206 Relawan Kesehatan Dikirim ke Flores, Keselamatan Nakes dan Pemulihan Faskes Jadi Sorotan

Anggota Komisi IX DPR RI, Netty Prasetiyani Aher dalam ilustrasi berita.

JAKARTA, CAKRAWARTA.com –Sebanyak 206 relawan Tenaga Cadangan Kesehatan (TCK) dikerahkan ke Nusa Tenggara Timur untuk memperkuat pelayanan kesehatan bagi masyarakat terdampak gempa bumi di Pulau Flores. Anggota Komisi IX DPR RI Netty Prasetiyani Aher meminta pemerintah memastikan keselamatan tenaga kesehatan sekaligus mempercepat pemulihan fasilitas kesehatan yang terdampak.

Kementerian Kesehatan memberangkatkan 206 personel TCK ke NTT pada Senin (24/8/2026). Mereka ditugaskan selama 14 hari di enam wilayah yang terdampak berat, yakni Manggarai, Manggarai Timur, Ngada, Nagekeo, Ende, dan Sikka. Tim tersebut terdiri atas 128 tenaga kesehatan, termasuk dokter umum, dokter spesialis, perawat, bidan, dan tenaga farmasi, serta didukung 78 dokter internsip yang telah berada di Flores.

Netty mengatakan pengerahan tenaga kesehatan penting untuk menjaga kesinambungan layanan medis ketika sejumlah fasilitas kesehatan di daerah terdampak mengalami kerusakan. Namun, ia mengingatkan agar keselamatan dan kondisi fisik tenaga kesehatan tidak diabaikan selama menjalankan tugas kemanusiaan.

“Dalam situasi bencana, kehadiran tenaga kesehatan sangat dibutuhkan. Tetapi kita juga harus memastikan mereka bekerja dalam kondisi yang aman, mendapat waktu istirahat yang cukup, dan tidak dipaksa mengabaikan keselamatan diri atas nama pengabdian,” ujar Netty dalam keterangannya, Kamis (27/8/2026).

Pesan mengenai keselamatan tenaga kesehatan juga menjadi perhatian Kementerian Kesehatan. Saat melepas para relawan, Sekretaris Jenderal Kemenkes Kunta Wibawa Dasa Nugraha mengingatkan bahwa relawan berangkat untuk membantu korban, bukan menjadi korban berikutnya. Para personel juga diminta bekerja sebagai satu tim dan tidak mengabaikan kondisi fisik selama bertugas.

Layanan Kesehatan Pascabencana

Netty mengatakan penanganan kesehatan pascagempa tidak boleh hanya berorientasi pada korban luka. Pemerintah perlu mengantisipasi berbagai persoalan kesehatan yang dapat muncul di tempat pengungsian, terutama akibat keterbatasan air bersih, sanitasi, tempat tinggal, dan akses terhadap layanan kesehatan.

Risiko tersebut antara lain penyakit infeksi saluran pernapasan, dehidrasi, gangguan gizi, serta masalah kesehatan yang lebih rentan dialami kelompok seperti anak-anak, lansia, dan masyarakat dengan kebutuhan medis tertentu.

Kebutuhan pemulihan layanan kesehatan juga menjadi perhatian pemerintah. Kemenkes menyatakan hingga 26 Agustus telah mengerahkan 392 tenaga kesehatan dan mendirikan dua rumah sakit lapangan berbasis tenda udara di Aeramo, Kabupaten Nagekeo, dan RSUD Ruteng, Kabupaten Manggarai. Langkah itu dilakukan untuk memastikan layanan medis tetap berjalan sekaligus mengurangi risiko bagi pasien dan tenaga kesehatan akibat kemungkinan gempa susulan.

“Setelah fase tanggap darurat, perhatian harus bergeser pada pemulihan layanan kesehatan. Puskesmas dan rumah sakit yang rusak harus segera dipulihkan agar masyarakat tidak terus bergantung pada layanan darurat,” kata Netty.

Gempa bermagnitudo 7,7 yang mengguncang Flores pada 15 Agustus 2026 berdampak luas terhadap masyarakat di NTT. Data Kemenkes per 23 Agustus yang digunakan saat pengerahan awal TCK mencatat sekitar 1,9 juta jiwa terdampak, 91 orang meninggal dunia, ratusan orang luka-luka, dan 161.874 warga mengungsi.

Data Kemenkes yang diperbarui pada 26 Agustus menunjukkan dampak bencana terus berkembang. Hingga saat itu, tercatat 105 orang meninggal, 385 korban mengalami luka berat, 1.287 orang luka ringan, dan lebih dari 185.000 warga berada di 444 titik pengungsian.

Perkuat Kesiapsiagaan

Melihat besarnya dampak bencana, Netty mendorong pemerintah memperkuat sistem TCK agar dapat dimobilisasi dengan cepat ketika terjadi bencana di berbagai daerah.

Menurut dia, Indonesia sebagai negara yang rawan bencana membutuhkan sistem kesiapsiagaan kesehatan yang terencana. Ketersediaan tenaga cadangan perlu diikuti rencana kontinjensi, dukungan logistik, fasilitas kesehatan darurat, dan mekanisme koordinasi yang jelas.

“Bencana bisa datang kapan saja. Kita perlu memastikan setiap daerah memiliki rencana kontinjensi kesehatan, tenaga cadangan yang siap dimobilisasi, serta dukungan logistik dan fasilitas yang memadai,” ujarnya.

Netty berharap pemerintah pusat dan daerah, tenaga kesehatan, relawan, serta masyarakat dapat bekerja secara terpadu hingga pelayanan kesehatan di wilayah terdampak kembali pulih.

“Prioritas kita jelas: korban tertangani, kelompok rentan terlindungi, tenaga kesehatan juga selamat, dan layanan kesehatan daerah dapat segera kembali normal,” katanya.(*)

Kontributor: Ali Hasibuan 

Editor: Abdel Rafi