Buruh dan Kuasa Dalam Tiga Episode Kontemporer

(foto: diunggah dari facebook, Youtube @tabletops21463 Vaclav Havel dan Durkheim Social Facts explained | Emile Durkheim sociology Sociologylearners)

“Kita… diarahkan untuk mempertimbangkan pembagian kerja dari sudut pandang baru… sesungguhnya, jasa ekonomi yang dapat diberikannya tidak berarti dibandingkan dengan dampak moral yang dihasilkannya, dan fungsi sebenarnya adalah untuk menciptakan perasaan solidaritas di antara dua orang atau lebih.” — Émile Durkheim (1858-1917), The Division of Labour in Society: Exploring Social Order and Solidarity (1893)

Sejarah buruh adalah sejarah konflik kelas produk kapitalisme.

Meski ia tumbuh pesat paska revolusi industri di Eropa dari abad-18 dan merayap cepat pada sejarah kolonialisme hingga hari ini dalam bentuk dan formulasi lain di kepala dan mulut oligarki psikopat, Donald Trump.

Akan tetapi, sedikit disuguh tiga episode revolusi buruh dari konflik kekuasaan kontemporer.

Pertama, Vavlac Havel (1933-2011), pada akhir 1980-an, menyulut revolusi Gdanks di Cekoslowakia yang menggeser komunisme-sosialisme sempalan rezim otoritarian Uni Soviet hingga mengantarnya sebagai sastrawan aktivis ke tampuk kekuasaan dan jadi presiden pertama dari kalangan gerakan buruh.

Dalam sejarah Eropa Timur, Havel, akhirnya, Presiden terakhir Cekoslovakia (1989-1992)
Presiden pertama Republik Ceko (1993-2003).

Kedua, Marsinah (1969-1993)  -lahir di Nglundo, Nganjuk, Jawa Timur- seorang buruh perempuan pabrik di Surabaya yang menuntut hak upah atas kerjanya dan menyulut protes buruh yang mengguncang dan berujung pada pembunuhan dirinya secara tragis oleh aparat atas suruhan borjuis korporasi.

Tragedi atas Marsina sejak tahun 1990-an, akhirnya menggumpal jadi kemarahan dan kekesalan publik dari civil society -aktivis, LSM, cendekiawan publik dan kampus hingga mahasiswa- yang berujung pada reformasi 1998 dan meruntuhkan rezim otoritarian Orde Baru.

Ketiga, teater Presiden Prabowo Subianto pada Hari Buruh, May Day, 1 Mei 2026, di Monas dan penyelenggara Konfederasi Serikat Pekerja Indonesia (KSPI) bersama Partai Buruh dengan kehadiran ribuan buruh.

Pidatonya diwarnai dengan aksi teatrikal dimana Prabowo melepas seragam safari berwarna krem dan melemparkannya ke arah massa buruh, sehingga hanya mengenakan kaos hitam.

Aksi simbolik itu memicu reaksi emosional dari sebagian buruh yang merangsek ke podium, memeluknya, bahkan ada yang menangis.

Selain itu, ia juga membagikan sembako dan kaos bertuliskan “MAYDAY 2026 Bagimu Negeri Jiwa Raga Kami.”

Mari sedikit dievaluasi secara reflektif.

Episode pertama memperlihatkan bagaimana buruh dan kuasa berkelindan dalam revolusi politik.

Vavlac Havel, seorang sastrawan sekaligus aktivis, menjadi simbol perlawanan terhadap rezim otoritarian yang berakar pada sosialisme-komunisme Uni Soviet. Revolusi Gdansk di Cekoslovakia pada akhir 1980-an bukan sekadar gerakan buruh, melainkan transformasi sosial yang menggeser paradigma kekuasaan.

Buruh di sini tampil sebagai subjek sejarah yang mampu mengantarkan seorang intelektual ke tampuk kekuasaan, menandai pergeseran dari represi menuju demokrasi.

Episode kedua menyingkap wajah tragis buruh dalam kapitalisme otoritarian.

Marsinah, buruh perempuan di Surabaya, menuntut hak upah yang layak.

