
PONOROGO, CAKRAWARTA.com –Fenomena video teror pocong yang belakangan ramai beredar di media sosial memunculkan beragam reaksi di tengah masyarakat. Aksi yang dilaporkan terjadi di sejumlah wilayah di Pulau Jawa, mulai dari kawasan Jabodetabek hingga beberapa daerah di Jawa Timur, seperti Lamongan, Nganjuk, Sidoarjo, dan Malang, dinilai perlu disikapi secara rasional dan tidak berlebihan.
Anggota Komisi E DPRD Jawa Timur, Suli Da’im, mengimbau masyarakat untuk tetap tenang serta tidak mudah terpancing ketakutan akibat berbagai video maupun informasi yang beredar di media sosial.
Menurut dia, fenomena tersebut tidak bisa hanya dipandang sebagai lelucon atau konten hiburan. Aparat kepolisian dan sejumlah pengamat sosial, kata Suli, juga mengingatkan kemungkinan adanya pihak-pihak tertentu yang memanfaatkan situasi tersebut untuk menciptakan keresahan di tengah masyarakat.
“Jangan sampai masyarakat panik dan justru meninggalkan rumah atau lingkungan dalam keadaan tidak terpantau. Kondisi seperti itu berpotensi dimanfaatkan oleh pelaku kejahatan untuk melakukan pencurian atau tindak kriminal lainnya,” ujar Suli di Ponorogo, Minggu (31/5/2026).
Suli menilai meningkatnya arus informasi di ruang digital menuntut masyarakat untuk lebih kritis dalam menyikapi berbagai konten viral. Ia mengingatkan warga agar tidak langsung mempercayai setiap video yang beredar tanpa melakukan verifikasi terhadap sumber dan kebenarannya.
Menurut dia, perkembangan teknologi kecerdasan buatan (artificial intelligence/AI) dan rekayasa digital saat ini memungkinkan munculnya berbagai konten yang sulit dibedakan antara fakta dan manipulasi.
“Jangan semua hal langsung dikaitkan dengan unsur mistis. Gunakan logika, periksa kebenaran informasi, dan segera berkoordinasi dengan aparat apabila menemukan aktivitas yang mencurigakan di lingkungan sekitar,” katanya.
Selain meningkatkan literasi digital, Suli juga mendorong masyarakat untuk kembali memperkuat sistem keamanan lingkungan melalui kegiatan ronda malam dan komunikasi antartetangga.
Menurut dia, keamanan wilayah tidak dapat sepenuhnya dibebankan kepada aparat penegak hukum, melainkan memerlukan partisipasi aktif warga.
“Semangat gotong royong dan siskamling perlu terus dirawat. Ketika warga saling mengenal, berkomunikasi, dan peduli terhadap lingkungan sekitar, potensi gangguan keamanan dapat ditekan,” ujarnya.
Sebagai anggota Komisi E DPRD Jawa Timur yang membidangi kesejahteraan rakyat, pendidikan, dan sosial, Suli juga menekankan pentingnya edukasi literasi digital, terutama bagi generasi muda. Langkah tersebut dinilai penting untuk mencegah penyebaran konten yang berpotensi memicu kepanikan atau keresahan publik.
“Yang perlu dibangun adalah masyarakat yang tangguh, kritis terhadap informasi, dan tetap menjaga solidaritas sosial. Jangan sampai rasa takut dimanfaatkan oleh pihak-pihak yang tidak bertanggung jawab,” kata Suli.
Fenomena teror pocong yang viral dalam beberapa pekan terakhir telah menjadi perbincangan luas di media sosial. Sejumlah video memperlihatkan sosok berpakaian menyerupai pocong muncul di permukiman warga pada malam hari. Meski sebagian kasus diduga hanya aksi iseng, aparat mengingatkan masyarakat agar tetap waspada dan tidak mudah terprovokasi oleh informasi yang belum terverifikasi.(*)
Kontributor: Muh. Nurcholis
Editor: Abdel Rafi








