Perang Iran Bukan Sekadar Nuklir dan Tiga Lapis Tujuan Tersembunyi Israel

Dunia dibohongi setiap hari. Kali ini, kebohongan itu dibungkus dengan jargon “perlucutan senjata nuklir”. Saya memahami betul bagaimana mekanisme kebohongan ini bekerja. Bukan karena saya pembenci Israel. Bukan pula karena saya pembela Iran. Namun, selama dua tahun duduk sebagai penasihat militer Indonesia di Dewan Keamanan PBB, saya menyaksikan langsung bagaimana sebuah perang dirancang yakni dengan data yang dipilih, fakta yang dipelintir, dan narasi yang diulang terus-menerus hingga tampak sebagai kebenaran.

Perang Iran versus AS dan Israel hari ini bukanlah perang nuklir. Ini adalah perang pembongkaran sistematis terhadap sebuah negara. Dan Israel, bukan Amerika Serikat, adalah aktor utamanya. Ada tiga lapis tujuan tersembunyi yang patut dicermati.

Pertama, melumpuhkan sistem, bukan bomnya. Mari kita melihat fakta di lapangan, bukan sekadar siaran pers. Sejak awal eskalasi hingga hari ini, target serangan Israel tidak didominasi fasilitas nuklir. Justru yang paling masif adalah pabrik rudal balistik, lalu depot bahan bakar dan kilang minyak, kemudian pusat komando Garda Revolusi dan terakhir. jaringan radar pendeteksi dini. Pertanyaannya kemudian, apa kaitan rudal dengan bom atom? Tidak ada. Karena itu, jangan terkecoh. Israel tidak sedang melucuti senjata nuklir Iran. Mereka sedang melumpuhkan sistem pertahanan ofensif Iran secara menyeluruh.

Berdasarkan pengalaman saya membaca peta kekuatan Timur Tengah, ancaman utama bagi Israel bukanlah bom atom yang mungkin baru terwujud lima atau sepuluh tahun mendatang. Ancaman nyata adalah rantai pasokan Iran ke Hizbullah, ke milisi Suriah, ke kelompok pro Iran di Irak, serta ke Houthi di Yaman.

Lapis pertama agenda Israel adalah memutus rantai itu dalam waktu singkat. Strateginya dengan mencekik dari hulu. Membiarkan jaringan di hilir kehabisan pasokan senjata. Ini bukan sekadar perang. Ini operasi pelumpuhan secara perlahan.

Kedua, bukan sekadar mengganti Presiden, melainkan mengubah peta kekuasaan. Kita kerap mendengar klaim bahwa “Israel ingin rezim Iran tumbang.” Saya katakan bahwa itu hanya setengah kebenaran. Setengah lainnya yang jarang diungkap adalah bahwa Israel tidak terlalu peduli siapa yang memerintah Iran. Yang mereka inginkan adalah Iran kehilangan kemampuan memproyeksikan kekuatan ke luar wilayahnya.

Selama dua dekade, Iran membangun apa yang disebut lingkaran api (ring of fire) yaitu Hizbullah di utara, Suriah di barat laut, Irak di barat, dan Yaman di selatan. Fungsinya mengepung Israel tanpa perlu kehadiran langsung tentara Iran di medan perang. Sangat efektif. Dan sangat sulit dilumpuhkan melalui perang konvensional.

Karena itu, Israel mengubah pendekatan bukan melawan lingkarannya, melainkan memadamkan pusatnya. Dan pusat itu berada di Teheran. Menteri Pertahanan Israel, Yoav Gallant, pernah menyatakan secara tertutup, “Kami tidak perlu menginvasi Iran. Cukup membuat mereka tidak mampu mengirim satu peluru pun ke Hizbullah, maka kami sudah menang.”

Lapis kedua agenda Israel adalah untuk menghancurkan logistik, koordinasi, dan pendanaan Iran dari dalam negerinya sendiri. Ini bukan perang merebut wilayah, melainkan perang merebut kemampuan bertahan.

