FISIP UNAIR Luncurkan “Green Series”, Soroti Ancaman Mikroplastik

Peserta FISIP UNAIR Green Series 2026 saat mendaur ulang botol plastik menjadi resin keychain melalui do-it-yourself kit di kampus FISIP Universitas Airlangga, Selasa (28/4/2026). (foto: FISIP UNAIR untuk Cakrawarta)

SURABAYA, CAKRAWARTA.com – Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Airlangga meluncurkan program FISIP UNAIR Green Series sebagai ruang berkelanjutan untuk edukasi dan aksi lingkungan. Inisiatif ini menjadi penanda keterlibatan aktif kampus dalam isu keberlanjutan, sekaligus kontribusi terhadap Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (Sustainable Development Goals/SDGs).

Kegiatan perdana yang mengusung tema “Celebrating Earth Day through Creative Action” digelar pada Selasa (28/4/2026) di Ruang Adi Sukadana dan Taman FISIP UNAIR. Sekitar 100 peserta dari kalangan mahasiswa, dosen, dan komunitas lingkungan terlibat dalam kegiatan kolaboratif bersama Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) FISIP UNAIR.

Wakil Dekan Bidang Sumber Daya FISIP UNAIR, A. Safril Mubah, dalam sambutannya menekankan pentingnya perubahan perilaku sederhana sebagai fondasi kepedulian lingkungan. Ia menyoroti masih rendahnya kesadaran masyarakat dalam pengelolaan sampah, khususnya plastik.

“Peringatan Hari Bumi seharusnya menjadi momentum refleksi. Hal sederhana seperti membuang sampah pada tempatnya merupakan bagian dari upaya menjaga keberlanjutan lingkungan,” ujar Safril.

Persoalan lingkungan tidak lagi kasat mata. Praktisi pengelolaan sampah dari Yayasan Bina Lingkungan, Muhammad Haidzar Islam, mengungkapkan bahwa mikroplastik kini telah menjadi ancaman serius bagi kesehatan manusia.

Ia menyebut, rata-rata masyarakat Indonesia diperkirakan telah mengonsumsi sekitar 15 gram mikroplastik yang kini terdeteksi dalam darah, otak, hingga air hujan. Partikel tersebut masuk ke tubuh melalui udara, makanan, dan minuman tanpa disadari.

“Mikroplastik membawa ratusan senyawa kimia berbahaya karena berasal dari turunan minyak bumi. Ini persoalan serius yang perlu direspons bersama,” kata Haidzar.

Sebagai solusi, ia memperkenalkan konsep circular economy, yakni pendekatan yang menekankan penggunaan kembali dan pengolahan ulang material agar tidak berakhir sebagai limbah.

Langkah sederhana seperti mengurangi plastik sekali pakai, membatasi konsumsi fast fashion, serta memilah sampah organik dan anorganik dinilai dapat menjadi titik awal perubahan.

“Pendekatan preventif bisa dimulai dari kebiasaan sehari-hari. Sementara itu, pendekatan edukatif harus dikemas secara menarik agar masyarakat mau terlibat,” ujarnya.

Kolaborasi Lintas Sektor

Gagasan penanganan sampah juga datang dari peserta. Salah satunya, Bayu, yang menilai persoalan lingkungan perlu ditangani melalui kolaborasi lintas sektor.

“Pendidikan penting untuk membangun kesadaran, sementara pelaku UMKM juga memiliki peran strategis dalam mengurangi penggunaan plastik,” katanya.

Dalam sesi praktik, peserta diajak mendaur ulang botol plastik menjadi resin keychain melalui do-it-yourself kit. Kegiatan ini menjadi simbol bahwa perubahan dapat dimulai dari tindakan sederhana yang aplikatif.

Melalui Green Series, FISIP UNAIR berupaya mendorong sivitas akademika tidak hanya memahami isu lingkungan, tetapi juga terlibat langsung dalam aksi nyata. Program ini diharapkan menjadi ruang kolaboratif yang berkelanjutan dalam meningkatkan kualitas hidup masyarakat dari aspek sosial, ekonomi, dan lingkungan.(*)

Kontributor: Nasywa dan Blenda

Editor: Abdel Rafi