Saturday, January 28, 2023
HomeSains TeknologiKesehatanHampir Seribu Anak Terkena TBC, Pakar: Akibat Masyarakat Abai Kesehatan!

Hampir Seribu Anak Terkena TBC, Pakar: Akibat Masyarakat Abai Kesehatan!

ilustrasi. (foto: UCL)

SURABAYA – Dinas Kesehatan Kabupaten Bantul melaporkan adanya kasus anak terkonfirmasi tuberkulosis (TBC) sebanyak 619 anak dari total 1.216 total TBC positif yang ada di daerah tersebut. Sebanyak 619 di antaranya adalah kasus TBC anak dan 12 kasus pasien TBC resisten obat.

Menurut dokter spesialis paru Arief Bakhtiar, dr., SpP(K) FAPSR  hal ini dikarenakan dampak dari kebiasaan masyarakat yang acuh dengan kesehatan, terutama terlalu menyepelekan batuk.  Masyarakat dinilai menganggap gejala-gejala TBC sebagai penyakit batuk biasa dan tidak dianggap serius sehingga enggan untuk memeriksakan diri ke pelayanan kesehatan.

“Bisa dipastikan anak yang terkonfirmasi TBC merupakan pasien yang tertular karena dalam lingkungannya terdapat orang dengan TBC positif namun tidak berobat dan menggunakan masker,” ucap Arief pada media ini, Selasa (27/12/2022).

Arief menambahkan bahwa kasus TBC pada anak umumnya tidak menular, kecuali ditemukan keterlibatan TB pada paru yang aktif.

“TBC pada anak umumnya ekstra paru,” tegas dosen dari Departemen Pulmonologi & Ilmu Kedokteran Respirasi Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga tersebut.

TBC pada anak, lanjut Arief, adalah akibat tertular dari orang sekitarnya atau dari lingkungan keluarga yang menderita TBC paru. Penularan ini bisa diakibatkan oleh TB paru aktif, baik yang belum terdeteksi atau yang sudah terdeteksi namun belum menjalani pengobatan.

“Bahkan banyak dari lingkungan mereka yang dengan status TBC positif tapi sering tidak menyadari dan hal itu didukung dengan kontak intens dengan waktu yang cukup lama,” jelasnya.

Arief mengatakan, anak yang tertular TBC memiliki gejala yang hampir sama dengan batuk pada umumnya. Beberapa gejala penyakit TBC pada anak antara lain nafsu makan menurun, berat badan turun dan tidak naik atau naik namun tidak sesuai grafik tumbuh, gagal tumbuh, demam tidak tinggi yang kronik atau berulang dengan penyebab yang tidak jelas, anak tidak aktif seperti nampak lemas, letih dan malaise kronik serta batuk kronik selama kurang lebih dua minggu.

“Orang tua seringkali tidak menyadari jika anak mereka terinfeksi TBC, sehingga mereka hanya memberikan perawatan biasa tanpa memeriksakan ke puskesmas atau dokter umum,” jelas Arief.

Lebih lanjut, Arief juga menjelaskan bahwa faktor kekebalan tubuh anak menjadi salah satu hal penting yang berpengaruh pada proses penularan. Terlebih anak dengan kondisi gizi buruk atau stunting cenderung memiliki daya tahan tubuh yang lemah sehingga dapat dengan mudah terinfeksi TBC.

“Pada anak stunting atau kurang gizi umumnya proses penularan cenderung lebih cepat dikarenakan TBC dapat dengan mudah masuk di kondisi pasien dengan kekebalan tubuh yang rendah,” jelas Arief.

Arief mengimbau para orang tua agar lebih jeli membedakan batuk biasa pada anak dan gejala TBC. Apabila anak sudah mulai bergejala, segera lakukan pemeriksaan ke pusat layanan kesehatan. Kini pelayanan pengobatan TBC tersedia di puskesmas terdekat sehingga lebih mudah dijangkau masyarakat.

Arief mengatakan, penanggulangan TBC merupakan program nasional, pelayanan pasien tuberkulosis dengan strategi DOTS atau Directly Observed Treatment Shortcourse. Program ini tentunya akan membantu masyarakat dalam pengobatan dan skrining TBC.

“Saat ini pemerintah sudah memberikan akses obat gratis dan perawatan yang mudah dijangkau masyarakat dalam mengobati penyakit TBC. Banyak program seperti DOTS yang masuk di tengah masyarakat dan bisa diakses di puskesmas terdekat. Pengobatan TB Paru pada anak akan semakin baik apabila penanganan diberikan secara cepat,” tandasnya mengakhiri keterangan.

(bus/pkip/bti)

RELATED ARTICLES

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Most Popular