Viva Yoga Ceritakan Tradisi Menulis Aktivis HMI dan Lahirnya Dua Buku

Viva Yoga saat menerima tim Britishpedia di Jakarta, Kamis (2/7/2026). 

JAKARTA, CAKRAWARTA.com – Wakil Menteri Transmigrasi Viva Yoga Mauladi mengenang tradisi intelektual yang tumbuh di lingkungan Himpunan Mahasiswa Islam (HMI), salah satunya melalui budaya menulis di media massa. Dari tradisi tersebut, ia mengaku berhasil menerbitkan dua buku yang lahir dari gagasan dan pengalaman selama aktif sebagai kader HMI.

Kisah itu disampaikan Viva Yoga saat menerima tim Britishpedia di Jakarta, Kamis (2/7/2026). Britishpedia merupakan ensiklopedia yang mendokumentasikan perjalanan hidup dan kiprah sejumlah tokoh nasional.

“Saat masih aktif di HMI, saya menulis berbagai artikel di media massa. Tulisan-tulisan itu kemudian saya kumpulkan menjadi buku berjudul HMI: Kader Umat, Kader Bangsa,” ujar Viva Yoga.

Ia mengatakan, pada masa itu menembus halaman opini surat kabar nasional bukan perkara mudah. Persaingan antarkontributor sangat ketat sehingga setiap tulisan dituntut memiliki kualitas dan perspektif yang kuat.

“Menulis di koran waktu itu sangat kompetitif,” katanya.

Viva Yoga menyebut sejumlah media yang pernah memuat tulisannya, antara lain Harian Kompas, Media Indonesia, Jawa Pos, Suara Pembaruan, Pelita, dan Republika. Bersama sejumlah aktivis HMI lainnya, seperti Anas Urbaningrum dan Alfan Afian, ia rutin mengirimkan artikel ke berbagai media nasional.

Selain HMI: Kader Umat, Kader Bangsa, Viva Yoga juga menulis buku Civil Society: Harapan dan Prospek di Indonesia Pasca Orde Baru. Menurut dia, buku tersebut lahir dari refleksi atas dinamika gerakan Reformasi yang menempatkan masyarakat sipil sebagai salah satu kekuatan penting dalam demokrasi Indonesia.

“Kekuatan reformasi adalah kekuatan dari civil society,” ujarnya.

Ia menjelaskan, civil society merupakan kekuatan masyarakat di luar struktur kekuasaan negara yang bersifat independen, kritis terhadap kebijakan publik, serta menjadi penyeimbang dalam kehidupan demokrasi. Pada masa Reformasi, kekuatan tersebut ditopang oleh mahasiswa, kelompok prodemokrasi, kalangan kelas menengah, dan berbagai elemen masyarakat sipil lainnya.

Selain menulis karya sendiri, Viva Yoga juga terlibat menyusun buku yang merekam pemikiran dan pengalaman tokoh senior HMI, Dahlan Ranuwihardjo, berjudul “Mengapa Bung Karno Tidak Membubarkan HMI.”

“Buku itu memuat banyak dokumen, surat-menyurat, dan kisah yang selama ini belum banyak diketahui publik,” katanya.

Viva Yoga menambahkan, budaya intelektual di HMI tidak hanya dibangun melalui aktivitas menulis, tetapi juga melalui diskusi dan pertukaran gagasan dengan para senior organisasi. Ia mengaku banyak belajar dari tokoh-tokoh HMI, antara lain Akbar Tanjung, Fahmi Idris, Ahmad Tirtosudiro, Firdaus Wajdi, Sugeng Sarjadi, Harun Kamil, dan Anis Kamaluddin.

Menurutnya, tradisi membaca, berdiskusi, dan menulis yang berkembang di HMI telah membentuk cara berpikir sekaligus menjadi bekal dalam perjalanan hidup dan pengabdiannya di ruang publik.

“Bagi saya, HMI bukan hanya tempat berorganisasi, tetapi juga ruang belajar untuk membangun tradisi intelektual melalui membaca, berdiskusi, dan menulis,” ujar Viva Yoga.(*)

Kontributor: Ardi W

Editor: Abdel Rafi