
MADIUN, CAKRAWARTA.com – Tumpukan galon dan botol plastik bekas yang biasanya berakhir di tempat sampah justru menjadi sumber manfaat bagi warga Desa Dagangan, Kecamatan Dagangan, Kabupaten Madiun. Berkat kreativitas dan semangat gotong royong yang digerakkan seorang prajurit TNI AD, limbah plastik itu disulap menjadi berbagai kerajinan bernilai ekonomi yang hasilnya digunakan untuk membantu para lansia.
Sosok di balik gerakan tersebut adalah Sertu Nurdin, anggota TNI AD yang sehari-hari berdinas di Korem 081/DSJ. Selain mengemban tugas sebagai prajurit, ia juga dipercaya menjadi Ketua RT 02 RW 01 Desa Dagangan dan aktif mengajak warga memanfaatkan barang-barang bekas menjadi sesuatu yang lebih bermanfaat.
Dari tangan-tangan kreatif warga, galon dan botol bekas air mineral diubah menjadi beragam produk, mulai dari pot tanaman, tempat sampah, vas bunga hingga tempat pensil. Kegiatan yang semula hanya bertujuan mengurangi limbah plastik itu kemudian berkembang menjadi gerakan sosial yang membawa manfaat lebih luas bagi masyarakat.
Yang membuat banyak orang kagum, keuntungan dari penjualan kerajinan tersebut tidak dinikmati secara pribadi. Seluruh hasilnya dikumpulkan dan dialokasikan untuk membantu warga lanjut usia yang sudah tidak mampu bekerja.
“Uang hasil membuat kerajinan itu kami kumpulkan. Nanti setiap bulan kami belikan sembako untuk warga-warga yang lanjut usia dan sudah tidak bisa bekerja lagi,” ujar Nurdin, Minggu (31/5/2026).
Menurut dia, kegiatan tersebut lahir dari kepedulian warga untuk saling membantu dengan memanfaatkan potensi yang ada di lingkungan sekitar. Meski berangkat dari langkah sederhana, dampaknya dirasakan langsung oleh masyarakat.
Tak hanya membantu para lansia, sebagian hasil penjualan juga digunakan untuk mendukung pembangunan lingkungan. Dana yang terkumpul dimanfaatkan untuk memperbaiki lampu penerangan jalan, membantu perawatan fasilitas umum, hingga mendukung pembangunan infrastruktur lingkungan.
“Selain untuk membantu warga yang kurang mampu, uang hasil penjualan juga kami gunakan untuk membangun lingkungan, seperti perbaikan lampu penerangan dan infrastruktur jalan. Jadi seluruh warga bisa merasakan manfaatnya,” katanya.
Nurdin menuturkan, gerakan itu berawal dari program penghijauan yang digagas warga di tingkat RT. Saat itu, galon bekas dimanfaatkan sebagai pot untuk menanam berbagai tanaman produktif seperti cabai, terong, dan kangkung.
Namun seiring waktu, kreativitas warga terus berkembang. Mereka mulai membuat berbagai model pot yang unik dan menarik, termasuk berbentuk karakter. Produk-produk tersebut ternyata mendapat respons positif dari masyarakat dan memiliki nilai jual yang cukup baik.
Kini, hasil kerajinan warga Desa Dagangan tidak hanya dikenal di Kabupaten Madiun. Pemasarannya telah menjangkau berbagai daerah di Jawa Timur, antara lain Ngawi, Ponorogo, Magetan, Nganjuk, Mojokerto, dan sejumlah wilayah lainnya.
Di tengah meningkatnya persoalan sampah plastik dan tantangan ekonomi masyarakat, apa yang dilakukan warga Dagangan menunjukkan bahwa kepedulian sosial bisa lahir dari hal-hal sederhana. Barang yang semula dianggap tak bernilai kini berubah menjadi sumber penghidupan, sarana pembangunan lingkungan, sekaligus jalan untuk membantu mereka yang membutuhkan.
Melalui gerakan tersebut, Sertu Nurdin dan warga Desa Dagangan membuktikan bahwa semangat pengabdian tidak hanya diwujudkan melalui tugas negara, tetapi juga lewat aksi nyata di tengah masyarakat. Dari sampah plastik yang diolah dengan kreativitas dan gotong royong, lahirlah manfaat yang setiap bulan hadir dalam bentuk sembako bagi para lansia yang membutuhkan.(*)
Kontributor: Arwang
Editor: Abdel Rafi