Ketiga, tahap paling berbahaya yakni potensi disintegrasi Iran.  Kini kita memasuki ranah yang jarang dibahas. Banyak analis menghindari topik ini karena dianggap terlalu spekulatif. Namun, saya tidak sedang berteori di ruang akademik. Saya pernah membaca dokumen internal yang beredar di lingkungan PBB. Isinya memuat skenario disintegrasi Iran.

Perlu dipahami, Iran bukan negara yang sepenuhnya homogen. Sekitar 40% penduduknya bukan etnis Persia. Mereka terdiri atas Arab di Khuzestan (provinsi penghasil minyak terbesar), lalu Kurdi di barat laut, lalu Baluchi di tenggara dan Turkmen dan Azeri di utara.

Selama ini, kekuatan sentrifugal tersebut ditahan oleh sentralisasi kekuasaan di Teheran. Namun, ketika pusat melemah seperti ketika bom menghantam ibu kota, ketika ekonomi terguncang, ketika militer kewalahan, maka potensi perpecahan itu dapat meledak.

Israel memahami potensi ini dengan sangat baik. Maka lapis ketiga agendanya adalah dengan membuat pusat melemah, lalu membiarkan pinggiran tercerai-berai.

Kita bisa berkaca pada Suriah. Sebelum 2011, siapa yang membayangkan negara itu akan terpecah seperti sekarang? Hari ini, Suriah praktis menjadi empat entitas dalam satu peta yaitu rezim di Damaskus, Kurdi di timur laut, oposisi di barat laut, dan pengaruh Turki di utara. Pola serupa, dengan karakter yang hampir sama, berpotensi diterapkan pada Iran.

Di sinilah kuncinya dimana setiap misil yang jatuh di Teheran, setiap kilang minyak yang meledak di Abadan, setiap gangguan komunikasi di Zahedan, bukanlah kebetulan. Itu adalah bagian dari tekanan sistematis yang dilakukan secara bertahap.

Lapis ketiga adalah mengubah Iran dari kekuatan regional menjadi kumpulan entitas kecil yang saling terpecah, dan tidak lagi menjadi ancaman strategis bagi siapa pun, termasuk Israel.

Lalu, Apa Tujuan Akhirnya?

Perang ini tidak akan berhenti hanya dengan perjanjian damai. Tidak pula akan berakhir dengan kesepakatan nuklir baru. Sebab, tujuan utamanya memang bukan perdamaian. Tujuan tersebut adalah membuat Iran tidak mampu melakukan serangan dalam jangka panjang; lalu membuat Iran kehilangan kemampuan melindungi sekutunya di Lebanon, Suriah, Irak, dan Yaman ; dan jika memungkinkan, membuat Iran tidak lagi utuh sebagai sebuah negara.

Semua itu dikemas dalam satu narasi yang tampak sederhana, “menghentikan nuklir Iran”. Saya tidak membenci Israel. Saya hanya membaca fakta. Saya tidak membela Iran. Saya hanya menolak untuk dibohongi. Dan sebagai mantan prajurit yang pernah dipercaya duduk di Dewan Keamanan PBB, saya merasa berkewajiban menyampaikan kenyataan, betapapun pahitnya.

Indonesia mungkin tidak memiliki kepentingan langsung dalam konflik ini. Namun, sebagai bangsa yang pernah mengalami penjajahan, manipulasi, dan upaya pemecahbelahan oleh kekuatan asing, kita memiliki tanggung jawab moral untuk tidak bersikap apatis.

Jangan biarkan narasi “perang nuklir” menutupi fakta bahwa yang sedang berlangsung di Timur Tengah adalah pembongkaran sistematis sebuah negara dengan dalih kemanusiaan.

Kita boleh bersikap netral.

Namun, kita tidak boleh kehilangan kejernihan. Kita tidak boleh buta.(*)

MAYJEN TNI (PURN) FULAD

Penasihat Militer RI untuk PBB tahun 2017-2019