“Kereto Jowo” dan Tembang Pengingat Kematian, Dakwah Kultural Jawa yang Tetap Hidup

Ilustrasi. (foto: Widi)

JAKARTA, CAKRAWARTA.com – Di tengah arus musik modern yang kian beragam, tembang religi Jawa “Kereto Jowo Eling-Eling Manungso Bakale Mati” tetap menemukan ruang di hati masyarakat. Liriknya yang sederhana, tetapi sarat makna spiritual, terus dilantunkan dalam berbagai pengajian, majelis shalawat, hingga pertunjukan musik religi tradisional.

Tembang tersebut bukan sekadar lagu pengiring suasana religius. Bagi banyak kalangan, syair “eling-eling siro menungso” menjadi medium dakwah kultural yang mengajak pendengarnya merenungkan kefanaan hidup dan mempersiapkan bekal menuju akhirat.

Karya bernuansa sufistik itu dikenal luas dalam tradisi Islam Jawa dan turut dilestarikan sejumlah ulama Nusantara, antara lain KH Ali Maksum. Melalui pendekatan tembang dan bahasa lokal, pesan moral Islam disampaikan secara halus, akrab, dan mudah diterima masyarakat lintas generasi.

Dalam khazanah budaya Jawa, “Kereto Jowo” dimaknai sebagai metafora perjalanan terakhir manusia. “Kereto” atau kereta melambangkan keranda jenazah yang mengantar manusia menuju liang peristirahatan. Sementara ungkapan “rodane roda menungso” menggambarkan bahwa manusia pada akhirnya akan diiringi sesama manusia menuju pemakaman.

Pesan paling kuat muncul dalam bait “eling-eling manungso bakale mati”, pengingat bahwa kematian merupakan keniscayaan yang tidak memandang usia, kedudukan, ataupun latar belakang seseorang.

Nuansa kontemplatif dalam tembang itu semakin terasa melalui iringan musik tradisional Jawa yang syahdu. Dalam sejumlah aransemen religi, perpaduan lirik spiritual dan melodi khas Jawa menghadirkan suasana reflektif yang mengajak pendengarnya melakukan muhasabah diri.

Di tengah modernisasi budaya populer, keberadaan tembang religi seperti “Kereto Jowo” menunjukkan bahwa kearifan lokal Nusantara tetap memiliki daya hidup. Dakwah tidak hanya hadir melalui ceramah formal, melainkan juga melalui seni dan tradisi yang tumbuh dari akar budaya masyarakat.

Lebih dari sekadar lagu, tembang tersebut terus menjadi pengingat agar manusia senantiasa mendekat kepada Sang Pencipta, memperbaiki amal ibadah, dan menyadari bahwa kehidupan dunia bersifat sementara.(*)

Kontributor: Widi

Editor: Abdel Rafi