
SURABAYA, CAKRAWARTA.com – HRM Khalilur R Abdullah Sahlawiy atau Gus Lilur menyatakan memilih menahan diri untuk tidak lagi terus berbicara mengenai persoalan dugaan suap dalam Muktamar Nahdlatul Ulama (NU).
Sikap tersebut diambil setelah Gus Lilur mengaku mendapat komunikasi intensif dari empat orang yang memintanya menahan diri dan tidak terus menyuarakan persoalan tersebut.
Menurut Gus Lilur, empat orang tersebut terdiri atas dua sahabat yang telah dianggapnya seperti saudara, seorang kiai alim NU, dan seorang pengasuh pesantren besar.
“Beliau berempat meminta saya menahan diri untuk tidak terus bersuara soal suap muktamar. Saya sanggupi,” ujar Gus Lilur dalam pernyataannya, Minggu (4/10/2026).
Gus Lilur menjelaskan bahwa keputusan untuk menahan diri bukan berarti dirinya menarik kembali berbagai hal yang sebelumnya telah disampaikannya kepada publik.
Ia mengatakan, seluruh hal yang menurutnya perlu disampaikan telah dituangkan dalam sebuah risalah yang telah dipublikasikan melalui sejumlah media. Risalah tersebut berjudul “NU, Gus Dur dan Bromocorah Politik.”
Menurut Gus Lilur, setelah risalah tersebut dipublikasikan, ia menganggap kewajibannya untuk menyampaikan hal-hal yang ingin disampaikannya kepada publik telah ditunaikan.
“Jadi, hal yang harus disampaikan sudah tunai saya lakukan. Maka, saya sanggupi untuk diam,” katanya.
Gus Lilur selanjutnya menyatakan akan menghormati permintaan untuk menahan diri tersebut. Ia memilih tidak kembali memperpanjang pernyataannya mengenai persoalan yang sebelumnya telah ia soroti.
Namun, ia memberikan catatan mengenai kemungkinan apabila sikap diam tersebut justru diikuti dengan serangan terhadap dirinya.
Gus Lilur mempertanyakan apa yang akan dilakukannya apabila dalam posisi diam ia justru diserang atau diajak berhadapan secara terbuka. “Bagaimana kalau saat diam saya diserbu? Diserang dan diajak berperang?” ujarnya.
Ia kemudian menegaskan akan memberikan respons apabila serangan tersebut ditujukan kepadanya. “Saya akan menyerang jika diserang, saya akan menyerbu jika diserbu,” tegas Gus Lilur.
Pernyataan tersebut disampaikan Gus Lilur sebagai penegasan bahwa pilihannya untuk diam bukan berarti ia mengabaikan perkembangan persoalan yang sebelumnya telah disampaikannya.
Ia memilih menahan diri setelah merasa seluruh hal yang perlu disampaikan telah dituangkan dalam risalah yang telah dipublikasikan.
Mengamati Peristiwa di Indonesia
Lantas, apa yang akan dilakukan Gus Lilur selama memilih diam? Ia mengatakan akan mengamati berbagai peristiwa yang terjadi di Indonesia sembari mendoakan Presiden Prabowo Subianto agar berhasil membawa perbaikan bagi bangsa.
“Menonton banyak peristiwa di Republik tercinta sambil mendoakan Presiden RI Prabowo Subianto sukses membawa perbaikan pada Indonesia,” kata Gus Lilur.
Ia kemudian menutup pernyataannya dengan menyerukan semangat amar makruf nahi mungkar serta keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.
“Salam amar makruf nahi mungkar. Salam keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia,” ujarnya mengakhiri pernyataannya.(*)
Kontributor: Tommy
Editor: Abdel Rafi








