
SURABAYA, CAKRAWARTA.com – Budaya menulis akademik di Indonesia dinilai masih terlalu sibuk “terlihat pintar”, tetapi gagal membangun koneksi dengan pembaca. Kritik tajam itu disampaikan Guru Besar Ronald Lukens-Bull dalam kuliah tamu bertema Scientific Writing in International Journals yang digelar Program S3 Ilmu Sosial FISIP Universitas Airlangga, Kamis (21/5/2026), di Ruang PBB Gedung C FISIP UNAIR.
Di hadapan puluhan mahasiswa doktoral, akademisi asal Amerika Serikat itu menyoroti gaya penulisan ilmiah di Indonesia yang menurutnya kerap berputar-putar dan terlalu ingin menunjukkan kecanggihan akademik.
“Menulis itu bukan untuk mengesankan orang, tetapi untuk menyampaikan gagasan dan membangun koneksi,” ujar Ronald Lukens-Bull.
Menurut dia, banyak penulis akademik di Indonesia justru terjebak dalam kalimat panjang, istilah rumit, dan alur yang tidak langsung menuju pokok persoalan. Padahal, tulisan ilmiah internasional justru menghargai kejelasan, kesederhanaan, dan ketepatan argumen.
Kritik itu langsung memantik perhatian peserta karena menyentuh persoalan yang selama ini jarang dibahas secara terbuka di ruang akademik: tekanan publikasi dan budaya akademik yang dianggap melelahkan.
Dalam forum yang dimoderatori oleh mahasiswi program Doktoral FISIP UNAIR tingkat akhir, Sulih Indra Dewi, Ronald juga menyoroti beban publikasi dosen di Indonesia yang dinilainya sangat berat, terutama bagi akademisi perempuan.
Ia menyarankan mahasiswa doktoral tidak memulai riset dari tema yang terlalu jauh dari keseharian mereka sendiri. Menurutnya, topik terbaik justru sering lahir dari pengalaman, lingkungan, dan hal-hal yang paling dekat dengan penulis.
“Kalau mau menulis, tulislah sesuatu yang memang menjadi keseharianmu, passion-mu, sesuatu yang kamu pahami,” katanya.
Pendekatan itu, menurut Ronald, akan membuat peneliti lebih mudah menyelesaikan tulisan sekaligus menjaga konsistensi akademik dalam jangka panjang.
Namun kritik paling menarik muncul ketika ia membahas kelemahan utama penelitian di Indonesia. Selama ini, kata dia, banyak riset hanya sibuk mencari empirical gap tanpa mampu membangun rasa penasaran pembaca.
“Bikin tulisanmu membuat orang ingin tahu lebih jauh. Jangan asal menulis,” ujarnya.
Ia mencontohkan pentingnya kejelasan konsep, definisi, konteks, dan tujuan penelitian agar tulisan tidak terasa “mengawang-awang”. Bagi Ronald, riset bukan sekadar mengumpulkan data, melainkan menjelaskan makna data secara jelas dan relevan.
Dalam sesi yang berlangsung interaktif itu, Ronald juga memperkenalkan gagasan unik bernama “Arisan Jurnal”. Konsep tersebut mengadopsi budaya sosial arisan, tetapi diisi dengan diskusi rutin progres menulis, saling mereview jurnal, hingga evaluasi perkembangan riset antar anggota.
Gagasan itu langsung menarik perhatian peserta karena dianggap lebih realistis dibanding seminar motivasi akademik yang sering berhenti di tataran teori.
“Harus ada progres di setiap pertemuan,” katanya.
Ia juga menekankan pentingnya membaca lintas disiplin ilmu untuk memperkaya perspektif penelitian. Salah satu buku yang direkomendasikannya adalah Weapons of the Weak karya James C. Scott yang dinilai mampu menunjukkan bagaimana pendekatan multidisipliner bekerja dalam penelitian sosial.
Ronald mengaku dirinya membaca sekitar 200 artikel atau jurnal setiap tahun untuk menjaga keluasan perspektif akademik. Pernyataan itu sontak membuat suasana ruang kuliah berubah reflektif. Sebab, di tengah tekanan publikasi internasional yang terus meningkat, banyak mahasiswa doktoral justru mengaku kesulitan membagi waktu antara riset, pekerjaan, dan tuntutan administratif kampus.
Di akhir sesi, Ronald menegaskan bahwa masalah terbesar dalam menulis ilmiah sesungguhnya bukan semata kemampuan akademik, melainkan soal prioritas dan konsistensi.
“It’s all about priority,” tegasnya.
Kuliah tamu tersebut menjadi menarik bukan hanya karena membahas teknik publikasi internasional, tetapi karena membuka kritik mendasar terhadap budaya riset Indonesia yakni banyak menulis, tetapi belum tentu benar-benar dibaca.(*)
Kontributor: Tommy
Editor: Abdel Rafi








