun identitas, merancang konten, serta menjangkau audiens yang lebih luas.
Perjalanan tersebut memperlihatkan bagaimana pendidikan tinggi dapat menjadi fondasi untuk memasuki dunia profesional yang terus berubah, termasuk industri konten digital dan perfilman yang menuntut kreativitas, kemampuan beradaptasi, serta pemahaman terhadap karakter audiens.
Ilmu Komunikasi sebagai Fondasi Personal Branding
Adi menilai, hubungan antara ilmu komunikasi dan personal branding sangat erat. Keduanya bertumpu pada kemampuan menyusun pesan, mengenali karakter audiens, serta membangun identitas yang memiliki pembeda.
“Ilmu komunikasi itu erat kaitannya dengan dunia branding dan digital. Strategi menyusun pesan itu sama dengan strategi menyusun konten yang berdampak. Itu yang saya terapkan,” ujarnya, Rabu.
Menurut Adi, pembelajaran selama menempuh pendidikan di Ilmu Komunikasi FISIP UNAIR memberinya landasan untuk memahami bagaimana identitas dapat dibangun dan dikomunikasikan secara strategis.
Melalui mata kuliah seperti digital marketing, marketing communication, dan public relations, mahasiswa tidak hanya mempelajari konsep komunikasi, tetapi juga berlatih mengenali keunikan diri dan mengartikulasikannya menjadi nilai yang dapat dikenali oleh orang lain.
Dalam dunia pemasaran, nilai pembeda tersebut dikenal sebagai unique selling proposition (USP), yakni karakteristik atau keunggulan yang membuat sebuah produk memiliki posisi tersendiri di benak konsumen.
Adi melihat prinsip yang sama dapat diterapkan kepada individu. Seseorang perlu memahami apa yang membuat dirinya berbeda, bagaimana keunikan itu relevan bagi audiens, dan melalui cara apa identitas tersebut dapat disampaikan secara konsisten.
“Personal branding sebenarnya adalah penerapan strategi marketing communication yang menjadikan individu sebagai produk atau merek utamanya,” jelasnya.
Dalam konteks content creator, pemahaman tersebut menjadi penting. Popularitas di media sosial tidak semata-mata ditentukan oleh seberapa sering seseorang mengunggah konten, tetapi juga oleh kejelasan identitas, relevansi pesan, dan alasan audiens memilih untuk mengikuti serta mempercayainya.
Bagi Adi, ilmu komunikasi menyediakan kerangka berpikir untuk menghubungkan semua unsur itu. Pengetahuan tentang strategi pesan, pemasaran, dan hubungan dengan publik menjadi bekal untuk membangun konten yang bukan hanya menarik perhatian, tetapi juga memiliki tujuan.
Bekal akademik tersebut menjadi bagian dari perjalanan Adi dalam mengembangkan identitas profesional di ruang digital. Melalui akun @mrkeminggris, ia membangun kehadiran sebagai content creator sekaligus influencer.
Kiprahnya membawanya menjalin kolaborasi dengan berbagai pihak, termasuk Kedutaan Besar Inggris untuk Indonesia dan Netflix Indonesia. Keterlibatannya dalam film Bapak Paling Jujur juga menandai langkahnya ke ranah perfilman layar lebar.
Perjalanan ini memperlihatkan bahwa keterampilan komunikasi dapat diterapkan lintas bidang. Kemampuan mengemas pesan, membangun kedekatan dengan audiens, serta menjaga identitas yang konsisten relevan bagi kreator konten maupun pelaku industri hiburan.
Namun, personal branding bukan semata-mata persoalan membangun citra. Identitas yang kuat perlu ditopang oleh kemampuan, karya, dan konsistensi agar tidak berhenti pada popularitas sesaat.
Di tengah persaingan industri digital, seseorang perlu memiliki alasan yang jelas mengapa karyanya layak diperhatikan. Keunikan identitas menjadi pintu masuk, sedangkan kualitas dan relevansi konten berperan dalam mempertahankan kepercayaan audiens.
