
BANYUWANGI, CAKRAWARTA.com – Di tengah menjamurnya kafe sebagai ruang berkumpul anak muda, Majelis Wakil Cabang Nahdlatul Ulama (MWCNU) Kota Banyuwangi mencoba menghadirkan sesuatu yang berbeda: buku. Melalui gerakan sederhana berbagi buku, organisasi ini berupaya menumbuhkan ruang baca alternatif di ruang-ruang publik.
Sejumlah buku disumbangkan ke beberapa kafe yang menyediakan sudut baca di Banyuwangi. Harapannya, buku dapat hadir lebih dekat dengan masyarakat, terutama generasi muda yang akrab dengan budaya nongkrong di kafe.
“Kami ingin menumbuhkan ruang baca alternatif. Jika anak-anak muda tidak selalu datang ke perpustakaan, setidaknya buku bisa hadir di tempat mereka biasa berkumpul,” kata Wakil Ketua NU Kota Banyuwangi Meidian Fauzi Mubarok, Rabu (11/3/2026).
Menurut Meidian, kafe kini telah menjadi salah satu ruang sosial penting bagi anak muda. Karena itu, ruang-ruang publik semacam ini juga perlu menghadirkan konten edukatif, termasuk buku sebagai sumber pengetahuan.
Ia berharap para pengelola kafe turut menyediakan sudut baca yang dapat dimanfaatkan pengunjung.
“Meski belum tentu semua pengunjung tertarik membaca, setidaknya kehadiran buku bisa menjadi pengingat bahwa belajar dan membaca tetap penting,” ujarnya.
Buku-buku yang didonasikan sebagian besar bertema edukasi tentang Nahdlatul Ulama dan tokoh-tokohnya. Penyaluran buku dilakukan bekerja sama dengan Komunitas Pegon Banyuwangi.
Beberapa judul yang dibagikan antara lain Selawat Badar: dari Banyuwangi untuk Dunia, Muhibah NU ke Jepang, serta KH Dailami Ahmad: Keteladanan Penjaga Ilmu. Buku-buku tersebut ditempatkan di sejumlah kafe, di antaranya Kulino Cafe, Sukaria, dan Kalasan Hub and Goods.
Minimnya Infrastruktur Literasi
Ketua MWCNU Banyuwangi Barur Rohim mengatakan, gerakan berbagi buku ini juga menjadi upaya kecil untuk membangun kembali ekosistem literasi di Banyuwangi.
Menurut dia, kondisi literasi di kota tersebut patut menjadi perhatian. Salah satu indikatornya adalah semakin berkurangnya toko buku fisik.
“Sekarang di Kota Banyuwangi hampir tidak ada lagi toko buku. Toga Mas yang dulu menjadi penanda literasi kota sudah tutup beberapa waktu lalu, menyusul sejumlah toko buku lokal yang lebih dulu berhenti beroperasi,” kata Barur.
Ia mengakui, perubahan pola konsumsi masyarakat termasuk pergeseran belanja ke platform daring, ikut memengaruhi keberlangsungan toko buku. Namun, menurutnya, hilangnya toko buku tidak seharusnya menjadi akhir dari tradisi literasi.
Barur mengutip pandangan penulis Inggris Neil Gaiman yang menyebut keberadaan toko buku sebagai salah satu penanda peradaban sebuah kota.
“Jika sebuah kota tidak memiliki toko buku, kita perlu bertanya kembali tentang kondisi literasinya,” ujarnya.
Ia menilai toko buku masih memiliki peluang bertahan dengan pendekatan baru, misalnya menghadirkan toko buku kecil yang intim dan menjadi destinasi literasi.
Beberapa contoh yang ia sebut antara lain Patjarmerah dan Kobam Menteng di Jakarta, serta Buku Akik dan Solusi Buku di Yogyakarta yang memadukan toko buku dengan ruang diskusi atau wisata literasi.
Namun demikian, menurut Barur, penguatan ekosistem literasi tidak bisa sepenuhnya diserahkan pada mekanisme pasar.
“Pemerintah daerah juga perlu hadir, misalnya melalui dukungan promosi atau insentif tertentu agar ruang-ruang literasi dapat terus tumbuh,” kata dia.(*)
Editor: Tommy dan Abdel Rafi



