Tuesday, January 31, 2023
HomeSains TeknologiKesehatanAtasi Stunting, Unair Bersama Konsorsium Kampus se-Jatim Wujudkan 180 Desa EMAS 

Atasi Stunting, Unair Bersama Konsorsium Kampus se-Jatim Wujudkan 180 Desa EMAS 

Siti R Nadhiroh (depan, pegang mik) Koordinator Program Desa EMAS saat memberikan pemaparan dalam diseminasi hasil Desa EMAS di ASEEC Kampus B Unair, Surabaya, hari ini, Senin (12/12/2022). (foto: syahril)

SURABAYA – Konsep Desa EMAS merupakan gagasan dari Unair dan 19 perguruan tinggi di Jawa Timur, bekerjasama dengan mitra BKKBN, untuk mewujudkan percepatan penurunan stunting hingga di level desa. Untuk itu, telah tercipta konsorsium perguruan tinggi Jawa Timur (sebagai kepanjangan tangan dari Forum Rektor Indonesia), dipimpin oleh Unair, melalui pendanaan dari Kemendikbudristek skema matching fund Kedaireka. Saat ini tim Desa EMAS telah bekerja bersama desa, kecamatan dan kabupaten untuk mewujudkan Desa/Kampung Emas di Jawa Timur dan telah dikirim 540 mahasiswa dari berbagai PT ke 180 desa lokus stunting di 18 Kabupaten/Kota se Jawa Timur, dan telah berlangsung secara bergelombang sejak bulan Agustus dan berakhir pada minggu ke 2 Desember 2022.

“Kata EMAS merupakan singkatan dari eliminasi stunting, harapannya desa-desa yang menjadi lokasi program kami mampu mewujudkan diri menjadi desa EMAS melalui pendampingan dari kami,” tutur Siti R Nadhiroh, selaku koordinator Program Desa EMAS, Senin (12/12/2022), disela-sela diseminasi hasil Desa EMAS di ASEEC Kampus B Unair.

Adapun konsorsium PT terdiri dari Universitas Airlangga, Institut Teknologi Sepuluh November, Universitas Brawijaya, UPN Surabaya, Universitas Negeri Surabaya, Universitas Jember, Poltekkes Kemenkes Surabaya, Universitas Islam Negeri Sunan Ampel, Universitas Trunojoyo Madura, Poltekkes Kemenkes Malang, Universitas Darul Ulum Jombang, Universitas Nahdatul Ulama Surabaya, Universitas Surabaya, Universitas Muhammadiyah Malang, Universitas Muhammadiyah Surabaya, Universitas Muhammadiyah Gresik, Universitas Islam Malang, STKIP PGRI Pacitan, Politeknik Negeri Madura dan Universitas Ciputra Surabaya.

Sedangkan 18 Kabupaten/Kota yang menjadi lokasi untuk 180 Desa/kampung Emas, antara lain: Surabaya, Bangkalan, Sumenep, Pamekasan, Kab. Mojokerto, Kab. Jombang, Kab Pasuruan, Kab Nganjuk, Kab Bondowoso, Kab Bojonegoro, Kab Malang, Kota Malang, Kab Tuban, Kab Pacitan, Jember, Lumajang, Gresik dan Kab Probolinggo.

“Pemilihan Kabupaten/Kota tersebut didasarkan hasil survei status gizi Indonesia (SSGI) tahun 2021, dimana prevalensi stunting nya masih diatas 20%,” tukas Nadhiroh, yang juga dosen Gizi FKM Unair.

Adapun Desa EMAS, perwujudannya melalui pendekatan 5 pilar, yaitu: 1) Penguatan komitmen dan visi kepemimpinan pemerintah daerah hingga desa, 2) Peningkatan komunikasi perubahan perilaku dan pemberdayaan masyarakat, 3) Peningkatan konvergensi intervensi spesifik dan intervensi sensitif, 4) Peningkatan ketahanan pangan dan gizi pada tingkat individu, keluarga, dan masyarakat desa, dan 5) Penguatan dan pengembangan sistem, data, informasi, riset, dan inovasi.

Sementara itu, dalam kesempatan launching Desa EMAS saat Dies Natalis Unair lalu, Gubernur Jawa Timur Khofifah menyambut baik program tersebut.

“Ini adalah hal yang sangat strategis diinisiasi Universitas Airlangga dan konsorsium 19 perguruan tinggi di Jawa Timur, program yang sangat mulia untuk menurunkan stunting,” ujar Khofifah yang juga Ketua PP IKA Unair itu.

(bus/bti)

RELATED ARTICLES

9 COMMENTS

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

Most Popular