
“Penciptaan bukanlah sekadar penguraian atau perubahan bentuk dari materi yang sudah ada, melainkan pengadaan (al-ijad) sesuatu dari ketiadaan murni (al-‘adam).” – Al Ghazali(1058-1111), Tahafut al-Falasifah (Kerancuan Para Filsuf, 2024).
Tradisi panjang filsafat sejak Yunani kuno telah membahas tema penciptaan dalam kosmologi.
Namun, dalam perkembangan sejarah pemikiran, penciptaan sering dikaitkan dengan tumbuhnya sejarah ide atau gagasan.
Dalam sejarah pemikiran dunia Islam, sejak abad kesembilan masehi -era kekalifahan Abbasiyah- filsafat penciptaan (huduts al-‘alam) lebih dekat kepada teologi (Ilm al-Kalām).
Dialektika kosmologis tersebut menemukan wujudnya yang paling radikal sekaligus sublim ketika filsuf Andalusia, Ibnu Tufail -lahir sekitar 1105 M dan wafat pada 1185 M di era Dinasti Muwahhidun, tepatnya di masa Khalifah Abdul Mu’min(Abd al-Mu’min bin ‘Ali memerintah pada 1147-1163 M- menuangkan gagasan penciptaan dalam karya roman alegorisnya, Hayy bin Yaqzan.
Karya monumental ini tidak hanya mengguncang wacana intelektual di Timur. Juga, menular ke Barat justru dalam bentuk roman (hikayat) dan bukan risalah.
Akan tetapi, juga memberi dampak mendalam bagi pemikiran Barat modern setelah diterjemahkan ke dalam bahasa Inggris pertama kali dari teks Latin (Philosophus Autodidactus) oleh George Ashwell pada tahun 1686.
Terjemahan langsung dari bahasa Arab ke Inggris oleh Simon Ockley pada tahun 1708 berjudul The Improvement of Human Reason: Exhibited in the Life of Hai Ebn Yokdhan.
Melalui roman filosofis ini -mendahului seluruh tradisi penulisan filsafat dalam roman- penciptaan tidak lagi dipahami sekadar sebagai peristiwa fisik pembentukan materi dari ketiadaan (al-ijad min al-‘adam), menurut istilah Al Ghazali.
Melainkan pula, sebagai sebuah proses penyingkapan rasional dan spiritual (tajalli) yang terus-menerus di dalam jiwa manusia.
Penciptaan dalam perspektif Ibnu Tufail dipresentasikan melalui penjelajahan ekstensif sosok Hayy, manusia yang tumbuh dalam isolasi total di sebuah pulau terpencil, Waq-Waq (Jazīrat al-Wāq Wāq).
Konon, menurut geografer klasik, Al-Mas’udi menyebut bahwa pulau tersebut berada di dekat wilayah Khatulistiwa di Hindia (Samudra Hindia) atau pulau tak berpenghuni (an uninhabited island).
Ketika Hayy membedah jasad rusa yang selama ini merawatnya demi mencari wujud kehidupan yang mendadak hilang, ia berhadapan dengan misteri substansi dan bentuk.
Pengalaman inderawi itu mendorong daya nalarnya melampaui dunia fisika menuju kesadaran metafisis.
Proses penciptaan alam semesta kemudian direnungkan bukan lagi sebagai teka-teki material semata, melainkan manifestasi dari Penyebab Pertama (al-‘illat al-ūlā) yang Wajib Wujud (wājib al-wujūd).
Puncak dari pengembaraan intelektual ini tercapai saat Hayy sampai pada taraf ekstasi intuitif (kasyf), di mana batas-batas antara subjek pembaca dan objek penciptaan melebur ke dalam Wujud Yang Tunggal ((al-wujūd al-wahid).
Penafsiran Hayy mengenai realitas tertinggi ini terangkum dalam ucapan alegorisnya mengenai hakikat kebenaran Ilahi yang mengatasi batas material.
Hal itu mengemuka ketika ia menegaskan bahwa segala wujud yang ada di alam semesta hanyalah bayangan dari Cahaya Utama (an-nūr al-awwal).
Berikut frasa reflektifnya, “Aku tidak melihat sesuatu pun melainkan aku melihat Allah di dalamnya.”
Keunikan penciptaan dalam gagasan Ibnu Tufail terletak pada perjumpaan antara akal murni (al-‘aql al-mujarrad) dan wahyu (al-waḥy) agama yang diwakili oleh tokoh Absal.
Ketika Absal tiba di pulau tersebut dan mengajarkan bahasa serta syariat rasional kepada Hayy, keduanya menyadari bahwa kebenaran yang dicapai melalui penalaran mandiri dan kebenaran yang diturunkan melalui wahyu adalah dua pancaran dari sumber penciptaan yang sama.
Namun, ketika mereka mencoba membawa pemahaman esoteris ini kepada masyarakat awam di pulau seberang yang dipimpin oleh Salaman, mereka mendapati bahwa mayoritas manusia membutuhkan bentuk doktrin simbolis dan syariat lahiriah.
Penemuan ini mempertegas tesis Ibnu Tufail bahwa penciptaan akal manusia memiliki tingkatan kapabilitas tersendiri.
Menyadari keterbatasan masyarakat umum dalam mencerna hakikat penciptaan secara murni, Hayy memohon maaf atas kebenaran esoteris yang sempat dibagikannya.
Lalu, ia menyatakan frasa pamungkasnya kepada orang-orang awam tersebut, “Tetaplah kalian berada dalam keyakinan agama kalian yang lahiriah dan peganglah erat-erat batas-batas hukumnya, sebab itulah jalan keselamatan bagi kalian.”
Karenanya, istilah filsafat penciptaan dalam Hayy bin Yaqzan menegaskan bahwa penciptaan sesungguhnya adalah perjalanan kesadaran manusia dari kegelapan ketidaktahuan menuju terang pengetahuan tertinggi.
Manusia tidak sekadar ditempatkan di dalam alam semesta yang telah diciptakan.
Namun, manusia terpanggil untuk menciptakan kembali pemahaman atas kebenaran melalui perpaduan harmonis antara indera, akal, dan intuisi spiritual.
Dengan membiarkan Hayy dan Absal kembali ke pulau terasing demi menyembah Sang Pencipta dalam keheningan sejati, Ibnu Tufail telah meletakkan landasan bahwa penciptaan paling luhur terjadi di dalam jiwa yang berhasil mengenali Penciptanya secara mandiri dan penuh kesadaran.(*)
#coverlagu: Lagu/rilisan Sholawat Jibril dari Adri Saqilbi (atau Adri Sagilbi) pertama kali dirilis secara resmi dalam bentuk album/singel digital pada tanggal 26 September 2025.
Manado, 23 Oktober 2026
REINER EMYOT OINTOE
Fiksiwan








