
SURABAYA, CAKRAWARTA.com – Ikatan Keluarga Bani Abdul Hamid (IKBAH) kembali menggelar tradisi Halal Bihalal yang telah berlangsung selama empat dekade sejak 1986. Kegiatan ini mempertemukan seluruh keturunan pasangan Abdul Hamid dan Rukhayah dalam suasana hangat dan penuh kebersamaan di Ballroom Grand Hotel Surabaya, Senin (23/3/2026) siang.
Acara dibuka dengan pembacaan ayat suci Al-Qur’an, menandai kesinambungan nilai-nilai keagamaan lintas generasi. Suasana kian semarak ketika “Mars IKBAH” yang digubah oleh Ketua IKBAH, H. Adil Mastjik, dinyanyikan, mempertegas identitas dan semangat kebersamaan keluarga besar tersebut.
Tak hanya seremoni, kegiatan tahun ini juga diwarnai penampilan kreativitas generasi Z dan Alpha IKBAH, mulai dari hafalan surat pendek Al-Qur’an hingga pertunjukan seni dan musik. Penampilan tersebut menjadi simbol regenerasi sekaligus harapan keberlanjutan organisasi keluarga ini.
Ketua Panitia, Ayik, dalam kesempatan itu melemparkan gagasan baru agar Halal Bihalal IKBAH ke depan dapat diselenggarakan di luar Kota Surabaya guna memperluas jangkauan kebersamaan antar anggota keluarga yang kian tersebar.
Salah satu sesi penting adalah tausiyah yang disampaikan Drs. Ahmad Mukarom, M.Hum., dosen UIN Sunan Ampel (UINSA) Surabaya dan anggota Majelis Tarjih PW Muhammadiyah Jawa Timur. Ia menegaskan bahwa halal bihalal merupakan tradisi khas Indonesia yang tidak dikenal dalam khazanah Arab, namun memiliki makna mendalam sebagai sarana saling memaafkan.
“Puasa Ramadhan tidak serta-merta menghapus seluruh dosa. Ada dosa yang harus diselesaikan dengan sesama manusia. Di sinilah halal bihalal menjadi momentum penting untuk saling memaafkan,” ujarnya.
Menurut Ahmad, manusia memiliki dua potensi dalam dirinya, yakni potensi keburukan (fujur) dan ketakwaan. Momentum Ramadhan dan halal bihalal menjadi sarana untuk kembali pada fitrah kesucian.
Hal baru dalam pelaksanaan tahun ini adalah sesi talkshow yang menghadirkan perwakilan dari masing-masing garis keturunan atau “kabilah”. Diskusi yang dipandu langsung oleh Ketua IKBAH Adil Mastjik ini menjadi ruang berbagi gagasan demi pengembangan organisasi ke depan.
Sejumlah gagasan strategis mengemuka, mulai dari pembentukan dana abadi berbasis produktif, penguatan program pendidikan bagi anggota keluarga yang membutuhkan, hingga inovasi kegiatan agar antar anggota semakin saling mengenal.
Ahmad Fauzi, salah satu anggota keluarga dari kabilah Bani Ridwan, mengungkapkan bahwa IKBAH berawal dari kegiatan arisan keluarga ketika jumlah anggota masih sedikit. Kini, jumlah keturunan telah berkembang menjadi lebih dari 500 jiwa.

“Harapannya, IKBAH terus berkembang dan membawa keberkahan bagi seluruh anggota keluarga,” ujarnya.
Usulan lain datang dari anggota keluarga yang mendorong penguatan dana pendidikan internal serta perlunya regenerasi kepemimpinan agar generasi muda turut mengambil peran aktif.
Menutup rangkaian talkshow, Adil Mastjik menyerahkan bukunya berjudul “Dakwah, Pendidikan dan Indonesia Emas 2045: Tiga Puluh Kajian Tentang Persoalan Keseharian” sebagai simbol kontribusi pemikiran bagi keluarga dan masyarakat luas.
Acara kemudian ditutup dengan kembali menampilkan bakat generasi muda IKBAH, mempertegas bahwa semangat kebersamaan tidak hanya dirawat, tetapi juga diwariskan.
Sebagai informasi, IKBAH merupakan wadah silaturahmi seluruh keturunan pasangan Abdul Hamid dan Rukhayah yang memiliki sembilan anak, yakni M. Yahya, M. Ridwan, Abd. Wachid, Abd. Aziz, Nur Endah, Khodidjah, Maimunah, Abdul Syukur, dan Noor Aini. Tradisi Halal Bihalal ini menjadi perekat yang menjaga hubungan kekeluargaan tetap erat di tengah perkembangan zaman.(*)
Kontributor: Tommy
Editor: Abdel Rafi



