Tuesday, March 3, 2026
spot_img
HomeSains TeknologiLingkunganRafflesia Kembali Jadi Trending, Tapi Peringatan UNAIR Ini Lebih Penting dari Sorotan...

Rafflesia Kembali Jadi Trending, Tapi Peringatan UNAIR Ini Lebih Penting dari Sorotan Warganet

ilustrasi bunga Raflesia. (foto: istimewa)

SURABAYA, CAKRAWARTA.com – Kemunculan Rafflesia hasseltii kembali menjadi trending di media sosial setelah foto bunga raksasa tersebut ramai diunggah oleh warga dan pengunjung hutan. Namun di balik euforia viral itu, Universitas Airlangga (UNAIR) memberikan peringatan penting bahwa fenomena ini bukan sekadar tontonan eksotis, melainkan alarm ekologis yang patut direspons serius.

Pakar botani UNAIR, Hery Purnobasuki menjelaskan bahwa Rafflesia merupakan tanaman parasit murni yang sepenuhnya bergantung pada tanaman inang untuk bertahan hidup. “Rafflesia tidak memiliki daun, tidak memiliki klorofil, dan tidak melakukan fotosintesis. Seluruh hidupnya menumpang pada tanaman lain. Iklim Indonesia memang ideal untuknya,” ujar Hery dalam keterangannya, Jumat (28/11/2025).

Menurut Hery, Rafflesia hanya dapat tumbuh pada jenis tumbuhan merambat tertentu dalam kondisi hutan yang benar-benar alami yang minim polusi, tanah stabil, dan sedikit tersentuh aktivitas manusia. Karena itu, kemunculannya sangat jarang terlihat oleh masyarakat.

“Bunga ini justru hanya mampu bertahan di hutan perawan. Begitu ada gangguan manusia atau alih fungsi lahan, habitatnya langsung hilang,” tegasnya.

Indonesia saat ini tercatat memiliki 13–14 spesies Rafflesia, jumlah terbesar di dunia. Namun sebagian besar spesies tersebut tidak pernah terekspos publik karena habitatnya semakin menyempit dan eksplorasi ilmiah masih sangat terbatas.

Narasi bahwa Rafflesia hasseltii “baru ditemukan” juga diluruskan Hery. Ia menegaskan bahwa kuncup bunga telah diamati sejak lama, bahkan sebelum viral. “Secara morfologi, kuncup Rafflesia dapat dikenali sejak awal. Warga menginformasikan, lalu praktisi memantau hingga bunganya mekar. Ini bukan fenomena tiba-tiba,” jelasnya.

Meski demikian, mekanisme reproduksi Rafflesia masih menjadi teka-teki besar dalam dunia botani. Penyebaran embrio serta perantara pembuahannya belum mampu dijelaskan secara pasti.

“Bunga jantan dan betina terpisah. Pasti ada perantara yang membantu terjadinya pembuahan, tetapi bagaimana embrio masuk ke jaringan inangnya belum diketahui,” tambah Guru Besar Bidang Ilmu Biologi itu.

Viral Bukan Solusi Pelestarian

Hery mengapresiasi tingginya atensi masyarakat setiap kali Rafflesia mekar dan viral. Namun ia menegaskan bahwa atensi online harus diiringi tindakan nyata untuk pelestarian habitat.

Guru besar bidang ilmu Biologi UNAIR, Hery Purnobasuki. (foto: UNAIR for Cakrawarta)

“Kalau ini kita anggap kekayaan negara, maka harus dijaga. Bukan hanya diumumkan atau diviralkan. Tanpa habitat yang utuh, Rafflesia hanya akan menjadi memori dan foto di internet.” tegasnya.

Ancaman terbesar Rafflesia saat ini adalah alih fungsi lahan. Hilangnya hutan berarti hilangnya inang dan akhirnya hilangnya Rafflesia.

UNAIR mendorong eksplorasi ilmiah Rafflesia secara lebih sistematis. Selain membuka peluang penemuan spesies baru, penelitian juga berpeluang mengembangkan teknik kultur Rafflesia. Jika berhasil, tanaman ini dapat dikembalikan ke habitat aslinya dalam rangka pelestarian.

Di tengah tren digital dan euforia unggahan foto, Hery menegaskan bahwa kemunculan Rafflesia adalah pengingat, bukan hiburan. “Semua orang bangga ketika Rafflesia mekar. Tapi jika kita tidak menjaga hutannya, suatu hari kita tidak akan pernah melihatnya lagi.” pungkas Ketua Lembaga Pengabdian Masyarakat Berkelanjutan (LPMB) UNAIR itu.(*)

Kontributor: PKIP

Editor: Abdel Rafi

RELATED ARTICLES

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

- Advertisment -spot_img

Berita Terbaru

Most Popular