
Sebagai orang yang pernah duduk di ruang Dewan Keamanan PBB, menyaksikan bagaimana keputusan perang dan damai sering kali ditentukan oleh hitungan logistik dan tekanan politik semata, izinkan saya berbagi kegelisahan sekaligus analisis jujur mengenai situasi yang kita hadapi saat ini.
Beberapa pekan terakhir, kita disuguhi berita tentang perpanjangan gencatan senjata sepihak oleh Amerika Serikat terhadap Iran. Banyak pihak di tanah air yang bertanya-tanya, apakah ini taktik sebelum serangan besar? Ataukah AS sedang mencari jalan keluar?
Setelah mencermati perkembangan secara intensif termasuk laporan intelijen terbuka dan pernyataan resmi kedua pihak, saya sampai pada kesimpulan yang mungkin bertolak belakang dengan dugaan banyak orang bahwa ini bukanlah persiapan perang. Ini adalah upaya mundur yang terhormat, lahir dari kelemahan logistik dan politik.
Mari saya uraikan secara lugas, sebagai sesama anak bangsa, bukan sebagai jenderal yang menggurui. Kita sering terlalu kagum pada kekuatan militer AS. Kapal induk, jet siluman, rudal jelajah semua itu mengesankan. Namun sebagai seorang militer yang pernah mempelajari logistik perang modern, saya ingin meluruskan bahwa perang tidak hanya dimenangkan oleh teknologi, tapi oleh kemampuan memproduksi amunisi hari demi hari.
Faktanya, perang di Ukraina telah menguras habis stok amunisi penting NATO, terutama proyektil 155mm. Berdasarkan laporan Bloomberg yang dirilis 23 April 2026, stok amunisi darat AS saat ini diperkirakan hanya cukup untuk 14 hingga 21 hari pertempuran intensitas tinggi, sebuah kondisi yang oleh para analis militer disebut sebagai “darurat amunisi diam-diam.”
Sementara itu, Juru Bicara Kementerian Pertahanan Iran, Brigjen Reza Talaei-Nik, menyatakan bahwa Iran masih memiliki ribuan rudal balistik dan anti kapal dengan fasilitas produksi yang tersebar. Iran tidak perlu menyerang duluan. Cukup bertahan, menutup Selat Hormuz, dan meluncurkan rudal ke pangkalan AS di Teluk, maka AS akan kehabisan napas.
Jadi, ketika AS memperpanjang gencatan senjata, itu bukan karena kebaikan hati. Itu karena mereka tidak mampu secara logistik untuk memulai perang yang panjang.
Mencari “Off-Ramp”
Dalam strategi militer, istilah off-ramp berarti jalan keluar dari kebuntuan. Dan saat ini, AS sedang mencari off-ramp secepat mungkin.
Mengapa? Karena tekanan domestik sangat luar biasa. Berdasarkan jajak pendapat Reuters/Ipsos awal April 2026, sekitar 61% rakyat AS tidak menyetujui penanganan konflik Iran oleh pemerintahan mereka. Presiden Trump sendiri, di tengah ancaman kerasnya kepada Iran, telah berulang kali menyatakan secara tertutup dan bahkan pernah terbuka bahwa “Kami akan segera pergi.”
Diplomasi yang saat ini difasilitasi oleh Pakistan adalah wujud nyata dari upaya AS mencari pintu keluar yang tidak memalukan. Mereka tidak perlu menang; mereka hanya perlu tidak terlihat kalah. Inilah yang oleh para analis foreign policy disebut sebagai “seni menyelamatkan muka di tengah kekalahan strategis.”
Satu lagi indikasi yang tidak bisa diabaikan adalah soliditas NATO mulai retak. Negara-negara Eropa secara terbuka menolak mengirim armada ke Selat Hormuz. Trump menyebut mereka pengecut, tapi sebagai mantan penasihat PBB, saya katakan bahwa itu bukan pengecut, itu rasional.
Setelah pertemuan Antalya Diplomacy Forum pertengahan April 2026, Menteri Luar Negeri Turki, Hakan Fidan, menyatakan bahwa “kawasan tidak bisa terus menunggu penyelamat dari Washington.” Ini adalah bahasa diplomatik yang halus namun bermakna dalam bahwa dunia mulai sadar bahwa kita butuh opsi selain Amerika Serikat.
Eropa sedang menghitung ulang kepentingannya. Mereka tidak ingin ikut-ikutan perang yang hanya menguntungkan Israel dan industri senjata AS, terutama ketika ekonomi mereka sendiri sedang lesu.
Di balik semua hitung-hitungan kekuatan, aliansi, dan logistik, hati saya sebagai seorang perwira dan mantan penjaga perdamaian PBB teringat pada satu fakta sederhana bahwa yang paling menderita ketika para jenderal bermain perang adalah warga sipil yang tidak bersalah.
Di Gaza, di Lebanon, di pesisir Iran, dan bahkan di pangkalan-pangkalan AS di Teluk, ada anak-anak yang bermimpi, ada ibu-ibu yang menangis, dan ada ayah-ayah yang kehilangan mata pencaharian. Tidak ada kemenangan militer yang bisa membayar kembali satu tetes air mata seorang anak yang kehilangan orang tuanya karena bom “presisi” sekalipun.
Karena itu, ketika kita menganalisis perang ini dengan dingin dan rasional, jangan pernah kehilangan kemampuan untuk merasakan. Sebab bangsa Indonesia dikenal di dunia bukan karena kekuatan senjatanya, tetapi karena hati dan keteguhan prinsipnya.
Kepada para pengambil kebijakan di AS, saya sampaikan, “Tidak akan ada serangan besar-besaran AS ke Iran dalam waktu dekat.” Gencatan senjata ini bukan jebakan. Ini adalah pengakuan halus bahwa AS kehabisan pilihan, kehabisan amunisi, dan kehabisan sekutu yang bersedia mati untuk kepentingannya.
Yang bisa kita lakukan sebagai bangsa Indonesia. Pertama, jangan terjebak dalam propaganda pro AS atau pro Iran. Tetaplah berpegang pada prinsip bebas-aktif.
Kedua, perkuat ketahanan nasional, terutama di bidang energi, logistik, dan pangan.
Semoga tulisan yang singkat ini bisa mencerahkan dan menjadi bahan renungan bersama, bukan untuk memicu kebencian, tapi untuk membangun kewaspadaan kolektif.
Jakarta, 27 April 2026
MAYJEN TNI (PURN) FULAD
Penasihat Militer RI untuk PBB tahun 2017-2019