Dalam konteks itulah, pengalaman Adi menjadi gambaran tentang bagaimana ilmu yang dipelajari di perguruan tinggi dapat diterjemahkan menjadi strategi untuk mengembangkan kiprah profesional.
Perjalanan Adi selama menjadi mahasiswa tidak hanya diwarnai perkuliahan dan teori komunikasi. Ia juga memanfaatkan masa kuliah untuk memperluas pengalaman melalui perjalanan ke luar negeri dan program pertukaran mahasiswa.
Pengalaman tersebut menjadi bagian dari cara Adi memaknai pendidikan tinggi. Ia tidak menempatkan capaian akademik semata-mata pada angka indeks prestasi kumulatif (IPK), tetapi juga pada kesempatan untuk mengenal lingkungan baru, berinteraksi dengan orang-orang dari latar belakang berbeda, dan memperluas perspektif.
Dengan gaya khasnya yang santai, Adi mengenang bahwa selama kuliah di Ilmu Komunikasi UNAIR, ia banyak menghabiskan waktu untuk bepergian ke luar negeri dan mengikuti program pertukaran.
“Intinya, aku enggak rugi kuliah di Komunikasi UNAIR karena selama kuliah saya habiskan dengan travelling ke luar negeri dan sering ikut exchange. Saat kuliah, target saya bukan IPK 3,5 pas lulus, tetapi halaman paspor yang penuh-penuh,” tuturnya.
Pernyataan tersebut disampaikan dengan nada jenaka, tetapi menyimpan pesan tentang pentingnya pengalaman di luar ruang kelas. Pendidikan tinggi, dalam pandangannya, juga merupakan kesempatan untuk memperluas wawasan dan membangun jejaring lintas negara.
Pengalaman internasional dapat memberi mahasiswa ruang untuk memahami perbedaan budaya, cara berkomunikasi, dan perspektif yang tidak selalu ditemukan dalam pembelajaran formal. Pengalaman semacam itu juga relevan bagi mereka yang kelak bekerja di industri kreatif, ketika kemampuan memahami audiens yang beragam menjadi salah satu modal penting.
Bagi Adi, masa kuliah bukan sekadar fase untuk memperoleh gelar. Masa itu juga menjadi ruang untuk mencoba, menjelajah, dan membangun bekal yang dapat digunakan jauh setelah meninggalkan kampus.
Adi juga menyoroti pentingnya lingkungan akademik dalam membentuk kapasitas mahasiswa. Ia menilai, dukungan tenaga pengajar dengan kualifikasi doktor, jejaring internasional, serta jaringan alumni menjadi bagian dari ekosistem yang dapat memperluas peluang dan daya jangkau lulusan.
Menurutnya, kontribusi lingkungan kampus tidak berhenti pada penyampaian materi perkuliahan. Interaksi dengan dosen, sesama mahasiswa, alumni, dan komunitas lintas disiplin dapat membantu mahasiswa mengenali peluang sekaligus mengembangkan kemampuan yang dibutuhkan di dunia profesional.
Ia juga melihat dukungan dari berbagai jurusan di lingkungan FISIP UNAIR sebagai faktor yang memperkaya pengalaman akademik dan memperluas kemungkinan kolaborasi.
Pandangan tersebut relevan dengan perubahan dunia kerja yang semakin menuntut kombinasi antara kompetensi teknis, kemampuan berkomunikasi, kreativitas, dan jejaring profesional. Gelar akademik tetap penting, tetapi kemampuan menerapkan pengetahuan dan menjalin hubungan kerja juga berperan dalam membuka peluang.
Perjalanan Adi memperlihatkan salah satu cara pengetahuan komunikasi dapat diterjemahkan menjadi praktik yakni memahami prinsip yang dipelajari di kampus, menggunakannya untuk membangun identitas, lalu mengembangkan identitas tersebut melalui karya dan kolaborasi.
Pesan Hari Sumpah Pemuda: Bangun Diri, Perluas Jejaring
Momentum Hari Sumpah Pemuda juga menjadi kesempatan untuk merefleksikan peran mahasiswa dalam mempersiapkan diri menghadapi dunia setelah kampus. Bagi Adi, salah satu langkah penting adalah membangun identitas dan jejaring sejak masih berada di bangku kuliah.
