Kepahlawanan Yang Nyaris Hilang

(foto: buku biografi Ayoeba Wartabone di tengan koleksi buku-buku tentang Gorontalo dari koleksi pribadi buku-buku di ReO Biblothek Kokima Hill, Manado)

“Sejarah pemikiran, dan oleh karena itu seluruh sejarah, adalah pengulangan pemikiran masa lalu dalam pikiran sejarawan itu sendiri.” — R.G. Collingwood (1889-1943), The Idea of History (1946).

Sejarah tokoh bisa terselamatkan andai saja ada satu fakta kecil bisa ditemukan oleh penekun literasi sejarah.

Fakta ini sering dikaitkan dengan gaya penulisan sejarawan annales dengan istilah “le petite histoire”.

Adalah Basri Amin, sejarawan alumni pascasarjana East West Centre Universitas Hawai dan Leiden, dengan dukungan keluarga besar cucu Ayoeba Wartabone yang merupakan putra-putra mantan Walikota Gorontalo 1960-an, Taki Niode, yang menikahi putri Ayoeba Wartabone, Suus Wartabone.

Dari penikahan putri Ayoeba Wartabone, Suus Wartabone dan Taki Niode, lahirlah Ruland, Mochtar, dan Pulu Niode.

Dari mereka ini lahir pula ikhtiar menghidupkan kembali sejarah kepahlawanan, kakek mereka, Ayoeba Wartabone sebagai founding person berdirinya NKRI, dilegasikan lewat sebuah buku.

Buku Ayoeba Wartabone (1894-1957), Sekali ke Djokja Tetap ke Dhokja: Biografi Gagasan dan Kepemimpinan dari Gorontalo untuk Indonesia Bersatu (Cetakan ketiga 2026) karya Basri Amin adalah sebuah usaha monumental untuk menempatkan Ayoeba Wartabone dalam peta sejarah nasional.

Ia bukan sekadar tokoh lokal, melainkan pemimpin yang gagasannya tentang persatuan Indonesia lahir dari denyut Gorontalo.

Basri menekankan bahwa kepahlawanan Ayoeba Wartabone nyaris hilang dari ingatan kolektif bangsa.

Padahal dari gagasan NIT hingga Goodwill Mission-nya, ia adalah figur yang menyalakan api nasionalisme dari daerah.

Dalam membaca karya ini, kita teringat pada Thomas Carlyle, sejawaran Amerika, dalam bukunya Heroes and Hero Worship (1841), yang menegaskan bahwa sejarah dunia sesungguhnya adalah sejarah para pahlawan.

Carlyle menulis, “The history of the world is but the biography of great men” yang berarti, “sejarah dunia hanyalah biografi orang-orang hebat.”

Frasa ini seakan menemukan relevansinya dalam sosok Ayoeba Wartabone, yang gagasan dan kepemimpinannya menjadi fondasi bagi lahirnya Indonesia merdeka.

Basri Amin, dengan gaya akademik yang reflektif, menghidupkan kembali narasi kepahlawanan yang hampir terhapus oleh arus besar sejarah nasional yang lebih sering menyoroti tokoh-tokoh dari Jawa.

Buku setebal 434 halaman ini dipenuhi arsip-arsip, dokumen, foto-foto dan rujukan otentik ditafsir sedemikian rigid dengan dua metodologi penulisan sejarah yang relevan dan sangat aktual yaitu heuristik dan hermeneutik yang sangat ketat.

Bagi penulisan filsafat sejarah dengan pendekatan ketokohan atau kepahlawanan membutuhkan upaya penulisan ulang dengan merujuk pada R.G. Collingwood (1889-1943) dalam The Idea of History (1946).

Selain metode heuristik (harafiah:menemukan), bagi filsuf sejarah Inggris, R.G. Collingwood sendiri, sejarah adalah proses menemukan kembali makna tindakan manusia.

Ia menolak pandangan bahwa sejarah hanyalah kumpulan fakta, sebab sejarawan harus menghidupkan kembali pikiran tokoh masa lalu.

Dengan cara itu, sejarah tidak berhenti sebagai arsip peristiwa, melainkan menjadi filsafat tentang bagaimana gagasan manusia bekerja dan diwariskan.

Ketokohan dalam pandangan ini bukan sekadar tindakan heroik, melainkan gagasan yang diwujudkan melalui tindakan.

Pahlawan dipahami karena ide yang mereka bawa, bukan hanya karena peristiwa yang mereka alami.

Heuristik sebagai metode menuntut sejarawan untuk menemukan kembali makna tindakan tokoh, sehingga kepahlawanan tetap relevan bagi masa kini.

Sejarah pun tampil sebagai filsafat, karena Collingwood menempatkannya sebagai ilmu tentang pikiran manusia, bukan sekadar kronologi.

Dengan pendekatan heuristik Collingwood, kepahlawanan dapat dipahami sebagai proses penemuan kembali gagasan tokoh dalam konteks baru.

Hal ini membuat sejarah tokoh tidak pernah mati, melainkan selalu hidup dalam pikiran generasi yang menafsirkannya.

Sejarawan yang menulis tentang tokoh berarti menghidupkan kembali gagasan mereka, dan dengan itu kepahlawanan menjadi jembatan antara masa lalu dan masa kini.

Di sisi lain, Jonathan Black dalam The Secret History of the World (2007) mengingatkan bahwa sejarah sering kali menyembunyikan lapisan-lapisan makna, bahwa ada dunia rahasia di balik narasi resmi.

Membaca buku Basri Amin melalui lensa Black, kita melihat bagaimana kepahlawanan Ayoeba Wartabone adalah bagian dari “sejarah tersembunyi” bangsa: sebuah kepahlawanan yang tidak tercatat dalam buku-buku teks sejarah resmi, tetapi hidup dalam ingatan komunitas Gorontalo.

Basri Amin berhasil menjembatani dua dunia yakni dunia akademik yang menuntut dokumentasi dan analisis, serta dunia memori kolektif yang menuntut pengakuan.

Ia menulis bukan hanya untuk mengabadikan Wartabone, tetapi juga untuk menegaskan bahwa kepahlawanan lokal adalah bagian integral dari narasi nasional.

Dengan demikian, buku ini adalah sebuah resensi atas kepahlawanan yang nyaris hilang, namun kini kembali hadir sebagai cahaya yang menuntun bangsa untuk menghargai keberagaman sumber sejarahnya.

*Ditulis sebagai resensi kecil atas peluncuran buku Ayoeba Wartabone (1898-1957) pada acara Raker dan Pengukuhan Pengurus Lamahu Sulsel, Sulut, Sultra, Sulteng, Malut, Papua dan Jabar di Makassar 15-17 Juni 2026 di Ballroom Hotel Aryaduta oleh Ketua DPP Lamahu, Prof. Dr. Ir. Fadel
Muhammad sekaligus Anggota DPD RI Dapil Gorontalo 2024-2029.

Makassar-Manado 17 Juni 2026

REINER EMYOT OINTOE

Ketua Lamahu Sulawesi Utara periode 2026-2031

 

#coverlagu: Versi terbaru lagu daerah Gorontalo Hulonthalo Lipu’u dinyanyikan oleh penyanyi muda Nasyithah Salsabila dan resmi dirilis pada tahun 2026 sebagai bagian dari gerakan pelestarian musik etnik kontemporer Gorontalo. Aransemen ini menghadirkan nuansa pop-etnik dengan sentuhan vokal khas generasi muda.