KTT G20 Dinilai Untungkan Indonesia, Ketum BAPERA: Inilah Kekuatan Silaturahim Lintas Negara!

Ketua Umum DPP BAPERA Fahd el-Fouz A Rafiq (kanan) saat bersua dengan Menko Perekonomian Airlangga Hartarto di Jakarta beberapa waktu lalu. Ia memuji prestasi Presiden Jokowi dan Menko Airlangga Hartarto yang dinilai sukses dalam perhelatan KTT G20 di Bali pertengahan November 2022 lalu. (foto: istimewa)

JAKARTA – Ketua Umum Dewan Pengurus Pusat Barisan Pemuda Nusantara (Ketum DPP BAPERA) Fahd el-Fouz A Rafiq menampik tudingan bahwa KTT G20 merupakan ajang yang hanya buang-buang anggaran dikarenakan tercatat anggaran sebesar Rp 2,7 Triliun yang harus digelontorkan pemerintah Indonesia sebagai tuan rumah.

“Pemerintah khususnya melalui Menko Perekonomian RI sangat cerdas dan jenius dalam memaksimalkan pertemuan KTT G20 di Bali. Benefit jangka panjang akan diterima Indonesia untuk ke depannya. Ketika banyak orang mencibir KTT G20 cuma menghabiskan anggaran tapi pemerintahan Presiden Joko Widodo mampu memaksimalkan itu semua. Investor dari negara-negara besar yang masuk Indonesia. Ini tentu tidak main-main. Inilah yang bisa disebut dengan kekuatan silaturrahim lintas negara yang membawa berkah untuk Indonesia,” ujar Fahd el-Fouz A Rafiq pada cakrawarta.com, Rabu (30/11/2022).

Menurut putra penyanyi dangdut ternama A Rafiq tersebut, ketika dunia sedang dilanda ekonomi gelap, pemerintah Indonesia dinilai mampu memaksimalkan tantangan tersebut dan akhirnya menjadikannya peluang, terutama untuk sektor perekonomian.

“Ketika dunia dalam keadaan resesi, Indonesia masih jadi tempat yang menarik untuk berivestasi dan ini akan berdampak baik untuk perekonomian kita. Indonesia melalui Bapak Airlangga Hartarto sangat cerdas dalam mengambil peluang pada KTT G20 kemarin di Bali, serta sangat baik dan lihai dalam mengkoordinasikan bidang-bidang dibawahnya untuk memajukan perekonomian Indonesia,” imbuh Fahd.

Fahd menegaskan bahwa KTT G20 memberikan dampak sampai Rp 8 Triliun dalam GDP Indonesia untuk tahun 2022 dan konsumsi domestik Indonesia naik hingga Rp 1,7 Triliun.

Disebutkan salah satu dampak positifnya adalah langkah Presiden AS Joe Biden yang mengumumkan secara terbuka terkait besaran investasi di Indonesia yang mencapai angka US$ 2,5 Miliar atau setara dengan angka Rp 38,82 Triliun dimana terdapat perjanjian antara Exxon Mobile dan Pertamina.

“Perjanjian itu kan menjadi bernilai dalam upaya penyerapan karbon yang menjadi penyebab pemanasan global dimana Indonesia sebagai salah satu negara yang menjadi paru-paru dunia. Ini peluang ekonomi bagi para pekerja Indonesia serta membantu cita-cita Indonesia guna mencapai nett-zero emisi karbon pada 2060 atau bahkan lebih cepat,” tegas Fahd.

Fahd juga kembali menegaskan bagaimana Amerika Serikat juga sepakat untuk meluncurkan program Millennium Challenge Corporation (MCC) senilai US$ 698 juta untuk mendukung pengembangan infrastruktur transportasi sadar iklim di lima provinsi di Indonesia.

“Jangan lupa, Tiongkok juga berinvestasi sebesar 5 miliar dollar AS untuk ekosistem kendaraan listrik di Indonesia. Dimana Menhub Budi Karya Sumadi mengklaim Jepang dan Inggris melirik dan berminat untuk berpartisipasi dalam proyek pengembangan angkutan massal perkotaan seperti MRT Jakarta yang ditandai dengan penandatanganan MoU antara Indonesia dengan Jepang dan Pemerintah Inggris di Nusa Dua, Bali, Senin (14/11/2022). MoU yang diteken, yakni pertama, Memorandum of Cooperation (MoC) antara RI dengan Jepang tentang kelanjutan pembangunan MRT Jakarta East-West Line Phase 1. Kedua, Letter of Intent (LoI) antara RI dengan Inggris tentang Kerja Sama Pembangunan MRT Jakarta,” papar Fahd.

Tak cukup sampai di situ, Fahd menegaskan bagaimana juga terjadi kerjasama antara Indonesia dan Turki terkait produksi bus listrik di dalam negeri dan pembangunan jalan tol Trans Sumatra.

“Untuk bus listrik, kerja sama dilakukan oleh pabrikan bus listrik Karsan dari Turki dengan PT Schahmindo Perkasa (Credo Group). Sedangkan, proyek jalan tol Trans Sumatra dilakukan antara PT Hutama Karya dengan kontraktor Turki, ERG Insaat. Penandatanganan antar dunia usaha tersebut disaksikan oleh Menteri PUPR Basuki Hadimuljono dan Menlu Turki Mevlut Cavusoglu,” tukasnya.

Fahd penuh percaya diri menyatakan apa-apa yang telah disebutkannya tersebut merupakan bukti bahwa pertemuan KTT G20 memberikan untuk Indonesia.

“Ya inilah segelintir bukti bahwa pertemuan KTT G20 tersebut memberikan dampak positif bagi perekonomian Indonesia khususnya dan bukti kekuatan silaturahim lintas negara yang mampu menembus batas nalar kita. Jadi, sekali lagi tidak benar buang-buang anggaran. Justru dampaknya sangat luar biasa dan bersifat jangka panjang. Apresiasi untuk Presiden Jokowi dan Pak Menko Airlangga Hartarto,” pungkas pria yang juga merupakan Ketua Bidang Ormas DPP Partai Golkar itu.

(wah/bus/bti)