
SURABAYA, CAKRAWARTA.com – Pesantren Digipreneur Al-Yasmin, Surabaya, mendorong percepatan transformasi dakwah berbasis teknologi melalui pelatihan manajemen remaja masjid yang digelar bersama Lembaga Pengembangan Pembinaan Remaja Masjid (LPPRM) BKPRMI Jawa Timur. Upaya ini diposisikan sebagai bagian dari “revolusi dakwah digital” yang menempatkan generasi muda sebagai motor penggerak perubahan.
Kegiatan yang berlangsung pada Minggu (26/4/2026) itu, diikuti sekitar 60 remaja masjid dari berbagai daerah di Jawa Timur. Pelatihan difokuskan pada penguatan kapasitas organisasi sekaligus peningkatan kemampuan pemanfaatan teknologi digital dalam aktivitas dakwah dan pengelolaan masjid.
Pengasuh Pesantren Digipreneur Al-Yasmin, Helmy M. Noor, menilai momentum digitalisasi tidak bisa dihindari. Karena itu, remaja masjid perlu mengambil peran strategis agar masjid tetap relevan sebagai pusat aktivitas umat.
“Revolusi dakwah digital harus dimulai dari remaja masjid. Mereka bukan hanya penerus, tetapi penggerak utama dalam menghadirkan wajah baru dakwah yang adaptif dan menjangkau lebih luas,” ujarnya dalam keterangannya, Senin (27/4/2026) pagi.
Helmy menekankan pentingnya penguasaan media sosial sebagai medium dakwah. Platform seperti YouTube, Instagram, hingga TikTok dinilai mampu menjadi kanal efektif untuk menyampaikan pesan keagamaan kepada generasi muda.
Ia mendorong peserta untuk mulai mengoptimalkan potensi tersebut di lingkungan masjid masing-masing. “Komunikasikan dengan takmir, manfaatkan platform yang ada. Ketika ada kemauan, kemampuan akan berkembang,” katanya.
Pendekatan pelatihan tidak hanya bersifat konseptual, tetapi juga praktis. Helmy membagikan pengalaman membangun ekosistem digital dakwah yang berdampak, mulai dari produksi konten hingga strategi menjangkau audiens yang lebih luas. Hal itu memicu diskusi aktif dari peserta selama sesi berlangsung.
Menurut dia, digitalisasi masjid merupakan keniscayaan dalam menghadapi perubahan zaman. Masjid tidak lagi cukup berfungsi sebagai ruang ibadah semata, tetapi perlu berkembang menjadi pusat peradaban modern yang terhubung dengan teknologi.
“Masjid harus hadir sebagai pusat edukasi, dakwah, sekaligus pemberdayaan ekonomi berbasis digital. Di situlah peran teknologi menjadi sangat penting,” ujarnya.
Ia menjelaskan, penerapan teknologi dapat mencakup manajemen operasional yang lebih efisien, penyampaian dakwah yang inklusif, hingga kemudahan beramal melalui sistem digital seperti zakat, infak, dan wakaf secara daring.
Lebih jauh, Helmy menegaskan bahwa remaja masjid memiliki keunggulan dalam mendorong transformasi tersebut. Selain lebih adaptif terhadap teknologi, mereka juga dinilai kreatif dalam mengembangkan konten dan inovasi.
“Remaja masjid adalah motor revolusi ini. Mereka mampu menghidupkan media sosial masjid, menciptakan konten yang relevan, dan menghadirkan gagasan baru yang menjangkau generasi mereka sendiri,” katanya.
Sejumlah praktik yang diperkenalkan dalam pelatihan antara lain penggunaan layar digital untuk jadwal shalat, sistem laporan keuangan berbasis teknologi, basis data jamaah, hingga siaran langsung kajian melalui media sosial. Selain itu, pengelolaan donasi juga diarahkan pada sistem nontunai melalui QRIS, transfer perbankan, maupun dompet digital.
Pelatihan yang dibuka oleh Kepala Biro Kesejahteraan Rakyat Setda Provinsi Jawa Timur, Agung Subagyo, ini diharapkan menjadi langkah awal penguatan ekosistem masjid yang lebih adaptif, inklusif, dan mampu menjawab tantangan era digital.(*)
Kontributor: Cak Edy
Editor: Abdel Rafi