Tuntutan sederhana itu berujung pada pembunuhan dirinya oleh aparat yang bersekutu dengan kepentingan korporasi.

Tragedi Marsinah menjadi simbol keterasingan buruh dalam sistem kapitalisme yang menolak suara mereka.

Namun, kematian Marsinah tidak sia-sia: ia memicu gelombang solidaritas civil society, mahasiswa, dan aktivis yang akhirnya mengguncang fondasi Orde Baru runtuh dan menghasilkan reformasi Mei 1998.

Buruh, dalam episode ini, menjadi martir yang menyalakan api reformasi.

Episode ketiga, ketika Presiden Prabowo Subianto tampil pada Hari Buruh, May Day, 1 Mei 2026, ada episode dengan wajah mirip bukunya, Indonesia Paradoks.

Bak teater jalanan di panggung kekuasaan bersama ribuan kaum buruh hasil mobilisasi, Prabowo naik podium dan berpidato dengan khas retorikanya:

“MBG itu sangat bermanfaat. Saya tanya, apakah MBG itu bermanfaat? teriaknya.

Dan dari bawah panggung para buruh kompak menjawab dengan gemuruh, “Tiiiidaaaak!”

Tak kehilangan akting, Prabowo berseru kurang lebih: “jika demikian, saya tanggal seragam kekuasaan saya.”

Sembari membuka seragamnya mirip seragam tentara Hitler produk industiawan seragam, Hugo Boss, berwarna kopi susu muda, dan melemparnya ke para buruh di bawahnya.

Dengan tubuh tambun nan gemoy, kaos dalamannya warna hitam bikin sebagian buruh merangsek ke podium dan merebut memeluknya dan sebagian ada buruh yang haru dan menangis.

Sementara, di bawahnya, sebagian para buruh berebutan seragamnya.

Ini lah episode hubungan buruh dan kuasa yang paradoks setelah rezim Jokowi menghadiahi kuasanya pada seluruh buruh dengan Omnibus Law.

Demikian, inilah refleksi kontemporer atas buruh dalam era digital.

Hasilnya, ekonomi gig(pekerja lepas), dengan platform daring sebagai penghubung, menghadirkan wajah baru kerja dsn kelas pekerja.

Sejak awal abad-20, Emile Durkheim, sosiolog asal Perancis, dalam De la division du travail social atau Pembagian Kerja dalam Masyarakat yang diterbitkan pada tahun 1893, mungkin melihatnya sebagai bentuk solidaritas organik: para pekerja saling bergantung dalam jaringan digital yang kompleks.

Namun, Marx akan menyoroti keterasingan yang semakin dalam: buruh gig kehilangan jaminan kerja, subordinasi terhadap algoritma menggantikan dominasi borjuis klasik.

Di sini, kontradiksi antara sosialisme dan kapitalisme kembali hadir dalam bentuk baru: solidaritas digital versus eksploitasi algoritmik.

Tiga episode ini menunjukkan bahwa buruh selalu berada di jantung dinamika sejarah kekuasaan.

Durkheim menekankan kerja sebagai fondasi moral yang menjaga kohesi sosial, sementara Marx melihatnya sebagai arena konflik yang tak terhindarkan.

Dalam konteks kontemporer, buruh tidak hanya menghadapi kapitalisme industri, tetapi juga kapitalisme digital.

Pertarungan antara solidaritas dan keterasingan, antara moralitas dan dominasi, terus berulang dalam wajah berbeda.

Sejarah buruh adalah sejarah kuasa, dan kuasa itu selalu bergerak di antara harapan solidaritas dan bayang-bayang eksploitasi yang mustahil hilang dari sejarah manapun.(*)

#coverlagu: Lagu Hari Buruh Nasional sering dikaitkan dengan karya perjuangan buruh internasional seperti Solidarity Forever (1915) dan Internationale (1871), serta di Indonesia perayaan Hari Buruh (May Day) kerap diiringi lagu-lagu perjuangan dari musisi lokal seperti Tipe X yang membawakan “Kamu Enggak Sendirian” pada peringatan 1 Mei 2026 di Monas.

REINER EMYOT OINTOE

Fiksiwan