
JOMBANG, CAKRAWARTA.com – Sebanyak 170 pegiat turots dari 87 lembaga dan komunitas di berbagai daerah di Indonesia berkumpul di Pondok Al-Muhajirin 3 Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang, Sabtu (29/8/2026). Mereka mengikuti Musyawarah Besar (Mubes) Nahdlatut Turots (NT) untuk memperkuat jejaring sekaligus mendorong khazanah keilmuan ulama Nusantara agar semakin dikenal di tingkat internasional.
Pertemuan tersebut menjadi ruang konsolidasi para pegiat turots, pesantren, komunitas, dan pengkaji karya-karya keilmuan ulama terdahulu. Selain memperkuat jaringan, forum juga membahas pengembangan, penerbitan, dan penyebarluasan karya turots agar dapat menjangkau pembaca yang lebih luas.
Sejumlah tokoh hadir dalam kegiatan tersebut, antara lain Guru Besar UIN Syarif Hidayatullah Jakarta Prof Oman Fathurahman, Ketua Nahdlatut Turots Lora Usman Hasan Al-Akhyari, Sekretaris NT Dr Ahmad Karomi, para pengasuh pesantren, serta perwakilan pihak pendukung kegiatan.
Perwakilan Nahdlatut Turots, Dr KH Ahmad Najid, mengatakan para pegiat turots memiliki posisi penting dalam merawat warisan intelektual ulama terdahulu.
“Ini sebagai bentuk jihad dalam merawat warisan ilmu dari para ulama terdahulu,” ujar Gus Najib.
Menurut dia, Mubes tersebut merupakan pertemuan kedua Nahdlatut Turots. Pertemuan pertama digelar bersamaan dengan Muktamar NU di Lampung pada 2022 dan menjadi momentum deklarasi gerakan Nahdlatut Turots.
Salah satu perhatian dalam Mubes adalah memperluas jangkauan karya turots. Selama ini, sebagian besar karya warisan keilmuan ulama ditulis dalam bahasa Arab sehingga akses terhadap karya tersebut masih terbatas pada kalangan tertentu.
Dr Anas Al-Hifni dari Pondok Pesantren Sunan Drajat, Lamongan, mendorong agar karya turots diterjemahkan ke dalam berbagai bahasa, termasuk bahasa Inggris dan Mandarin.
“Turots tidak harus dicetak dalam bahasa Arab. Bagaimana turots bisa dialihbahasakan ke Inggris atau Cina agar makin internasional,” ujarnya.
Menurut Anas, penerjemahan dapat menjadi salah satu cara memperkenalkan kekayaan intelektual pesantren dan ulama Nusantara kepada masyarakat global.
Namun, ia menilai perlu ada pembagian peran yang jelas dalam proses penerbitan dan distribusi karya. Penulis, menurut dia, tidak harus sekaligus menangani distribusi.
“Yang sudah menjadi penulis tidak usah menjadi distributor. Nanti keduanya bisa buyar jika dilakukan oleh orang yang sama,” katanya.
Anas menyatakan siap membantu membuka jaringan agar karya-karya turots dapat berkembang dan menjangkau pembaca yang lebih luas.
Menulis sebagai Jalan Merawat Warisan
Sementara itu, Dr KH Afifuddin Dimyathi mengatakan proses melahirkan karya turots dapat berawal dari berbagai sumber, baik pengalaman pribadi, gagasan orang lain, maupun permintaan tertentu.
Ia juga mendorong para pegiat turots untuk menjadikan aktivitas menulis sebagai bagian dari proses merawat dan meneruskan tradisi keilmuan ulama.
“Menulis itu bisa menjadi amanat yang datang kepada kita. Tinggal bagaimana amanat itu mau dikerjakan atau tidak,” katanya.
Afifuddin mengatakan aktivitas mengajar juga dapat menjadi sumber inspirasi dalam menghasilkan karya. Menurut dia, pengalaman menyampaikan ilmu kepada santri dapat berkembang menjadi gagasan yang kemudian dituangkan dalam tulisan.
Karya turots, kata dia, dapat diterbitkan untuk berbagai kepentingan, baik sebagai dokumentasi, bahan kajian, maupun untuk disebarluaskan kepada masyarakat.
Pengasuh Pondok Al-Muhajirin 3, KH Ali Zamroni, mengapresiasi pelaksanaan Mubes di lingkungan pesantrennya. Ia berharap pertemuan tersebut semakin memperkuat gerakan pelestarian warisan keilmuan ulama.
“Semoga kegiatan ini semakin mendorong kita berbuat kebaikan untuk merawat warisan ulama,” ujarnya.
Rangkaian Mubes kemudian dilanjutkan dengan shalat Maghrib berjamaah dan pembacaan shalawat Nabi. Kegiatan ditutup dengan pemberian ijazah sanad keilmuan dari sejumlah kiai sepuh kepada para peserta.
Bagi para pegiat turots, pelestarian karya ulama tidak cukup dilakukan dengan menyimpan dan mencetak kembali naskah lama. Upaya tersebut perlu dilanjutkan melalui penelitian, penerbitan, penerjemahan, dan pemanfaatan teknologi agar warisan intelektual tersebut dapat dipelajari oleh generasi baru dan menjangkau masyarakat yang lebih luas.
Dari Jombang, para pegiat turots itu berupaya membangun jejaring bersama agar khazanah keilmuan ulama Nusantara tidak hanya tetap hidup di lingkungan pesantren, tetapi juga dapat menembus batas bahasa dan dikenal di dunia internasional.(*)
Kontributor: Mukani
Editor: Abdel Rafi








