Kajian Senja Al-Yasmin, Gus Mujab: Nabi Ibrahim Teladan Membina Keluarga yang Tangguh dan Hanif

Gus Mujab dengan moderator Hj Cita Helmy saat mengisi Kajian Senja Al-Yasmin di Ballroom Pesantren Digipreneur Al-Yasmin Surabaya, Rabu (20/5/2026). (foto: Al-Yasmin)

SURABAYA, CAKRAWARTA.com – Pesantren Digipreneur Al Yasmin menghadirkan Pengasuh Pesantren Darut Ta’lim An-Nawawi Ampel Surabaya, KH Ahmad Mujab Muthohar, dalam Kajian Senja Al-Yasmin episode ke-14, pada Rabu (20/5/2026). Dalam kajian tersebut, Gus Mujab menekankan pentingnya meneladani Nabi Ibrahim sebagai figur ideal dalam membangun keluarga yang kuat, lurus, dan berlandaskan nilai-nilai ketuhanan.

“Nabi Ibrahim layak dijadikan inspirasi, karena beliau adalah sosok panutan dalam kebaikan bagi siapa pun,” ujar Gus Mujab di Ballroom Pesantren Digipreneur Al Yasmin, Surabaya.

Kajian yang dipandu Hj. Cita Helmy itu mengangkat keteladanan Nabi Ibrahim dalam membina keluarga, mulai dari kepemimpinan, perhatian kepada keturunan, hingga pendidikan akidah.
Menurut Gus Mujab, Al-Qur’an menempatkan Nabi Ibrahim sebagai sosok “imam” atau pemimpin teladan sebagaimana termaktub dalam Surat Al-Baqarah ayat 124. Di tengah budaya populer yang kerap menjadikan figur viral sebagai panutan, Nabi Ibrahim justru menghadirkan teladan yang melampaui zaman.

“Kalau sekarang orang mudah mengikuti apa yang sedang viral, Nabi Ibrahim justru memberi contoh tentang keteladanan sejati, terutama dalam membangun keluarga,” katanya.

Ia menjelaskan, Nabi Ibrahim juga disebut sebagai “ummatan qanitan lillahi hanifa”, sosok yang lurus, patuh kepada Allah, dan menjaga keluarganya dari hal-hal yang tidak baik, termasuk dalam urusan mencari nafkah.

“Beliau sangat menjaga keluarganya. Memberi nafkah yang tidak halal itu ibarat melempar keluarga ke dalam keburukan. Karena itu Nabi Ibrahim menjadi inspirasi bagi keluarga Muslim,” ujar Gus Mujab.

Tak hanya itu, perhatian Nabi Ibrahim terhadap keturunannya juga dinilai sangat besar. Gus Mujab menyinggung doa-doa Nabi Ibrahim yang terus dipanjatkan demi kebaikan anak cucunya.

“Bahkan seorang Nabi Ibrahim pun tetap memikirkan bagaimana nasib keturunannya. Itu menunjukkan besarnya perhatian beliau terhadap keluarga,” tuturnya.

Dalam kajian tersebut, Gus Mujab juga menyoroti kisah Nabi Ibrahim saat meninggalkan Siti Hajar dan Nabi Ismail di padang tandus. Menurut dia, peristiwa itu bukan sekadar kisah pengorbanan, melainkan pelajaran tentang keyakinan, pendidikan akidah, dan kepasrahan kepada kehendak Tuhan.

Dari doa Nabi Ibrahim pula, kata dia, Mekkah kemudian tumbuh menjadi kawasan yang ramai dan makmur. Doa agar hati manusia condong kepada keturunannya menjadi simbol penting tentang kekuatan spiritual dalam membangun peradaban.

“Doa Nabi Ibrahim itu lengkap. Memohon keluarganya menjadi ahli shalat, dicintai manusia, diberi rezeki, dan menjadi pribadi yang bersyukur,” katanya.

Gus Mujab menambahkan, keteladanan Nabi Ibrahim juga tampak ketika berdialog dengan Nabi Ismail sebelum peristiwa kurban. Baginya, dialog itu menunjukkan bahwa kepatuhan kepada Tuhan dibangun melalui komunikasi dan keteladanan dalam keluarga.

“Kalau ada persoalan dalam keluarga atau anak belum sesuai harapan, maka yang didahulukan adalah doa, ikhtiar, dan mendekatkan diri kepada Allah,” ujarnya.(*)

Kontributor: Al-Yasmin

Editor: Abdel Rafi