
SURABAYA, CAKRAWARTA.com – Setiap Selasa sore, warga Kampung Keputih, Surabaya, telah akrab dengan pemandangan seorang pria lanjut usia yang perlahan mendorong sebuah gledekan menyusuri lorong-lorong kampung.
Pria itu adalah Misnari, anggota Jam’iyyah Shalawat Nariyah NU Ranting Keputih. Dengan langkah yang kian menua, ia menjalankan tugas yang sama selama bertahun-tahun, bahkan puluhan tahun: mengantarkan perlengkapan kegiatan shalawat dari satu rumah ke rumah anggota lain yang menjadi tuan rumah pengajian.
Di atas gledekan yang didorongnya terdapat berbagai perlengkapan kegiatan. Mulai dari sound system, kotak berisi 4.444 kancing baju untuk menghitung bacaan Shalawat Nariyah, sekitar 150 tasbih untuk hitungan Shalawat Jibril, ratusan buku Asmaul Husna dan Surat Yasin, hingga dua kotak infak.
Satu kotak digunakan untuk mendukung penyelenggaraan kegiatan rutin jamaah, sementara kotak lainnya diperuntukkan bagi bantuan sosial ketika ada anggota yang sakit atau membutuhkan pertolongan.
Bagi sebagian orang, pekerjaan itu mungkin tampak sederhana. Namun bagi jamaah, apa yang dilakukan Misnari adalah bentuk pengabdian yang tidak pernah putus. Ia menjadi bagian dari denyut kehidupan Jam’iyyah Shalawat Nariyah yang telah berdiri sejak dekade 1980-an.
“Hampir sepanjang usianya, beliau mengabdikan diri untuk tugas itu,” ujar Sekretaris Tanfidziyah PWNU Jawa Timur, Muhammad Faqih, saat mengenang sosok Misnari, Sabtu (30/5/2026).
Namun sejak libur Ramadhan lalu, Misnari tak lagi terlihat mendorong gledekan tersebut. Kondisi kesehatannya yang menurun akibat faktor usia membuatnya harus beristirahat dari aktivitas yang telah lama menjadi bagian hidupnya.
Menjelang Hari Raya Idul Adha 1447 Hijriah, tepatnya Minggu (24/5/2026) sekitar pukul 19.00 WIB, kabar duka pun datang. Misnari berpulang ke Rahmatullah.
Kepergian lelaki sederhana itu meninggalkan kesedihan bagi banyak jamaah yang selama ini mengenalnya. Bukan karena jabatan atau kedudukan yang dimilikinya, melainkan karena ketulusan pengabdian yang dijalani tanpa sorotan.
Dalam pandangan Faqih, kisah Misnari mengingatkan bahwa pengabdian kepada umat tidak selalu diwujudkan melalui mimbar, pidato, ataupun posisi penting dalam organisasi. Kadang, pengabdian hadir dalam bentuk yang sangat sederhana: mendorong sebuah gledekan berisi perlengkapan ibadah dari satu gang ke gang lain selama puluhan tahun.
“Semoga Allah mengampuni segala dosanya, menerima seluruh amal baiknya, dan menempatkannya di tempat yang mulia di sisi-Nya,” tutur Faqih.

Bagi mereka yang mengenalnya, gledekan tua yang dahulu rutin melintas setiap Selasa sore mungkin kini telah berhenti berjalan. Namun jejak pengabdian yang ditinggalkan Misnari akan terus hidup dalam ingatan jamaah yang pernah menyaksikan ketekunan dan keikhlasannya.
Dan barangkali, sebagaimana doa yang dipanjatkan para sahabatnya, seluruh perlengkapan yang selama ini setia ia antarkan untuk menghidupkan majelis shalawat itu akan menjadi saksi amalnya kelak di hadapan Allah SWT. Lahul Fatihah untuk Pak Misnari.(*)
Kontributor: Tommy
Editor: Abdel Rafi