Ia mengingatkan mahasiswa agar tidak terjebak pada tuntutan akademik semata. Kesungguhan dalam belajar tetap diperlukan, tetapi kehidupan kampus juga perlu dinikmati sebagai masa untuk mengeksplorasi potensi, mencoba pengalaman baru, dan mengenali arah yang ingin dituju.
“Belajar yang rajin, tetapi jangan terlalu ngoyo biar enggak stres. Dunia perkuliahan itu juga untuk dinikmati,” pesannya.
Di luar persoalan akademik, Adi menekankan dua hal yang menurutnya akan sangat dibutuhkan setelah lulus yakni personal branding dan jejaring yang luas.
“Jangan lupa bangun brand sejak dini dan networking yang luas karena pasti setelah lulus yang akan sangat dibutuhkan adalah informasi dan networking,” ujarnya.
Pesan tersebut berangkat dari kenyataan bahwa memasuki dunia profesional bukan hanya tentang apa yang diketahui seseorang, tetapi juga bagaimana orang lain mengenali kompetensinya dan bagaimana ia terhubung dengan berbagai peluang.
Personal branding, dalam pengertian ini, bukan sekadar membangun citra di media sosial atau mengejar popularitas. Lebih dari itu, personal branding menyangkut kemampuan menunjukkan keahlian, menjaga konsistensi, dan membangun reputasi berdasarkan karya serta nilai yang ditawarkan.
Sementara itu, jejaring bukan hanya tentang banyaknya kenalan. Hubungan profesional yang bermakna dapat menjadi jalur pertukaran informasi, ruang kolaborasi, dan sumber pembelajaran sepanjang karier.
Bagi mahasiswa komunikasi, kedua hal tersebut dapat mulai dikembangkan selama masa kuliah. Proyek akademik, organisasi, kegiatan sukarela, program pertukaran, hingga karya digital dapat menjadi ruang untuk menguji kemampuan sekaligus memperlihatkan potensi diri.
Dalam semangat Sumpah Pemuda, upaya mengembangkan kompetensi dan memperluas wawasan juga menjadi bagian dari persiapan generasi muda untuk berkontribusi di tengah masyarakat yang semakin terhubung.
Perjalanan Adi Har menghadirkan gambaran tentang hubungan antara pendidikan, pengalaman, dan dunia profesional yang terus berubah. Ilmu komunikasi memberinya landasan untuk memahami strategi pesan dan branding, sedangkan pengalaman di luar kampus membuka ruang untuk memperluas perspektif serta membangun jejaring.
Kiprahnya sebagai content creator melalui @mrkeminggris, kolaborasinya dengan Kedutaan Besar Inggris untuk Indonesia dan Netflix Indonesia, serta keterlibatannya dalam film Bapak Paling Jujur menjadi bagian dari perjalanan tersebut.
Kisah ini juga mengingatkan bahwa keberhasilan alumni tidak selalu dapat dijelaskan melalui satu ukuran. Nilai akademik, pengalaman internasional, kemampuan mengembangkan identitas, kualitas karya, dan hubungan profesional dapat saling melengkapi dalam membentuk perjalanan seseorang.
Bagi mahasiswa yang tengah merintis masa depan, pesan Adi mungkin justru terletak pada keseimbangan yakni belajarlah dengan serius tanpa harus kehilangan kegembiraan, membangun kemampuan tanpa berhenti menjelajah, serta merancang masa depan tanpa mengabaikan kesempatan yang hadir selama proses pendidikan.
Pada Hari Sumpah Pemuda, perjalanan Adi menjadi pengingat bahwa bekal pendidikan dapat menemukan bentuknya melalui beragam jalan. Bagi sebagian orang, jalan itu mungkin berupa penelitian, kewirausahaan, pengabdian masyarakat, atau profesi tertentu. Bagi Adi, ilmu komunikasi menjadi bekal untuk membangun identitas di ruang digital dan memperluas kiprah hingga ke layar lebar.(*)
Kontributor: Abdel Rafi
Editor: Umar Faruq








