Bicara Blak-blakan Soal Muktamar NU, Gus Kikin: Siap Maju, Tapi Tolak ‘Politik Segala Cara’

Ketua PWNU Jatim Gus Kikin (depan, kanan) didampingi  Masykuri Bakri dalam momen Musyawarah Nasional IKAPETE di Pesantren Tebuireng, Jombang. (foto: PWNU Jatim untuk Cakrawarta)

JOMBANG, CAKRAWARTA.com – Ketua Tanfidziyah PWNU Jawa Timur, KH Abdul Hakim Mahfudz, berbicara blak-blakan terkait dinamika menjelang Muktamar ke-35 Nahdlatul Ulama. Ia menyatakan siap maju jika mendapat dorongan, namun dengan tegas menolak praktik politik yang menghalalkan segala cara.

“Kalau saya didorong, ya jalan. Itu bagian dari menjalankan amanah. Tapi kalau tidak ada yang mendorong, juga tidak masalah. Yang penting, saya tidak meminta,” ujar Gus Kikin di Jombang, Minggu (19/4/2026).

Ia menambahkan, dalam kontestasi sebesar muktamar, etika harus tetap dijaga. Menurut dia, dorongan untuk maju tidak boleh disertai praktik yang melanggar nilai-nilai dasar organisasi. “Yang penting juga, jangan mendorong dengan menghalalkan segala cara. Itu tidak saya inginkan,” katanya.

Pernyataan itu disampaikan di sela Musyawarah Nasional IKAPETE di Pesantren Tebuireng, didampingi Ketua Umum IKAPETE Masykuri Bakri.

Di tengah menghangatnya isu muktamar, Gus Kikin menekankan bahwa hal paling mendasar bagi Nahdlatul Ulama bukan sekadar perebutan posisi, melainkan penguatan arah gerakan organisasi dengan kembali pada Qonun Asasi. “NU harus kembali ke Qonun Asasi, mengikuti AD/ART. NU itu harakah, gerakan. Para muassis mengajarkan ukhuwah, persatuan, dan keteladanan,” ujarnya.

Pengasuh Tebuireng itu menilai, kekuatan utama NU terletak pada soliditas dan keteladanan para pemimpinnya. Jika nilai-nilai itu terjaga, organisasi akan tetap menjadi kekuatan sosial yang mampu menggerakkan masyarakat luas. “Kalau NU solid, ukhuwah terjaga, dan memberi contoh yang baik, dampaknya besar bagi bangsa. Karena warga NU jumlahnya sangat banyak,” katanya.

Ia juga mengingatkan peran historis NU dalam perjalanan bangsa. Menurut dia, keberhasilan Indonesia mempertahankan kemerdekaan tidak lepas dari kemampuan para ulama dalam menggerakkan umat. “Kalau saat itu para pemimpin NU tidak mampu menggerakkan masyarakat dan santri melalui ukhuwah dan keteladanan, Indonesia mungkin tidak akan seperti sekarang,” tutur Gus Kikin.

Lebih jauh, ia menyinggung akar global NU sejak awal berdiri. Pembentukan Komite Hijaz, misalnya, merupakan respons atas dinamika internasional yang kemudian melahirkan Jam’iyah Nahdlatul Ulama sebagai organisasi resmi. “NU sejak awal bukan hanya organisasi lokal, tapi punya pandangan global. Itu yang harus dijaga, bersama nilai-nilai dasarnya,” katanya.

Sementara itu, Masykuri Bakri berharap Muktamar ke-35 NU menjadi momentum memperkuat persatuan internal organisasi. “NU harus kembali pada khittah yang dirintis Hasyim Asy’ari. Persatuan dan kesatuan adalah kunci utama. Kalau keluar dari rel, harus dikembalikan ke relnya,” ujar Masykuri.

Sebelumnya, dalam Musyawarah Kerja Wilayah di Tuban pada 11-12 April 2026, PWNU Jawa Timur mengusulkan sejumlah agenda strategis, antara lain pelembagaan Aswaja Center dan penguatan gerakan ekonomi warga melalui konsep “NUConomic”.

Usulan tersebut diharapkan dapat memperkaya pembahasan dalam muktamar mendatang, yang tidak hanya menentukan kepemimpinan, tetapi juga arah dan masa depan gerakan Nahdlatul Ulama.(*)

Kontributor: Cak Edy

Editor: Abdel Rafi