
SURABAYA, CAKRAWARTA.com – Lembaga Perekonomian Nahdlatul Ulama (LPNU) Jawa Timur mengajak masyarakat memanfaatkan momentum Ramadhan untuk melakukan “puasa algoritma”, yakni mengurangi ketergantungan pada platform digital yang selama ini memengaruhi pola konsumsi dan perilaku ekonomi.
Wakil Ketua LPNU Jawa Timur Machsus menyebutkan, selama 11 bulan masyarakat hidup dalam ekosistem digital yang dikendalikan algoritma, sehingga Ramadhan dapat menjadi ruang refleksi untuk mengambil kembali kendali atas pilihan dan perilaku ekonomi.
“Ekonomi sekarang sangat bergantung pada mesin digital. Apa yang kita sukai dan tidak sukai direkam dan diperkuat oleh algoritma. Tanpa sadar, kita dikendalikan untuk terus berinteraksi dan mengonsumsi,” ujar Machsus dalam kegiatan Ngaji Kentong Ramadhan 1447 H di Kantor PWNU Jawa Timur, Surabaya, Senin (23/2/2026).
Menurut dia, fenomena tersebut merupakan bagian dari apa yang disebut sebagai “kapitalisme pengawasan”, ketika manusia tidak lagi sepenuhnya menjadi pengendali, melainkan menjadi objek yang diarahkan oleh sistem digital.
Karena itu, Ramadhan dinilai sebagai momentum untuk melakukan jeda dan refleksi, sekaligus mengembalikan kesadaran dalam mengelola perilaku konsumsi.
“Ramadhan adalah waktu untuk jeda, melakukan normalisasi, atau yang kami sebut puasa algoritma. Ini momentum untuk kembali menjadi umat yang mengendalikan, bukan dikendalikan,” kata Machsus.
Ia menjelaskan, langkah awal yang dapat dilakukan adalah mengendalikan pola konsumsi digital, termasuk tidak mudah tergoda oleh promosi atau fitur belanja daring yang mendorong konsumsi impulsif.
Selain itu, LPNU Jawa Timur mendorong transformasi ekonomi umat melalui penguatan ekosistem ekonomi internal, seperti berbelanja di usaha milik warga, memanfaatkan lembaga keuangan mikro berbasis komunitas, dan membangun jejaring ekonomi yang saling mendukung.
“Transformasi ekonomi membutuhkan kebersamaan. Potensi ekonomi umat harus diorkestrasi agar perputaran ekonomi memberi manfaat bagi komunitas sendiri,” ujarnya.
LPNU Jawa Timur juga menekankan pentingnya penguatan basis data ekonomi sebagai landasan perencanaan dan pengembangan usaha. Dengan dukungan data, potensi ekonomi di berbagai daerah dapat dipetakan dan dikembangkan secara lebih terarah.
Menurut Machsus, penguatan kesadaran ekonomi tersebut juga sejalan dengan tradisi kewirausahaan dalam Islam, yang menempatkan pemberdayaan ekonomi sebagai bagian dari pembangunan kemandirian umat.
“Teknologi, termasuk kecerdasan buatan dan algoritma, seharusnya menjadi alat pendukung, bukan pengendali. Yang terpenting adalah mencetak pelaku ekonomi yang mampu memahami masalah, menemukan solusi, dan mengambil peran,” katanya.
Kegiatan Ngaji Kentong Ramadhan yang berlangsung sepanjang Ramadhan itu diharapkan menjadi ruang edukasi dan refleksi untuk memperkuat kemandirian ekonomi umat di tengah transformasi digital yang semakin cepat.(*)
Kontributor: Cak Edy
Editor: Abdel Rafi



