Otak Idiot ‘Saking Pinternya Jadi Goblok”?

(credit gambar: diakses dari kanal YouTube diubah jadi sketsa atas perbuatan AI)

“Orang yang kurang cerdas sering kali lebih percaya diri.” — Dean Burnett (49), Otak Idiot (2024).

Apa yang terbersit di otak Presiden Prabowo Subianto -ketika pidato di HUT Ke-28 PAN beberapa waktu silam- dengan ujaran gestik-mimiknya retoris emosional kurang lebih, “banyak orang mengaku pakar. “Saking pinternya jadi goblok.”

Siapa orang “saking pinternya jadi goblok” yang dimaksud Presiden Prabowo?

Apakah mereka yang kritis padanya atau sekedar sekedar umpatan kekesalan seperti kalimat “etis ndasmu.”

Ujaran dalam linguistik seperti ilokusi memiliki fondasi ekspresi psikologi pengujarnya.

Dalam neurolinguistik, ujaran-ujaran itu terkait secara “struktur dalam’ dari daya kerja kompleks otak manusia.

Selanjutnya, cara kerja otak idiot dari Dean Burnett bisa sedikit mengulas kasus linguistik di atas.

Dean Burnett, seorang ahli saraf dari Cardiff University, menulis The Idiot Brain (Inggris, 2017) dengan gaya sains populer yang jenaka. Di buku ini Burnett mengulas bagaimana otak manusia sering bekerja secara ganjil, paradoksal, bahkan “menyabotase” diri sendiri.

Ulasan ringkas di atas cukup relevan untuk membaca ujaran Presiden Prabowo Subianto tentang banyak orang mengaku pintar, “saking pintarnya goblok.”

Lebih lanjut, Burnett menunjukkan bahwa otak kita bukan mesin rasional, melainkan penuh bias, ilusi, dan kontradiksi.

Selain itu, ada pula ungkapan bahwa kecerdasan tidak selalu berbanding lurus dengan kebijaksanaan atau kerendahan hati.

Justru otak sering menipu kita dengan rasa percaya diri palsu, membuat orang tampak “pandai” padahal keputusan atau ucapannya bisa sangat keliru.

Jika dikaitkan dengan ujaran Presiden Prabowo, banyak orang mengaku pakar, “saking pinternya jadi goblok,” kita bisa membacanya sebagai ekspresi ilokusi yang berakar pada psikologi pengujarnya.

Dalam neurolinguistik, ujaran semacam ini mencerminkan struktur dalam otak yang frustrasi, bias, dan mekanisme pertahanan diri.

Burnett menjelaskan bahwa otak sering memilih untuk disukai daripada melakukan apa yang benar, sering merevisi informasi agar kita tampak lebih baik, dan sering mengutamakan ilusi kontrol.

Semua ini membuat orang yang merasa pandai bisa jatuh pada jebakan kebodohan praktis.

Dengan demikian, kritik Presiden Prabowo dapat dipahami bukan sekadar umpatan, melainkan resonansi dengan fenomena yang dibongkar Burnett. Tepatnya adalah otak manusia memang “idiot” dalam arti penuh paradoks.

Orang bisa menguasai pengetahuan, tetapi tetap gagal dalam hal kebijaksanaan. Burnett menulis satir tentang otak yang membakar logika dirinya sendiri. Dengan demikian, otak idiot pun bisa menyingkap bahwa kecerdasan tanpa refleksi bisa berujung pada kebodohan.

Relevansi bagi konteks Indonesia sejak dari dua dekade lebih, penggunaan otak dalam ujaran politik yang keras sering kali mencerminkan bias otak penguasa maupun pendengar.

Burnett mengingatkan kita untuk tidak meremehkan otak yang kacau, melainkan memahaminya agar tidak terjebak dalam ilusi kepandaian.

Maka, ungkapan “saking pintarnya jadi goblok” bisa dibaca sebagai kritik terhadap paradoks otak manusia itu sendiri.

Atau, sebuah idiom politik yang menemukan resonansinya dalam ukuran sains populer.(*)

#coversongs: Lagu “Idiot Wind” dari Bob Dylan(85) dirilis Januari 1975 dalam album Blood on the Tracks. Dikenal sebagai salah satu karya paling emosional dan penuh kemarahan, menyingkap tema pengkhianatan, gosip publik, dan kehancuran hubungan pribadi.

Manado, 21 September 2026

REINER EMYOT OINTOE

Fiksiwan