
SURABAYA, CAKRAWARTA.com – Konflik dalam keluarga yang berujung perceraian masih menjadi persoalan sosial yang berdampak luas terhadap perkembangan anak. Data Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) menunjukkan sekitar 4,79 persen keluarga di Indonesia mengalami konflik cerai hidup, kondisi yang turut memicu meningkatnya fenomena keluarga tidak harmonis atau broken home.
Pakar Psikologi Universitas Airlangga (UNAIR), Atika Dian Ariana, mengatakan kondisi tersebut dapat berdampak langsung pada kesehatan mental anak jika tidak ditangani secara tepat.
Menurut Atika, dalam perspektif psikologi, broken home terjadi ketika keluarga tidak lagi menjalankan fungsi secara optimal akibat konflik yang berkepanjangan. “Ketika konflik dalam keluarga sangat tinggi, keluarga tidak lagi berfungsi secara harmonis. Dampaknya bisa dirasakan oleh semua anggota keluarga, terutama anak,” ujar Atika di Surabaya, Senin (16/3/2026).
Ia menjelaskan bahwa anak yang tumbuh di lingkungan keluarga yang penuh konflik rentan mengalami tekanan emosional karena mereka berada di tengah situasi yang sulit dipahami.
Atika menuturkan, salah satu tanda yang sering muncul pada anak yang mengalami disfungsi keluarga adalah perubahan perilaku yang cukup signifikan dalam kehidupan sehari-hari.
Anak cenderung menarik diri dari lingkungan sosial karena menurunnya rasa percaya diri. Mereka juga dapat mengalami penurunan prestasi akademik serta perubahan emosi, seperti mudah marah, cemas, atau merasa takut secara berlebihan.
“Anak bisa mengalami krisis kepercayaan karena figur yang seharusnya menjadi sumber rasa aman justru terlibat dalam konflik,” kata Atika.
Dalam kondisi tertentu, anak bahkan memerlukan bantuan profesional seperti psikolog, konselor, atau psikiater. Hal itu diperlukan terutama ketika perubahan perilaku anak semakin memburuk atau ketika keluarga tidak mampu menyediakan dukungan emosional yang sehat.
“Apalagi jika di dalam keluarga terdapat unsur kekerasan. Anak perlu ditempatkan di lingkungan yang lebih aman serta mendapatkan pendampingan dari tenaga profesional,” ujarnya.
Peran Orang Tua Tetap Penting
Atika menegaskan, peran orang tua tetap sangat penting dalam menjaga kesehatan mental anak, bahkan ketika keluarga sedang menghadapi konflik.
Lingkungan keluarga yang tidak kondusif, komunikasi yang buruk, serta kurangnya keterlibatan orang tua dalam kehidupan anak dapat memperburuk kondisi psikologis mereka.
Namun demikian, tidak semua anak dari keluarga yang mengalami konflik akan mengalami gangguan kesehatan mental. “Jika orang tua tetap menjalankan perannya dengan baik, anak masih dapat tumbuh dengan sehat secara psikologis,” kata Atika.
Ia menilai komunikasi yang terbuka dapat menjadi sarana bagi anak untuk mengekspresikan perasaan mereka. Pendampingan yang konsisten juga membantu anak merasa tetap dihargai dan tidak terasingkan.
Pendekatan kepada anak juga perlu disesuaikan dengan tingkat usia dan kematangan emosional mereka. Anak yang lebih kecil memerlukan pendampingan yang lebih intensif, sedangkan anak yang lebih dewasa dapat didampingi melalui dialog yang terbuka.
Di akhir penjelasannya, Atika mengingatkan bahwa anak tidak seharusnya menjadi pihak yang menanggung beban konflik orang dewasa. “Konflik terjadi di antara orang dewasa. Anak bukan penyebabnya. Karena itu mereka perlu tetap didukung untuk fokus pada masa depan dan cita-cita mereka,” ujarnya.(*)
Kontributor: Khefti
Editor: Abdel Rafi



