Masjid Al-Akbar Surabaya Kembangkan Budidaya Ikan Berbasis RAS, Perkuat Edukasi dan Ketahanan Pangan

Kawasan budidaya ikan dengan sistem bioflok berbasis teknologi Recirculating Aquaculture System yang dikelola Masjid Al Akbar Surabaya. (foto: Ghifari-Anwar)

SURABAYA, CAKRAWARTA.com – Masjid Nasional Al-Akbar Surabaya terus mengembangkan peran sosial-keagamaannya melalui inovasi program urban farming. Salah satu yang kini menjadi perhatian adalah budidaya ikan dengan sistem bioflok berbasis teknologi Recirculating Aquaculture System (RAS), yang dikembangkan di kawasan urban farming masjid tersebut.

Program ini tidak sekadar ditujukan untuk menghasilkan ikan konsumsi, tetapi juga menjadi sarana edukasi bagi jamaah dan masyarakat.

Humas Masjid Al-Akbar, H. Helmy M. Noor, mengatakan bahwa pemanfaatan lahan pasif menjadi area produktif merupakan bagian dari upaya masjid menghadirkan manfaat yang lebih luas.

“Ini bukan hanya soal budidaya ikan, tetapi juga pembelajaran. Jamaah dapat melihat langsung dan memahami teknik budidaya ikan dengan sistem modern,” ujar Helmy dalam keterangannya kepada media ini, Kamis (30/4/2026).

Teknologi RAS yang digunakan memungkinkan air dalam kolam terus disirkulasikan dan disaring, sehingga kualitasnya tetap terjaga. Sistem ini membuat lingkungan budidaya lebih bersih, minim bau, serta nyaman bagi pengunjung. Bahkan, area tersebut dikembangkan sebagai ruang rekreasi edukatif.

Selain hemat penggunaan air, sistem ini juga memungkinkan kepadatan tebar ikan lebih tinggi dengan kualitas yang tetap terkontrol. Pertumbuhan ikan cenderung lebih cepat, risiko penyakit dapat ditekan, serta dampak terhadap lingkungan relatif lebih kecil. Efisiensi pakan pun menjadi salah satu keunggulan lain dari metode ini.

Kawasan bioflok tersebut terintegrasi dengan fasilitas lain di lingkungan urban farming, seperti rumah kaca (greenhouse) dan lapangan mini soccer. Penataan kawasan yang rapi dan bersih menjadikannya daya tarik tersendiri, khususnya bagi generasi muda.

Saat ini, terdapat enam kolam budidaya dengan kapasitas masing-masing sekitar 400 hingga 600 ekor ikan. Jenis yang dibudidayakan antara lain lele, patin, nila merah, serta beberapa ikan konsumsi lain yang umum diminati masyarakat.

Proses budidaya berlangsung sekitar empat hingga enam bulan hingga masa panen. Hasilnya akan dimanfaatkan melalui tiga skema, yakni dibagikan kepada jamaah, dikonsumsi bersama, serta dipasarkan kepada masyarakat.

Humas Masjid Al Akbar Surabaya, H. Helmy M Noor menunjukkan kawasan budidaya ikan dengan sistem bioflok berbasis teknologi Recirculating Aquaculture System yang dikelola Masjid Al Akbar Surabaya, Kamis (30/4/2026). (foto: Ghifari-Anwar)

Menurut Helmy, pengembangan program ini merupakan bagian dari upaya menjadikan masjid sebagai pusat kegiatan yang lebih inklusif.

“Kami ingin masjid menjadi ruang yang hidup yakni tempat ibadah, belajar, sekaligus ruang interaksi sosial yang positif,” katanya.

Ke depan, Masjid Al-Akbar Surabaya berharap program ini dapat menarik minat masyarakat, terutama generasi muda, untuk lebih dekat dengan masjid sekaligus mengenal praktik pertanian dan perikanan urban berbasis teknologi.

Melalui inovasi tersebut, Masjid Al-Akbar Surabaya diarahkan menjadi pusat eduwisata yang memadukan nilai ibadah, pembelajaran, dan kepedulian terhadap lingkungan dalam satu kawasan terpadu.(*)

Kontributor: Ghifari dan Anwar

Editor: Abdel Rafi