
PARIS, CAKRAWARTA.com – Prestasi membanggakan kembali ditorehkan pelajar Indonesia di panggung internasional. Yudha Pramudya, pelajar berusia 14 tahun asal Cimahi, Jawa Barat, berhasil meraih Juara Pertama kategori usia 14-17 tahun pada 8th UNESCO Youth Eyes on the Silk Roads International Photo Contest 2026 melalui karya berjudul “A Legacy in Every Carving”.
Yang menarik, prestasi tersebut diraih Yudha bukan dengan peralatan fotografi pribadi. Ia meminjam kamera milik temannya dan menyewa lensa untuk menghasilkan foto yang akhirnya mengantarkannya menjadi juara pertama dalam kompetisi yang diikuti peserta dari berbagai negara.
Kompetisi yang diselenggarakan dalam kerangka UNESCO Silk Roads Programme tersebut tahun ini mengangkat tema “Living Heritage along the Silk Roads”. Kompetisi berlangsung pada 8 April-28 Juli 2026 dan menerima lebih dari 7.000 karya dari peserta di 100 negara. Karya-karya dinilai oleh komite seleksi internasional berdasarkan orisinalitas, kekhasan, dan kekuatan visualnya.
Foto karya Yudha menampilkan seorang pengukir kayu Jepara yang tengah bekerja dengan penuh konsentrasi. Melalui foto tersebut, Yudha berupaya merekam bukan hanya proses pembuatan sebuah karya, tetapi juga keberlanjutan pengetahuan dan keterampilan tradisional yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.
Yudha, yang saat ini duduk di kelas IX SMP Negeri 2 Cimahi, mengaku mulai tertarik pada fotografi sejak masuk SMP. Ketertarikan tersebut berkembang melalui kegiatan ekstrakurikuler fotografi di sekolah.
Informasi mengenai kompetisi UNESCO sendiri ia temukan melalui Instagram.
“Awalnya ketemu postingan di Instagram tentang lomba foto UNESCO Youth Eyes on the Silk Roads Photo Contest. Saya langsung berpikir mau coba saja. Lebih baik mencoba daripada tidak sama sekali,” tutur Yudha.
Perjalanan menghasilkan foto pemenang tersebut juga berlangsung sederhana. Yudha bahkan tidak menggunakan peralatan miliknya sendiri. Ia meminjam kamera dari temannya dan menyewa lensa.
Awalnya ia berencana memotret pengrajin wayang di Jelekong, namun kemudian beralih mencari pengrajin kayu Jepara. Pencarian itu membawanya kepada pengrajin yang bekerja di kawasan Antapani, Bandung.
Di balik foto tersebut terdapat pesan yang menurut Yudha jauh lebih penting daripada sekadar menghasilkan gambar yang menarik.
“Saya ingin menyampaikan bahwa tradisi kayu Jepara jangan sampai punah. Saya juga ingin mengeluarkan emosi para pengukir kayu saat mengukir. Itu kenapa di foto pengrajinnya tampak serius saat sedang mengukir kayu,” ujarnya.
UNESCO memberikan Juara Pertama kepada foto Yudha dengan deskripsi bahwa karya tersebut memperlihatkan seorang pengukir kayu Jepara yang membuat motif rumit dengan tangan, sekaligus menjaga keterampilan tradisional yang diwariskan lintas generasi.
Karya Yudha bersama foto para pemenang dan sejumlah karya terpilih juga akan dimuat dalam album foto Youth Lens on the Silk Roads serta berpeluang ditampilkan dalam pameran UNESCO mendatang.
Wakil Delegasi Tetap Republik Indonesia untuk UNESCO, I.G.A.K. Satrya Wibawa, menyampaikan apresiasi atas capaian tersebut. Menurutnya, keberhasilan Yudha memperlihatkan bagaimana generasi muda Indonesia dapat berperan dalam pelestarian budaya dengan menggunakan medium yang sangat dekat dengan kehidupan mereka.
“Prestasi Yudha menarik bukan hanya karena ia menjadi juara pertama di antara ribuan karya dari berbagai negara. Yang lebih penting adalah bagaimana seorang anak berusia 14 tahun melihat warisan budaya Indonesia melalui perspektif generasinya sendiri. Kamera di tangannya menjadi alat untuk bercerita bahwa tradisi bukan sesuatu yang hanya disimpan di masa lalu, tetapi sesuatu yang perlu diteruskan oleh generasi berikutnya,” ujar Satrya melalui keterangan yang diterima redaksi, Selasa (29/9/2026) dini hari.
Menurut Satrya, capaian tersebut juga menunjukkan pentingnya memperluas akses informasi mengenai berbagai program UNESCO kepada masyarakat Indonesia, khususnya generasi muda.
“Yudha mengetahui kompetisi ini dari media sosial, kemudian berinisiatif mengikuti lomba dengan meminjam kamera dan menyewa lensa. Ini menunjukkan bahwa kesempatan internasional tidak selalu harus dimulai dengan fasilitas yang besar. Yang dibutuhkan sering kali adalah informasi, dan keberanian mencoba,” tambahnya.
UNESCO Silk Roads Programme merupakan salah satu inisiatif UNESCO yang selama lebih dari tiga dekade mendorong pemahaman mengenai interaksi dan pertukaran antarbudaya yang berkembang di sepanjang jalur-jalur bersejarah Silk Roads. Program ini menempatkan warisan bersama dan keragaman identitas sebagai bagian penting dari dialog antar peradaban.
Bagi Yudha, kemenangan tersebut datang di luar dugaan. Ia semula mengikuti kompetisi sebagai pengalaman sekaligus bagian dari upayanya mempersiapkan diri masuk ke sekolah menengah kejuruan yang diimpikannya.
Dari pengalaman itu, Yudha menitipkan pesan sederhana kepada anak-anak muda Indonesia: jangan melupakan tradisi yang diwariskan generasi sebelumnya.
“Ritual, karya seni, tari, dan segala macam tradisi harus terus kita lestarikan agar tidak hilang di masa-masa mendatang,” ujarnya.
Prestasi Yudha menjadi gambaran bahwa diplomasi kebudayaan Indonesia tidak hanya berlangsung di ruang-ruang pertemuan internasional. Ia juga dapat hadir melalui karya seorang pelajar berusia 14 tahun dan sebuah kamera pinjaman.
Semuanya bermula dari satu keputusan sederhana yang justru membawa Yudha ke panggung internasional, yakni “lebih baik mencoba daripada tidak sama sekali”.(*)
Editor: Abdel Rafi








