
SURABAYA, CAKRAWARTA.com – Ibadah puasa selama Ramadan tidak hanya berdimensi spiritual, tetapi juga memiliki manfaat psikologis yang berkaitan dengan kesehatan mental dan stabilitas emosi. Di tengah tekanan pekerjaan, tuntutan akademik, dan derasnya arus media sosial, puasa dapat menjadi momentum bagi individu untuk mengatur diri dan memperkuat ketahanan mental.
Psikolog klinis sekaligus dosen Psikologi Universitas Airlangga (UNAIR), Dian Kartika Amelia Arbi, menjelaskan bahwa puasa memicu perubahan biologis yang berdampak pada kondisi psikologis seseorang. Salah satu efeknya adalah peningkatan hormon endorfin yang berperan dalam menciptakan rasa tenang dan membantu menurunkan stres.
“Puasa berhubungan dengan perubahan hormon dalam tubuh, termasuk hormon yang memengaruhi suasana hati. Ini dapat membantu individu merasa lebih tenang dan stabil secara emosional,” ujarnya, Senin (23/2/2026).
Menurut Dian, inti dari puasa terletak pada latihan pengendalian diri atau self-control. Kemampuan ini menjadi fondasi penting dalam menjaga kesehatan mental karena individu belajar mengenali, mengendalikan, dan mengelola dorongan emosinya.
“Pada dasarnya puasa merupakan latihan untuk meningkatkan kontrol diri. Individu dilatih menahan diri dari dorongan yang berlebihan. Jika dilakukan secara konsisten, hal ini dapat memperkuat kemampuan mengelola emosi,” katanya.
Kemampuan mengendalikan diri tersebut, lanjut dia, sangat relevan di tengah kehidupan modern yang penuh tekanan. Penguatan kontrol diri membantu individu menghadapi stres, kecemasan, dan tekanan sosial secara lebih adaptif.
Meski demikian, Dian menegaskan bahwa puasa bukanlah metode utama dalam terapi gangguan psikologis. Hingga saat ini, belum terdapat bukti ilmiah yang menempatkan puasa sebagai intervensi klinis utama. Namun, puasa dapat berperan sebagai faktor pendukung dalam menjaga kesehatan mental secara menyeluruh.
Puasa yang dijalankan dengan baik, menurut dia, tidak hanya berdampak pada kesehatan fisik, tetapi juga membantu membangun keseimbangan emosional melalui penguatan kontrol diri dan stabilitas suasana hati.
Ia menambahkan, latihan pengendalian diri selama Ramadan dapat menjadi bekal penting bagi individu, terutama mahasiswa dan kelompok usia produktif, untuk menghadapi berbagai tantangan kehidupan dengan lebih tenang dan adaptif.
“Puasa memberi ruang bagi individu untuk melatih kesadaran diri dan pengendalian emosi. Ini menjadi fondasi penting bagi kesehatan mental yang lebih baik,” ujarnya.(*)
Kontributor: Khefti
Editor: Abdel Rafi



